8 Tipe Dokter yang Harus Anda Waspadai

(Foto: Thinkstock)

Jakarta, Apa bedanya scan PET dan CAT? Apa bedanya antibiotik dan antidepresan? Sebagai orang awam, tentu Anda menyerahkan hal-hal semacam itu kepada profesional seperti dokter maupun farmasis.

Faktanya, 70 persen orang Amerika Serikat mengaku pasrah dan percaya begitu saja pada dokter pribadinya, bahkan orang-orang Amerika cenderung tidak menelaah saran dokternya atau mencari pendapat kedua.

Namun studi ini mengungkapkan bahwa ternyata Anda cukup pintar untuk menutup mata terhadap perawatan kesehatan Anda sendiri. Kini para dokter pun membebankan banyak hal pada pasien-pasiennya.

Rata-rata keluarga di AS menjumpai dokternya 20 kali sehari yang bisa mendorong adanya kunjungan yang tergesa-gesa dan kesalahan dokter yang tidak disengaja. Bahkan para dokter bisa saja bertanggung jawab terhadap perilaku kesehatan Anda yang buruk.

Oleh karena itu, Anda tak boleh berdiam diri saja. Untuk melindungi diri Anda sendiri, simak 7 tipe dokter yang harus Anda waspadai seperti dilansir dari MSNBC, Senin (4/6/2012) di bawah ini.

1. Dokter yang Suka Bikin Resep Panjang-Panjang

17 menit merupakan waktu rata-rata yang diperlukan dokter untuk mendengarkan keluhan Anda, mendiagnosis dan menuliskan resep obat untuk pasiennya. Jadi tidak mengherankan jika ada sejumlah dokter ‘nakal’ yang memanfaatkan resep obat untuk mendapatkan keuntungan.

Faktanya, dalam kurun waktu 1999-2009, jumlah resep yang ditulis dokter meningkat sebesar 39 persen padahal mungkin obat-obatan yang diresepkan tidak begitu diperlukan oleh pasien. Menurut data dari American Journal of Public Health, jumlah resep pil tidur telah meningkat 21 kali lebih cepat daripada jumlah keluhan kurang tidur yang dialami pasien.

Daripada begitu, lebih baik carilah sendiri beberapa metode untuk membantu Anda tidur lebih baik. Sayangnya, banyak pasien yang memilih untuk meminta resep pada dokter daripada mencari alternatif lewat internet, misalnya.

Cara mengatasinya: Sebelum mengonsumsi obat apapun, sebaiknya Anda tanyakan 3 hal ini kepada dokter Anda: Adakah alternatif selain obat yang bisa saya pakai dulu? Mengapa Anda memilih obat ini dibanding lainnya? Apa pro dan kontra menggunakan obat ini?

Jika dokter Anda mengabaikan ketiga pertanyaan di atas, itu saatnya Anda mencari dokter baru. Cek pula kemungkinan dokter pribadi Anda telah menerima suap dari sebuah perusahaan farmasi untuk memasok obat-obatan tertentu.

2. Dokter yang Kurang Tidur

Sebelum terbang, seorang pilot saja diharuskan untuk tidur sedikitnya 10 jam namun tidak ada pengaturan semacam ini bagi dokter yang juga bertanggung jawab terhadap beberapa nyawa di tangannya, bahkan seringkali mendapatkan giliran jaga selama 24 jam.

Padahal dokter yang kurang tidur memiliki dampak yang menakutkan. Misalnya seorang dokter bedah yang tidurnya kurang dari 6 jam di malam hari sebelum melakukan sebuah prosedur operasi akan menghadapi komplikasi pada operasinya dua kali lipat lebih banyak daripada rekan-rekannya yang beristirahat dengan cukup. Hal ini diungkapkan dalam Journal of the American Medical Association.

Dokter umum juga berisiko: dokumen yang harus ditangani oleh dokter dengan jumlah pasien yang besar akan membuatnya terus terjaga atau terlambat tidur dan berpotensi mengaburkan penilaian atau diagnosisnya keesokan harinya, ujar Charles Christopher Landrigan, M.D., direktur Sleep and Patient Safety Program, Brigham and Women’s Hospital di Boston.

