Hal-hal yang Sering Disembunyikan Dokter dari Pasien

ilustrasi (foto: Thinkstock)

Jakarta, Dokter adalah sebuah profesi mulia sebab berusaha menyelamatkan nyawa dan menyembuhkan banyak orang. Di satu sisi, dokter merupakan profesi yang menggiurkan karena permintaan terhadap tenaga medis selalu ada sepanjang waktu. Tak heran, banyak kasus ditemui dokter-dokter yang melakukan tindak malpraktik.

Salah satu contoh kasus besar terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1998. Pengadilan menjatuhkan vonis bersalah kepada seorang dokter gadungan bernama Edwin E. Kokes. Dokter palsu ini bahkan telah memiliki ratusan ribu pasien di seluruh dunia, mengobati penyakit dan melakukan jual beli obat tanpa izin sejak tahun 1989.

Terlepas dari keabsahan hukumnya, Kokes berhasil meyakinkan orang bahwa ia telah menyembuhkan ribuan pasien AIDS dan kanker. Dia juga mendorong orang untuk membeli ramuan buatannya. Ini menunjukkan bahwa begitu besarnya tingkat kepercayaan pasien kepada dokter.

Meskipun demikian, dokter sebenarnya juga memiliki beberapa hal yang dianggap tidak perlu diceritakan kepada pasien. Seperti dilansir abcnews, Rabu (2/4/2012), berikut adalah beberapa hal yang sering disembunyikan dokter kepada pasiennya.

Melakukan Pemeriksaan yang Tidak Diperlukan

Para dokter terkadang melakukan pemeriksaan yang tidak diperlukan. Sebuah penelitian yang dilakukan untuk mengawasi prosedur kedokteran di Amerika Serikat menemukan bahwa pemeriksaan usus besar yang dilakukan setelah pengangkatan polip 50% tidak diperlukan, namun beberapa dokter masih menjalankan praktik ini.

“Ketika dokter membuat rekomendasi yang tampaknya agresif, tanyakan mengapa dan apakah sudah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan,” kata Dr Pauline Mysliwiec, penulis penelitian mengenai prosedur kedokteran tersebut.

Tidak Menjelaskan Biaya yang Harus Dikeluarkan Pasien

Sebuah penelitian yang dimuat Journal of American Medical Association menunjukkan bahwa sebanyak 79% dokter berpendapat bahwa sangat penting untuk memberitahu pasien mengenai biaya pengobatan yang akan dihabiskan, namun hanya 35% yang benar-benar melakukannya.

“Kebanyakan alasannya adalah karena banyak dokter yang mengaku diburu waktu dan tidak tahu berapa persisnya biaya yang akan dikeluarkan oleh pasien,” kata peneliti, dr G. Caleb Alexander.

Sebaiknya, dr Alexander menyarankan agar pasien mengatakan kepada dokter berapa banyak anggaran yang dimiliki. Jika pasien menyebutkan anggaran yang dimiliki, kebanyakan dokter akan berupaya menekan anggaran agar dapat sesuai dengan kemampuan pasien.

Langsung Meresepkan Obat Tanpa Banyak Memeriksa

“40% pasien yang mengalami pilek dan menemui dokter akan diberi antibiotik. Dokter bisa menghabiskan waktu 15 menit menjelaskan mengapa pasien tidak perlu obat atau hanya membutuhkan waktu 1 menit saja untuk menulis resep,” kata Dr Howard Brody, direktur Center for Ethics and Humanities in the Life Sciences at Michigan State University.

Beritahu dokter jika pasien berharap penyakitnya tidak begitu serius sehingga perlu mendapat pengobatan berat. Hal ini memungkinkan dokter tahu bahwa pasien tidak hanya membutuhkan pil dan akan membahas perawatan lain

Peneliti Denmark baru-baru ini menemukan bahwa dokter yang memberikan tes untuk pasien sinusitis memberikan antibiotik 20% lebih sedikit dari rekan-rekannya yang tidak melakukan pemerksaan kesehatan.

Berfokus Pada Penyembuhan Penyakit, Bukan Pencegahan

Sebuah penelitian yang diterbitkan di American Journal of Clinical Nutrition menemukan bahwa hanya 1 dari 6 dokter yang mengajarkan pasiennya mengenai pentingnya nutrisi untuk mencegah penyakit, dan hanya 28% dokter yang menganjurkan olahraga.

“Kami cenderung lebih berorientasi memberikan obat karena sesuai dengan pelatihan kedokteran kami,” kata Dr Mark Houston, penulis buku ‘What Your Doctor May Not Tell You about Hypertension’.

Jika dokter tidak bisa memberikan saran mengenai nutrisi atau olahraga, biasanya dia tahu seseorang yang bisa melakukannya. Banyak dokter umum bekerja sama dengan ahli gizi dan trainer untuk membantu pasien mengobati masalah kesehatan yang dipengaruhi oleh gaya hidup. Cobalah minta rujukan.

Menganjurkan Pasien Mengikuti Uji Coba Obat

Di Amerika Serikat, dokter bisa menghasilkan uang 5.000 US$ atau sekitar Rp 45,8 juta untuk setiap pasien yang direkrut dalam percobaan klinis. Pasien yang ikut uji coba klinis ini biasanya dijanjikan akan mendapat umpan balik yang bermanfaat.

“Obat sedang diuji karena kita tidak tahu bagaimana cara kerjanya,” kata Dr Steven Joffe, peneliti di Dana Farber Cancer Institute.

Cobalah meminta dokter untuk menjelaskan manfaat obat yang sudah terbukti selain potensi yang akan diuji coba. Berikutnya, cari tahu lebih banyak mengenai penelitian yang dimaksud. Hubungi penyelenggara percobaan dan tanyakan apakah organisasi menawarkan insentif kepada dokter. Jika iya, katakan kepada dokter dan tanyakan apakah rekomendasi obatnya benar-benar bagus.

Tidak Menawarkan Obat Lain yang Lebih Murah

Obat dengan merek terkenal dibanderol seharga $ 1,50 atau sekitar Rp 13.800 rupiah dan harga obat generik dengan efektivitas yang sama seharga 5 sen atau sekitar Rp 500, namun masih ada dokter yang meresepkan obat yang lebih mahal. Obat generik dengan harga yang lebih murah memiliki potensi dan bahan aktif yang sama dengan obat merek.

“Kebanyakan dokter tidak memberikan resep obat generik karena ada imbalan yang bisa didapat dari industri farmasi. Perusahaan obat menjamu dokter dengan makan malam mahal atau diberi imbalan dengan alasan upah mengajar. Undang-undang Federal melarang perusahaan memberikan kompensasi secara terang-terangan kepada dokter, tetapi ada celah,” kata Evan Levine, MD, penulis buku ‘What Your Doctor Won’t (or Can’t) Tell You’.

Selalu Menyarankan Pembedahan

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa operasi seringkali bukanlah pilihan terbaik. Penelitian yang dilakukan Baylor College of Medicine menunjukkan bahwa nyeri lutut kronis tidak membaik setelah operasi. Penelitian lain menemukan bahwa menunggu dan melihat strategi penanganan hernia sama efektifnya dengan menjalani operasi bedah.

“Anda harus selalu bertanya apakah ada alternatif untuk operasi, termasuk menunggu perkembangan dengan tidak melakukan apa-apa. Para dokter ini mengambil pendekatan yang lebih holistik dan akrab dengan pemahaman baru yang mendukung strategi berbeda. Jika dokter masih senang memilih untuk mengobati lewat pisau bedah, ada baiknya cari pendapat kedua dari dokter lain,” kata Dr Houston. (pah/ir)

Sumber