Kenapa Dokter Indonesia Kurang Terkenal di Dunia Internasional?

ilustrasi (foto: Thinkstock)

Jakarta, Produktivitas dan semangat meneliti seorang dokter bisa dilihat dari banyaknya artikel yang dimuat di jurnal, terutama jurnal internasional. Jurnal merupakan media tempat para peneliti membeberkan hasil penelitiannya agar dapat menambah wawasan peneliti lain. Semakin terkenal jurnal yang memuat penelitian, maka semakin besar pula nama penelitinya.

Dimuat di jurnal internasional adalah tolok ukur sederhana untuk melihat kemampuan penelitian seseorang. Jika melihat kenyataan di Indonesia, maka orang akan mudah menyimpulkan bahwa penelitian di Indonesia jauh tertinggal. Di negara-negara maju, artikel penelitian dalam jurnal internasional banyak yang tersedia secara online dan dengan mudah diakses banyak orang.

Sebagai perbandingan, jumlah penelitian dari National University of Singapore (NUS) yang dimuat jurnal internasional ada sebanyak 41.227 judul. Sedangkan jumlah penelitian internasional dari Universitas Indonesia (UI) yang dimuat jurnal internasional hanya 1.124 judul. Angka ini merupakan yang terbesar di Indonesia, disusul oleh ITB sebanyak 1.100 judul, UGM 690 judul dan IPB 512 judul.

“Sebenarnya jumlah penelitian kedokteran yang dilakukan di Indonesia cukup banyak. Setiap universitas juga memiliki jurnal penelitian masing-masing. Tapi kebanyakan peneliti di Indonesia nampaknya kurang memiliki budaya tulis yang kuat. Mereka sudah cukup puas jika menemukan hasil yang memuaskan namun tidak berupaya menghimpunnya dalam bentuk artikel untuk dimuat di jurnal,” kata dr Ponco Buwono, SpU, PhD, manager riset Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dalam acara Pagelaran Penelitian Terbaik FKUI 2012 di auditorium FKUI Jakarta, Jumat (27/4/2012).

Menurut dr Ponco, penelitian yang dilakukan mahasiswa kedokteran maupun dokter di Indonesia cukup bagus dan aplikatif, sebab menyinggung permasalahan kesehatan lokal yang sering dihadapi di Indonesia. Namun diakui, inisiatif dokter untuk mempublikasikan karyanya masih rendah dibandingkan negara-negara maju.

Dr Ponco juga menuturkan, jurnal-jurnal internasional sering meremehkan peneliti-peneliti dari negara berkembang. Jurnal internasional biasanya baru mau memuat artikel yang menyertakan nama seorang peneliti internasional sebagai salah satu penelitinya. Akibatnya, untuk dapat dimuat jurnal internasional, para peneliti di Indonesia banyak yang menggandeng peneliti internasional tersebut.

“Penelitian dari kampus kita yang bagus terkadang kurang dipercaya oleh dunia internasional. Penyebabnya karena tidak ada nama profesor terkenal yang disertakan dalam penelitian,” kata dr Ponco.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memupuk budaya meneliti dan menulis mulai dari kampus. Untuk itu, FKUI menyelenggarakan Pagelaran Penelitian Terbaik FKUI 2012. Dalam acara ini, FKUI memberikan penghargaan kepada peneliti yang hasil penelitiannya banyak dimuat di jurnal, baik nasional maupun internasional. Tujuannya agar para peneliti muda dan peneliti lain di FKUI dapat mengetahui seperti apakah penelitian yang baik.

Dalam acara ini, FKUI memberikan penganugerahan peneliti terbaik kepada 5 orang peneliti, yaitu:
1. DR Dra Taniawati Supali dari departemen parasitologi
2. Drs Dwi Ari Pujianto dari departemen biologi
3. dr Siti Setiati dari departemen penyakit dalam
4. dr Murdani Abdullah dari departemen penyakit dalam
5. dr Chaidil Muhtar dari departemen bedah (pah/ir)

Sumber