Cara mengatasinya: “Pasien berhak menanyakan kepada dokter apakah ia mendapatkan tidur yang cukup, terutama sebelum melakukan operasi,” kata Landrigan. Ketika Anda akan menjalani operasi, tanyakan tentang jadwal dokter Anda dan pilih tanggal operasi yang berjauhan dengan giliran jaga panjangnya dimulai.

Kalau tidak, Anda juga bisa meminta operasi dilaksanakan pada pagi hari sebelum sang dokter kelelahan menangani pasien seharian penuh. Begitu juga bila Anda mendadak masuk UGD dan dokter Anda sangat sibuk, mintalah dokter lainnya untuk melihat kondisi Anda.

3. Dokter yang Berat Sebelah atau Tidak Netral

Sama halnya dengan orang-orang pada umumnya, seorang dokter juga bisa menghakimi sesuatu. Masalahnya, prasangka seorang dokter bisa mempengaruhi kesehatan Anda. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam The Journal of Law, Medicine & Ethics menemukan bahwa wanita yang memiliki gejala-gejala yang sama dengan pria cenderung tidak mendapatkan perawatan yang tepat karena dokternya biasanya berasumsi bahwa pasiennya melebih-lebihkan keluhan sakitnya.

Cara mengatasinya: Semua dokter seharusnya melihat dulu kondisi pasien dan mengesampingkan prasangkanya, ujar Richard Klein, M.D., penulis buku Surviving Your Doctors: Why the Medical System Is Dangerous to Your Health and How to Get Through It Alive.

Jika dokter menawab pertanyaan Anda dengan pernyataan-pernyataan umum misal “Oh, normal bagi wanita untuk merasa terlalu emosional” maka carilah dokter baru, tambah Klein.

Namun jika Anda merasa kurang beruntung dengan dokter pria, cobalah memakai jasa dokter wanita. Dokter wanita cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dengan pasien hingga membangun hubungan kemitraan yang baik dengan pasien.

“Dokter wanita mungkin bisa mengenal pasien lebih baik sehingga dapat mengurangi sikapnya yang berat sebelah,” kata Debra Roter, D.P.H. dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health.

4. Dokter Genit

Hubungan romantis antara dokter dan pasien merupakan hal yang sangat dilarang dalam dunia medis. Meski begitu, beberapa dokter akan menggunakan kekuatannya untuk melakukan hal-hal semacam itu (seperti halnya dilaporkan pada bulan Maret 2012, seorang dokter bedah dari Pennsylvania didenda 5.000 US dollar dan ijin praktiknya dicabut setelah tidur dengan salah seorang pasiennya).

Untuk memberikan perawatan yang terbaik, seorang dokter harus obyektif. Lagipula, “pasien harus merasa nyaman agar bisa jujur kepada dokternya, terutama tentang gejala-gejala yang menurutnya tak menarik padahal bisa saja itu berdampak signifikan,” ungkap Pamela F. Gallin, M.D., penulis buku How to Survive Your Doctor’s Care. Jika Anda bermaksud menggoda dokter Anda, Anda takkan menanyakan hal-hal yang Anda anggap memalukan.

Cara mengatasinya: Tak peduli seberapa menariknya dokter itu di mata Anda, ingatlah bahwa dokter tak boleh naksir pasiennya. Bahkan jika dokter itu hanya memberi godaan-godaan ringan pada Anda, lebih baik Anda mencari dokter baru. Begitu pula dengan perawat.

5. Dokter yang Suka Berbohong

Menurut sebuah studi baru di Health Affairs, lebih dari 50 persen dokter mengakui telah memberikan prognosis yang buruk. Yang lebih buruk lagi 11 persen diantaranya mengaku pernah berbohong pada pasien.

Sedangkan lebih dari sepertiga dokter tidak merasa perlu untuk mengungkapkan semua kesalahan medis yang serius kepada pasien. Bahkan jika sebenarnya ia bermaksud baik, seorang dokter tak seharusnya menyembunyikan kebenaran kepada Anda yang sebenarnya perlu diketahui pasien, ujar Rosalyn Stewart, M.D., profesor kedokteran di Johns Hopkins University.

