Tren Gadget Berdampak Kerugian USD185 Ribu Per Tahun

(ki-ka) General Manager Indonesia Symantec, Darric Hor; Director Systems Engineering Asia South Region Symantec, Raymond Goh; Technical Consultant Symantec, Fransiskus Andi I.

JAKARTA – Bring Your Own Device (BYOD) adalah tren mengenai adopsi perangkat genggam pribadi untuk pemakaian perusahaan. Semakin maraknya tren ini, membuat batas antara perangkat genggam pribadi serta perusahaan menjadi samar, sekaligus berpotensi dimanfaatkan penjahat cyber.

Pasalnya, perangkat pribadi ini seperti ponsel cerdas, tablet maupun laptop, biasanya menyimpan data-data penting penggunanya. Mulai dari rekening bank pribadi sampai dokumen rahasia perusahaan.

Sementara itu, di sisi lain, sebagai perangkat pribadi tentu juga digunakan untuk mengakses internet. Baik itu sekedar berselancar di dunia maya atau mengakses jejaring sosial.

Pemakaian perangkat genggam dengan cara tersebut meningkatkan mobilitas dan menjadi tren, tapi juga berisiko dimanfaatkan penjahat cyber untuk masuk ke perusahaan. “Mobilitas meningkatkan risiko perusahaan. Karena makin banyak perangkat yang digunakan dalam perusahaan, penjahat cyber menarget perangkat genggam tersebut sebagai jalan masuk mereka,” papar Director Systems Engineering Symantec, Asia South Region, Raymond Goh, di Jakarta, Kamis kemarin.

Namun, mobilitas atau tren BYOD sendiri datang perlahan tapi pasti dan tidak mungkin dihindari. Menurut Goh, organisasi mesti bersiap-siap, apakah berniat mendukung tren ini atau mencari jalan lain.

“Perusahaan sudah tak bisa lagi membatasi perangkat yang diizinkan untuk mengakses jaringan mereka. Justru tantangan mereka adalah bagaimana cara untuk mengamankan akses data tersebut,” ujarnya.

Menilik tren tersebut Symantec melakukan riset mengenai risiko BYOD yang berdampak pada perusahaan di Indonesia. Survei ini dilakukan pada sekira 150 perusahaan dengan komposisi 75 perusahaan besar (enterprise) dan 75 UKM (small-medium business). Hasilnya menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia mengalami kerugian USD185 ribu per tahun.

“Insiden mobilitas (BYOD) berdampak pada direct financial cost, hilangnya produktivitas, hilangnya data, tercorengnya reputasi sebuah merek, dan hilangnya kepercayaan pelanggan,” terang Goh.

Selain Indonesia, secara global, Symantec melakukan survei serupa di 43 negara dengan responden 6275 organisasi. Hasilnya survei ini menunjukkan rata-rata kerugian perusahaan secara global adalah USD429 ribu per tahun untuk perusahaan besar. Sedangkan untuk UKM adalah USD126 ribu.

Mempertimbangkan adanya risiko kerugian tersebut, Symantec mengajukan beberapa rekomendasi yang sebaiknya dipertimbangkan organisasi atau perusahaan. Pertama adalah keaktifan yang luas (enable broadly). “Putuskan untuk mengadopsi perangkat genggam. Ini bisa membuat blueprint IT bukan hanya soal perangkat, tapi bisa mencapai komputasi awan. Selain itu bisa memanfaatkan akses yang dapat dilakukan dari manapun,” terang Goh.

Kedua adalah pertimbangan strategis mengenai risiko dan kesempatan yang diperoleh dari tren ini. Ketiga, tren ini mesti dikendalikan dengan efektif menggunakan kebijakan pengelolaan yang terpusat.

Keempat, perlu mendukung pemakaian secara tepat. Banyaknya karyawan yang menghubungkan perangkat pribadi ke jaringan perusahaan harus menyesuaikan dengan kontrol berdasarkan kepemilikan serta kebutuhan.

Terakhir adalah pengamanan komperehensif. Misalnya dengan membuat pengaturan terhadap akses data dalam perangkat genggam. “Data sensitif perusahaan dibuat agar tidak dapat dibuka atau diakses melalui hotspot,” pungkasnya. (yhw)

Sumber