UGM-UNAIR Observasi Manusia Purba

Ilustrasi

TULUNGAGUNG, KOMPAS.com–Sejumlah arkeolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Universitas Airlangga Surabaya melakukan observasi fosil dan subfosil kehidupan manusia purba di sekitar Goa Song Genthong, Desa Besole, Kecamatan Besuki, Tulungagung, Kamis.

“Rencananya penelitian akan kami lakukan selama empat hari, yakni dari sekarang (Kamis, 3/5) hingga Minggu (6/5),” kata ketua tim peneliti dari Pusat Laboratorium Bio Antropologi dan Paleo Antropologi Fakultas Kedokteran UGM Rusyad Adi Suryanto, Kamis.

Penelitian itu dikonsentrasikan tepat di dua mulut Goa Song Genthong yang berjarak sekitar 100 meter satu sama lain. Observasi dilakukan dengan mengayak seluruh fragmen pasir dan batuan di petak yang telah ditentukan.

Hasilnya, beberapa benda yang diduga bagian dari subfosil berhasil diekskavasi.

Rusyad yang juga Kepala Laboratorium Bio Antropologi dan Paleo Antropologi belum bisa memastikan temuan awal tersebut sebagai artefak purbakala yang sedang mereka cari.

Tetapi ia berani berspekulasi bahwa di area yang tengah mereka gali terdapat jejak sisa manusia purba. “Mengacu temuan sejumlah subfosil tahun lalu, hampir bisa dipastikan ada sisa kehidupan manusia purba di sekitar sini,” ujarnya.

Diakui Rusyad, penelusuran jejak manusia purba yang mereka lakukan lebih diorientasikan untuk pembelajaran bagi para calon peneliti muda yang saat ini tengah menempuh studi di jurusan Arkeologi Unair.

Namun, pihaknya tetap berharap observasi yang rencananya mereka gelar selama empat hari tersebut bisa membuahkan hasil maksimal. Keseriusan tim peneliti gabungan dari dua universitas ternama di Indonesia itu setidaknya terlihat dari keikutsertaan sejumlah ahli bidang geo-arkeologi, paleo-antropologi, maupun bio-antropologi dari Departemen Arkeologi Unair.

“Tujuan dari penelitian yang tengah kami lakukan sekarang adalah untuk mencari jejak kehidupan prasejarah sejak zaman holosin atau sekitar 10 ribu tahu silam hingga awal peradaban (awal tahun masehi),” terangnya.

Mengacu area observasi yang lebih dikonsentrasikan di tanah batuan yang gembur, penelitian tampaknya lebih difokuskan pada fragmen sisa kehidupan zaman prasejarah.

Sinyalemen tersebut setidaknya dibenarkan oleh Rusyad dengan menyatakan bahwa objek penelitian terutama ditujukan pada benda-benda yang diidentifikasi sebagai subfosil, yakni sisa organik kehidupan purba yang belum sepenuhnya menjadi fosil/membatu.

“Seluruh hasil temuan subfosil akan kami uji DNA-nya untuk kemudian diidentifikasi geneologi atau mata rantai benda purba tersebut dengan temuan-temuan lain yang pernah ada, termasuk dengan homo wajakensis yang selama ini dikenal homo sapiens pertama yang ditemukan arkeolog Belanda, Vincent Dubois,” jelasnya.

Ia berharap, kalaupun penelitian lanjutan yang mereka lakukan saat ini belum membuahkan hasil, areal di sekitar Goa Song Genthong tetap disterilkan dari segala aktivitas pertambangan maupun lainnya.

Apabila sampai area tersebut dirusak oleh aktivitas manusia, khususnya pertambangan sebagaimana telah merambah hampir seluruh wilayah di Desa Besole, Kecamatan Besuki, dikhawatirkan potensi kesejarahan yang terkandung di dalamnya hilang.

Sumber