Cara mengatasinya: Anda tak bisa selalu mengatakan seorang dokter itu jujur atau tidak, namun Anda bisa mengecek diagnosisnya dengan mencari opini kedua, lanjut Stewart. Catat seluruh jenis pengobatan yang pernah Anda pakai, gejala-gejala sakit yang pernah Anda alami dan respon dokter terhadap kondisi Anda itu.

Jika sarannya berubah-ubah, bisa jadi dia sedang berusaha menutupi suatu kesalahan. Jika naluri Anda mengatakan ada sesuatu yang salah, katakan, “Saya tidak mengerti. Bisakah kita melakukan diagnosis lagi?”

6. Dokter yang Ketinggalan Jaman

Beberapa pasien berasumsi bahwa dokter yang usianya sudah lanjut memiliki wawasan yang lebih banyak. Namun hal itu tak sepenuhnya benar menurut Annals of Internal Medicine. Peneliti menemukan bahwa biasanya semakin lama seorang dokter telah berpraktik, semakin sedikit dia tahu tentang berbagai diagnosis dan tes pemindaian terbaru dalam dunia medis. Hal ini berujung pada semakin kecil kemungkinannya untuk mematuhi standar layanan kesehatan yang baik.

Studi ini juga menemukan bahwa pasien yang ditangani dokter bedah jantung yang lebih tua memiliki risiko kematian lebih tinggi, hal ini bisa terjadi karena dokter-dokter itu tidak menggunakan prosedur kesehatan terbaru yang bisa menyelamatkan nyawa pasiennya.

Cara mengatasinya: Dokter yang baru lulus biasanya lebih update dengan teknologi medis terbaru. “Jika Anda memerlukan prosedur operasi yang melibatkan laproskop, robot atau teknik baru lainnya, dokter yang baru saja menyelesaikan pelatihannya bisa jadi andalan Anda,” ungkap Janet Pregler, M.D., direktur Iris Cantor-UCLA Women’s Health Center.

Meski begitu, secara umum dokter yang tengah berada di puncak karir memiliki keseimbangan yang bagus antara wawasan terbaru dan pengalaman kerja. Anda bisa dengan mudah menemukan dokter semacam ini di rumah sakit di kota Anda, tambah Gallin. Namun jangan begitu saja meninggalkan dokter Anda yang tua jika memang dia selalu up-to-date.

7. Dokter yang Melanggar Privasi Anda

Dokter yang sering menggunakan internet akan cenderung melakukan pelanggaran etika dokternya lewat media online tersebut. Hal ini diungkap Harvard Review of Psychiatry. Tak masalah jika dokter untuk memastikan diagnosis dan perawatan yang akan diberikan pada pasiennya dari internet, namun tidak etis jika para dokter melakukan hal-hal lebih dari itu.

Hal inipun bisa menjadi berisiko ketika dokter-dokter itu mencari info tentang pasien yang bersifat personal. Misalnya jika terapis Anda mengetahui siapa kekasih Anda atau pandangan politik Anda, maka itu bisa saja mempengaruhi keputusannya.

Cara mengatasinya: “Ingat, ada perlindungan dalam formalitas,” kata Gallin. Anda ingin mendapatkan perawatan kesehatan berdasarkan fakta klinis Anda, bukannya foto-foto pesta Anda yang terpajang di Facebook. Batasi akses ke akun sosial media Anda dan lindungi album foto Anda agar tak mudah diakses.

Jangan lupa untuk terus memantau perilaku dokter Anda yang mungkin saja membocorkan sesuatu yang tidak Anda katakan kepadanya. Tentu saja Anda juga dilarang untuk mengikuti kehidupan virtualnya. (ir/ir)

Tambahan (Redaksi):

8. Dokter Bisu

Dokter pada waktu praktek tidak suka ngobrol/diskusi atau kurang ramah dengan pasien, mengutamakan “target pasien” perhari (komersial), biasanya dia suka langsung membuat resep obat. Padahal komunikasi atau keramah-tamahan dengan pasiennya merupakan salah satu obat yang mujarab bagi pasiennya (sugesti).

Sumber