Rusia Investasikan 2,5 M Dolar ke Indonesia

Dolar (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa menyatakan, ada kerja sama Indonesia-Rusia yang bisa segera dilaksanakan. Kerjasama itu meliputi bidang perhubungan, hilirisasi industri mineral, dan keamanan pangan yang akan mampu menarik investasi Rusia tidak kurang dari lima miliar dolar AS.

Hal itu dikemukakan Hatta dalam Sidang Komisi Bersama yang dihelat di Moskow, Rusia. Koordinator Fungsi Penerangan KBRI Moskow, M. Aji Surya mengatakan, Hatta memimpin sidang bersama Deputi Perdana Menteri Rusia, Dmitry Rogozin. Hadir pula mendampingi keduanya, Dubes Indonesia untuk Rusia, Djauhari Oratmangun, Dubes Rusia untuk Indonesia, Alexander Ivanov serta para pejabat yang terkait lainnya.

Hatta menyatakan, kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan tentang berbagai proyek yang bernilai ekonomi sangat tinggi. Rusia misalnya, akan merealisasikan investasinya di jaringan kereta api di Kalimantan Timur senilai 2,5 miliar dolar AS.

Diharapkan pada 2012 proyek akbar ini sudah mulai digarap dan dua tahun kemudian mulai dibangun. Rusia juga diharapkan dapat investasi perkeretaapian di wilayah Indonesia lain, seperti Sulawesi dan Sumatera.

Selain itu, peluang penerbangan langsung reguler mendapat perhatian luas dari peserta Komisi Bersama VIII, mengingat Air Service Agreement yang menjadi payung penerbangan langsung reguler telah ditandatangani pada 2010, namun belum ada realisasinya hingga kini. Penerbangan langsung diharapkan akan mendorong peningkatan wisatawan Rusia ke Indonesia, dan sebaliknya. Serta membuka peluang besar bagi peningkatan perdagangan yang dipatok pada angka lima miliar dolar AS pada 2015 mendatang. Wisatawan Rusia yang berkunjung ke Indonesia tahun lalu mencapai 89 ribu orang.

Khusus dalam keamanan pangan, Indonesia-Rusia sepakat untuk saling mengisi dalam soal pengadaan pangan. Indonesia berjanji untuk terus membeli gandum Rusia untuk kebutuhan pangannya serta siap menanamkan modalnya untuk pembangunan pabrik mie instan di negeri bekas komunis tersebut.

Diharapkan dengan kegiatan ini maka dapat dikurangi perdagangan melalui pihak ketiga yang membawa konsekuensi kenaikan harga. “Saya berharap, nilai (kerja sama secepatnya itu,red) tersebut akan bernilai lebih dari lima miliar dolar AS. Suatu jumlah yang lumayan dalam mendongkrak kerja sama ekonomi,” ujar Hatta.

Besan Presiden SBY itu melanjutkan, “Kita juga akan mendorong lebih banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di Rusia dan mahasiswa Rusia pergi juga ke Indonesia. Saat ini, hanya sekitar 115 mahasiswa Rusia di Indonesia dan juga sebaliknya.”

Deputi PM Rusia, Rogozin dikesempatan yang sama menyatakan, angka lima miliar dolar AS sebagai target volume perdagangan pada 2015, bukanlah angka yang lumayan dalam tahap awal dan mudah dicapai. Melihat potensi yang ada, katanya, masih sangat mungkin ditingkatkan lebih banyak.

“Indonesia dan Rusia adalah dua negara besar. Penduduk Indonesia dua kali lipat dari Rusia, sementara wilayah Rusia jauh lebih besar dari Indonesia. Kita memiliki potensi maju bersama,” ujar Rogozin di depan para wartawan.
Redaktur: Karta Raharja Ucu

Sumber