Peneliti: Megalit Pagaralam Terdaftar di UNESCO

google.com
Batu Megalit Pagaralam, Sumsel

PAGAR ALAM, KOMPAS.com — Peninggalan sejarah berupa megalitik yang terdapat di Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, resmi terdaftar di Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), kata salah seorang peneliti di Palembang.

Tim peneliti Balai Arkeologi Palembang, Kristantina Indriastuti, di Pagar Alam, Rabu (23/5/2012), mengatakan bahwa saat ini memang ada dua peninggalan sejarah di daerah Sumatera yang sudah resmi terdaftar di UNESCO.

Kedua peninggalan sejarah itu menurutnya adalah Candi Muara Jambi dan megalit di Kota Pagar Alam.

Dia mengemukakan, kedua warisan sejarah itu berupa penemuan arca, megalit, termasuk situs yang tersebar di berbagai kecamatan dalam wilayah Kota Pagar Alam. “Banyaknya penemuan peninggalan masa Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit itu bukti pendukung bahwa di Pagar Alam memiliki warisan sejarah,” katanya.

Menurut Kristantina, penemuan itu juga cukup variatif dengan bermacam jenis, seperti lesung batu, lumpang batu, arca, arca menhir, kubur batu, gerbah, titralit, gua batu, dolmen, dan ratusan peninggalan sejarah lainnya. “Ada juga penemuan kampung megalit yang cukup luas, mencapai dua hingga tiga hektar, dan isinya cukup banyak, seperti arca, lumpang batu, dolmen, dan lesung batu,” ungkapnya.

Ia mengatakan, memang sebaran peninggalan pra-sejarah cukup banyak, bukan hanya di Sumatera, melainkan juga di Pulau Jawa dan Papua. “Bahkan kalau di Pulau Jawa dan Papua sudah resmi diakui UNESCO sebagai warisan dunia, sementara Jambi dan Pagar Alam baru terdaftar dan prosesnya masih panjang,” katanya.

Ia melanjutkan, saat ini baru 13 warisan milik Indonesia yang telah dicatat UNESCO menjadi warisan dunia (The World Heritage). Ke-13 warisan itu dikelompokkan dalam tiga kategori berbeda, yaitu warisan alam, cagar alam atau situs, dan karya tak benda. “Untuk warisan alam Indonesia yang sudah diakui dunia ada empat, yaitu Taman Nasional Ujung Kulon dan Banten diakui pada 1991, Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur diakui 1991, Taman Nasional Lorentz di Papua diakui 1999, dan hutan tropis Sumatera yang mencakup Taman Nasional Gunung Leuser, Kerinci Seblat, dan Bukit Barisan diakui 2004.”

Sementara itu, warisan berupa bangunan cagar alam di Indonesia, sudah tiga tempat yang diakui UNESCO, yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan diakui 1991. Pada 2004, Situs Manusia Purba Sangiran kembali diakui oleh UNESCO.

“Satu lagi kekayaan dimiliki Indonesia diakui oleh dunia yang terbaru adalah sistem pengairan sawah di Bali atau yang dikenal dengan subak,” ujar dia.

Adapun budaya tak benda milik Indonesia yang sudah dan akan diakui UNESCO yaitu wayang di tahun 2003, keris diakui tahun 2005, batik pada tahun 2009, angklung pada tahun 2010, Tari Saman pada tahun 2011, dan terakhir subak, akan dikukuhkan sebagai warisan dunia menurut UNESCO pada Juni 2012.

Djazuli Kuris, Wali Kota Pagar Alam, mengatakan, masih cukup banyak peninggalan sejarah yang belum tercatat baik oleh Balai Arkeologi dan BP3 Jambi karena penyebarannya cukup luas dan lokasinya sulit dijangkau.

Dia mencontohkan, reruntuhan candi di hutan Ribacandi Kecamatan Dempo Tengah, batu balai di Bukit Kayumanis Kecamatan Dempo Utara, ranjang batu di Talangkubangan Kecamatan Dempo Selatan.

“Kalau untuk saat ini ada beberapa situs yang sudah kami lakukan pemeliharaan, dan mendapat banyak kunjungan wisatawan, yaitu arca Tanjungaro, Tegurwangi, Belumai, dan Batu Gong di Dempo Selatan,” ungkapnya.

Dia menambahkan, daerah Besemah juga memiliki peninggalan sejarah yang unik, seperti kursi batu, ranjang batu, tapak tangan, dan kaki di batu, termasuk gua batu.

Sumber