Kijang emas diduga masih ada di Kalimantan

Subjenis kijang emas yang endemik Kalimantan dalam kandangnya di Kebun Binatan Ragunan, Jakarta. Hewan langka ini akhirnya diduga keras masih ada di belantara Kalimantan. (istimewa)

Banjarmasin, Kalimantan Selatan (ANTARA News) – Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012 Sub Korwil 08 Hulu Sungai Tengah (HST) menduga populasi dan habitat kijang emas masih ada di Kawasan Pegunungan Maratus, Kalimantan Selatan.

Pegunungan itu adalah perbatasan alam antara Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan; bersama dengan Pegunungan Schwarner, mereka membentuk punggungan dan puncak-puncak daratan Kalimantan.

“Keberadaan kijang emas di Pegunungan Maratus diperkuat penemuan mamalia itu di area perkebunan milik warga,” kata Perwira Sejarah Sub Korwil 08 HST, Mayor Khusus Komaruddin, Sabtu.

Adalah Kapten Pasukan Efendi Hermawan dan timnya yang menemukan hal itu saat melaksanakan penelitian pada Senin lalu (28/5), di Desa Haratai, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Kijang emas atau kijang kuning yang oleh warga setempat disebut kijang hilalang merupakan salah satu jenis kijang endemik Kalimantan yang sangat langka dan sulit ditemukan, karena sering diburu warga untuk dikonsumsi.

Kijang emas memiliki warna merah kekuningan dan terdapat garis gelap disepanjang garis punggungnya, sementara kijang biasa berwarna kemerahan tua.

Contohnya di area Gunung Haung-haung, sejarak lima jam berjalan kaki dari Desa Haratai; di sana kijang emas diburu warga setempat.

Warga setempat menganggap kijang emas sebagai kijang biasa, sehingga kepala kijang emas dibuang tidak disimpan seperti halnya kijang lain yang dianggap memiliki nilai seni tersendiri.

“Saya dapat kijang ini sekitar tiga bulan lalu di Gunung Haung-haung, di sana kami sering memasang jipah (jerat tali). Kepalanya saya buang di huma, karena tidak menarik dipajang di rumah” kata Uncau (46), salah satu warga di Desa Haratai seperti dikutip Komaruddin.

Tengkorak kijang emas cukup khas. Dia tidak punya sendi di pangkal rangganya, masing-masing rangga memiliki satu cabang, ramping dan sedikit melengkung serta pedisel (tulang di bawah rangga) ramping dan melengkung.

Sedangkan kijang biasa mempunyai dua cabang pendek, lebih besar dan terdapat sendi pada pangkal rangga serta pedisel tebal dan lurus. (H005)

Sumber