Liang Bua

Tempat Tinggal Manusia “Cebol”

WartaNews, Flores – Liang Bua di Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, merupakan sebuah lubang raksasa, yang terbentuk di bukit berkapur di ketinggian 557 mdpl di Dusun Rampassa.

Ini sebuah gua kuno yang menjadi tempat tinggal manusia purba yang hidup pada 94.000 tahun silam.

Gua itu merupakan cekungan berukuran besar, dengan mulut selebar lebih dari 15 meter, dan kedalaman sekitar tujuh meter. Langit-langit berupa batu dengan ujung menggelantung.

“Ini tempat asal-usul nenek moyang manusia zaman dulu,” kata Lorens Hena (35), warga di Desa Liang Bua.

Masyarakat setempat meyakini, manusia purba itu berukuran pendek, setinggi sekitar 80 sampai 100 cm. Penampilan mendekati bentuk monyet, tetapi sudah punya kemampuan berburu. Mereka makan binatang, seperti tikus atau kelelawar.

Lorens Hena termasuk salah satu warga yang diajak para peneliti arkeologi untuk menggali fosil manusia purba di dalam gua tersebut sejak awal tahun 2000-an.

Menurut catatan arkeologi, salah satu fosil manusia purba yang pernah ditemukan di situ disebut Homo floresiensis yang hidup sekitar 94.000 tahun lalu. Karena ukuran tubuh kecil, mereka juga kerap dinamakan manusia hobbit (kate).

Sebelum digali untuk penelitian, gua besar ini pernah dipakai untuk tempat sekolah, yaitu sekitar tahun 1960-an sampai 1970-an. Sekolah Rakyat, tempat anak-anak kampung belajar.

“Kadang, gua ini dulu juga dipakai untuk upacara adat dan persembahan sesaji untuk leluhur,” kata Lorens Hena.

Sinar matahari menerobos dari celah dedaunan. Udara di goa yang dikenal sebagai Liang Bua itu terasa sejuk dan tidak terlalu lembab.

Memasuki Liang Bua itu, tubuh terasa sejuk dan nyaman. Pantas saja, mulai manusia purba hingga manusia modern bergantian menempati goa ini.

Pada tahun 2003, arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) bekerja sama dengan peneliti dari Australia menemukan kerangka manusia kerdil yang menghebohkan, yaitu kerangka perempuan setinggi 100 cm.

Usia kerangka itu diperkirakan sekitar 10.000 tahun. Para arkeolog menamai kerangka itu sebagai Homo floresiensis.

Jatmiko, arkeolog Arkenas, yang ditemui Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas di Flores mengatakan, selain temuan tengkorak manusia purba, di Liang Bua juga ditemukan kerangka stegodon (gajah purba), tikus besar, hingga burung raksasa. (*/nok)

Sumber