Operator Penerbangan Banyak yang Belum Punya Dokter Penerbangan

ilustrasi (foto: Thinkstock)

Jakarta, Pilot adalah profesi yang memiliki tanggung jawab besar dalam dunia penerbangan. Oleh karena itu, kesehatan pilot harus dijaga dengan baik untuk memastikan penerbangan berjalan dengan lancar.

Masalahnya, tidak semua operator penerbangan menyediakan dokter spesialis kesehatan penerbangan. Dokter penerbangan bertugas memastikan para pilot terhindar dari kebiasan buruk yang merusak seperti penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang serta stres yang berisiko mengganggu kondisi kejiwaan.

Tak hanya itu, dokter penerbang juga bertugas mengamati faktor risiko yang ada di lingkungan pilot. Tujuannya untuk meminimalkan hal yang menjurus pada kecelakaan. Dokter penerbangan juga dimaksudkan mengkampanyekan safety culture agar para pilot sadar akan kesehatannya.

“Dokter penerbangan bertugas memeriksa kesehatan penerbang secara menyeluruh. Tak hanya penerbangnya saja, tapi juga keluarganya juga untuk mengetahui potensi stres yang dapat mengganggu kesehatan. Sayangnya, operator penerbangan di Indonesia masih banyak yg belum menerapkan ini,” kata dr Soemardoko, SpM, SpKP, ketua umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Penerbangan Indonesia (Perdospi) dalam acara diskusi Flight Safety : Human Factor in Aviation di Lakespra Saryanto, Jakarta, Selasa (5/4/2012).

Di luar negeri, semua operator penerbangan sudah menyertakan dokter penerbangan dalam kerja-kerja operasionalnya. Di Indonesia belum ada aturan yang mengatur dengan jelas akan hal ini. Saat ini, maskapai penerbangan yang telah bekerja sama dengan Perdospi baru Garuda Indonesia, Pelita Air dan Merpati. Perdospi sendiri lahir pada tahun 1999 dan masih merupakan asosiasi yang tergolong baru di Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Fungsi dokter penerbang ini makin penting bagi para pilot yang telah berusia paruh baya ke atas. Pasalnya, penerbang yang berusia paruh baya mulai banyak yang mengidap gangguan akibat penyakit degeneratif seperti diabetes, kolesterol ataupun cepat lelah. Padahal, syarat kesehatan untuk dapat menerbangkan pesawat tetap sama seperti waktu para penerbang ini masih muda.

“Dokter penerbangan harus memastikan penerbang tetap bisa terbang meskipun sudah memiliki penyakit seperti diabetes. Berbagai faktor risiko yang ada dikelola agar penerbang masih layak terbang,” kata dr Soemardoko.

Menurut dr Soemardoko, dengan adanya AFTA akan membuka kesempatan besar bagi dokter-dokter penerbangan dari luar negeri untuk menangani operator penerbangan di tanah air. Sebelum ini terjadi, ada baiknya Indonesia mulai menyiapkan dokter-dokter dalam negeri untuk mengisi posisi ini.

Perdospi sendiri saat ini memiliki sekitar 20-an dokter penerbangan. Pada tahun ini jumlahnya kan bertambah lagi dengan meluluskan 34 orang dokter penerbangan yang baru. Sebagian besar dokter ini berafiliasi dengan TNI. (pah/ir)

Sumber