Indonesia Pasar Potensial Bisnis Game Online

Bukan hanya kaya akan sumber daya alam, Indonesia juga menyimpan potensi bisnis yang mampu menarik investor asing. Salah satunya bisnis permainan virtual (game online). Bisnis ‘fantasi’ ini dianggap menarik karena menurut statistik dari bulan Maret 2012, dari jumlah 245 juta penduduk Indonesia, sebesar 22,4% atau 55 juta di antaranya merupakan pengguna internet (data dari http://www.sliders.net)

Jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan penduduk, angka tersebut menunjukkan bahwa penetrasi penggunaan internet di Indonesia masih tergolong kecil, tetapi sebenarnya Indonesia sudah termasuk dalam peringkat kedelapan dari daftar negara di dunia dengan jumlah pengguna internet terbanyak.

Dari keseluruhan pengguna internet di Indonesia, 80% di antaranya berada di kisaran umur 15 – 30 tahun. Rentang usia tersebut merupakan pasar utama dari bidang game online. “Faktor pendorong lainnya adalah soal infrastruktur internet yang terus mengalami kemajuan dan jumlah pengguna internet yang masih terus bertumbuh. Indonesia jelas merupakan pasar yang sangat potensial,” ujar T. Putra M. Prasetyo, pengamat game online, yang kerap disapa Gege.

Bisnis game online mulai masuk di Indonesia pada tahun 2001, ditandai dengan mulai beroperasinya Nexia Online yang dibawa oleh Boleh.net. Meskipun demikian, awal dari ledakan bisnis game online ditandai dengan Ragnarok Online yang beroperasi mulai tahun 2003 di bawah naungan PT Lyto Datarindo Fortuna.

Menurutnya, sebagian besar game online yang dioperasikan di Indonesia kebanyakan berasal dari Korea. Selain itu, juga banyak game online yang dibuat oleh perusahaan developer dari China. Sedangkan pengaruh budaya Jepang yang masuk ke Indonesia lebih banyak berasal dari game-game konsol seperti Xbox 360 dan PlayStation 3 dan bukan dari game online karena memang di Indonesia tidak banyak game online yang berasal dari Jepang.

“Indonesia memang boleh dibilang merupakan target yang sangat menarik dengan jumlah pengguna internet yang menempati urutan delapan besar di dunia. Selain itu, boleh dibilang sampai saat ini belum ada pengembang game online yang berasal dari Indonesia yang memiliki produk yang sanggup bersaing dengan gempuran produk asing. Mengenai investor, memang cukup banyak yang berasal dari Korea,” katanya.

Agar bisnis ini bisa berkembang, Gege menyarankan, para game publisher harus mengutamakan layanan jasa. Terutama dalam menyediakan layanan yang baik bagi para pengguna, serta jalur komunikasi dua arah yang efektif antara pengguna dan pihak game publisher. Selain itu, untuk pengembangan sebuah game online di Indonesia, harus dibuat sebuah kegiatan (event). Event online (yang dilakukan dalam game) maupun offline (seperti kompetisi tingkat nasional) akan menambah jumlah user dan mempertahankan pengguna agar tidak berpindah ke game online lain. (Ario Fajar/EVA)

Sumber