Blind Sonar Buat Tunanetra

Selain peta taktual, ada lagi blind sonar sebagai alat bantu berjalan bagi penyandang tunanetra. Blind sonar ini dikembangkan oleh empat mahasiswa Jurusan Teknik Elektro UGM. Ke lima mahasiswa tersebut, yaitu Apri Setiawan, Indra Darmawan Budi, Sugiarto, dan Anam Bahrul Ulum.N.

Alat yang dikembangkan ini cukup sederhana, lebih ramping dibandingkan tongkat, serta praktis. Menurut Apri prinsip kerja blind sonar ini adalah membantu penyandang tunanetra dalam beraktifitas khususnya ketika berjalan.

“Prinsipnya membantu berjalan karena alat ini dilengkapi sensor. Sensor akan bergetar ketika dekat dengan barang atau orang dalam jarak sekitar satu meter,”kata Apri.

Alat yang dikembangkan melalui Program Kreatifitas Mahasiswa untuk bidang pengabdian masyarakat ini lebih safety dibandingkan tongkat yang biasa digunakan penyandang tunanetra. Selain itu alat ini bisa pula didesain dalam bentuk yang lebih sederhana seperti bentuk handphone.

“Tidak ribet mas. Ke depan pengembangannya bisa lebih sederhana dan praktis seperti handphone misalnya,”urai mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2008 itu.

Blind sonar ini, kata Apri, terdiri dari beberapa elemen seperti sensor ultrasonik, baterai, mikroprosesor, motor getar, dan alat charger baterai. Alat yang ditaksir menelan biaya sekitar dua juta ini jika diproduksi massal bisa ditekan dengan harga yang lebih terjangkau.

Seperti halnya peta taktual, blind sonar juga telah diujicobakan dengan beberapa penyandang tunanetra yang tergabung di Yayasan Mardi Wuto RS Mata dr. Yap. Mereka juga mengaku terbantu dengan adanya blind sonar itu (Humas UGM/Satria AN)

Sumber