Kisah Jatuh Bangun Faber-Castell

Menggambar menjadi salah satu kegiatan yang diajarkan kala kita duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Menggambar menjadi wadah untuk mengekspresikan keindahan alam, maupun menggambar apa saja yang ada di benak kita. Menggambar, mewarnai, juga menjadi hobi yang digunakan orang untuk melepas stres ataupun menyalurkan imajinasi mereka di atas kertas.

Salah satu perusahaan yang konsisten mewujudkan imajinasi melalui peralatan pensil adalah Faber Castel. Perusahaan yang awalnya bernama Faber ini, telah menciptakan pensil lebih dari 250 tahun, selama delapan generasi. Didirikan Kaspar Faber pada 1761, pada awal mulanya, perusahaan ini hanya memproduksi pensil. Pengrajin kabinet ini memproduksi pinsil pertamanya, yang disebut “Bleiweißstifte” di Stein dekat Nuremberg, Kaspar Faber dan dijual di pasar Nuremberg.

Perusahaan yang berdiri sebelum Revolusi Prancis dan berdirinya negara Amerika Serikat (AS) ini, bukan perusahaan karbitan yang dikenal sesaat, serta hanya sekadar memanfaatkan euforia pasar saham. Faber pun juga sempat dihantam gelombang badai hebat, kala generasi ketiga, Georg Leonhart Faber pada era 1810-1839, mengalami masa politik dan ekonomi yang sulit karena adanya Perang Dunia pertama.

Perang Dunia itu mau tak mau mengakibatkan produksi menurun dan kondisi perusahaan terancam bangkrut. Bahkan, Faber Castell harus rela kehilangan seluruh gunung grafit mereka di Siberia, yang menyebabkan semua properti dan rumah juga hilang. Perang dunia telah mengambil hampir semua aset perusahaan dan membuat mereka kehilangan bisnis di Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Rusia.

Namun, ungkapkan semua akan indah pada waktunya akhirnya dialami keluarga ini. Badai tersebut mampu dilewati. Hasilnya, pada kepemimpinan Lothar von Faber pada periode 1839-1896, Faber Castel bisa kembali bangkit. Berbekal pengalamannya, serta produksi alat tulis di Prancis dan London, dia mempunyai visi mencapai posisi teratas dengan menghasilkan produk terbaik di dunia. Lothar von Faber juga yang pertama kali mencetak pensil hexagonal dan menerapkan standar produk, menemukan gradasi pensil (HB, 8B – 6H) yang sekarang dipakai oleh industri pensil.

Perubahan brand Faber terjadi pada generasi ke-6, pada 1898. Kala itu, putri tertua dari Wilhelm Von Faber sekaligus pemimpin sementara perusahaan, Baronnes Ottile Von Faber, menikah dengan Count Alexander zu Castell-Rüdenhausen yang merupakan keturunan dari salah satu keluarga bangsawan tertua di Jerman.

Menjelang ajal, Lothar Von Faber telah mempersiapkan surat wasiat, di dalamnya menegaskan bahwa generasi berikutnya tetap harus menyertakan nama ‘Faber’ ke dalam nama keluarga yang baru. Karena itu nama keluarga yang baru “Count and Countess von Faber-Castell” diangkat menjadi nama perusahaan yang baru “Faber-Castell”.

Kuatnya pondasi ini, membuat Faber Castell dapat bertahan sampai saat ini. Kini Anton Wolfgang Graf von Faber-Castell, didaulat menjadi pemimpin generasi kedelapan perusahaan keluarga pada era 1978, dan pada 1992 Count Andreas Wilhelm Eberhard von Faber-Castell yang akrab disapa Andy mulai bergabung dengan Faber Castell.

Count Andy memulai bisnisnya di Australia pada 1971, dan sukses dengan karier penjualan di Xerox. Pada 1992 dia tercatat bergabung dengan Faber Castell untuk membenahi wilayah Australia. Andy memang bergabung pada 1992, namun membutuhkan waktu satu tahun untuk benar-benar menguasai seluk beluk perusahaan ini.

“Saat pertama bergabung dengan perusahaan ini, saya sedikit pendiam untuk 12 bulan awal. Sampai ada produk baru dari saingan lainnya, baru saya mulai menyerang,” tuturnya kepada Okezone.

Hal ini dibuktikannya dengan membuat Connector Pen, terobosan yang dilakukannya di pasar Australia, telah menjadi awal aksinya di bisnis alat tulis ini. Akibatnya, dia dipercaya untuk mengawal kawasan Asia Pacifik dan mengawasi perusahaan di Indonesia, Malaysia, India, dan China.

Kecintaannya akan alat tulis ini, Andy yang mengelola berbagai industri seperti perusahaan printing di Australia, mulai tidak fokus. Dia juga menyerahkan pabrik pengolahan ikan di Jerman, untuk ditangani anaknya.

“Tapi fokus saya tetap di Faber Castell, karena saya mempunyai passion. Saya mencintai pensil, saya suka mempromosikan barang saya, saya senang meraih kesuksesan, dan itu memotivasi saya,” jelas dia.

Bersaing dengan Zaman

Faber Castell memang menjadi brand pensil untuk menulis dan menggambar kelas dunia. Meski begitu, banyak produk saingan mulai bermunculan seperti produk dari China.

“Tetapi tetap terbukti produk kami yang paling baik, itu terlihat dari meningkatnya penjualan,” tutur dia.

Kualitas pensil buatan Faber Castell memang tidak diragukan lagi. Hal ini sejalan dengan prinsip, Count Alexander pada 1905, range produk yang sangat terkenal sekarang yaitu “Castell” hijau atau Green “Castell”. Produk baru ini diberi logo “Tournament of the jousting Pencil Knights” yang bertema ksatria yang menggunakan pinsil green castell sebagai tombak mengalahkan lawannya dalam turnamen.

Logo tersebut dimaksudkan untuk memberi gambaran bahwa produk baru ini memiliki kualitas tinggi yang mengalahkan semua pesaingnya. Logo Ksatria pinsil ini menjadi trademark perusahaan hingga saat ini.

Guna menjaga kualitas produk ini, maka pensil dari Faber Castell pun diolah berdasarkan pohon pinus terbaik. Di sisi lain, Andy mengatakan perusahaan juga tetap menjaga penghijauan. “Ayah saya mengajarkan saya untuk mencintai tumbuhan, dan itu yang saya terapakan. Setiap pemakaian, kita selalu melakukan penanaman kembali,” kata dia.

Akan tetapi, penerapan cara ini bagai pedang bermata dua bagi produk Faber Castell. Bagaimana tidak? Di saat produksi pensil diharuskan menelan biaya karena pemilihan kualitas pohon dan serangkaian relokasi pohon, produk-produk serupa mulai membanjiri pasar dan menawarkan harga murah.

“Ini yang membuat produk kita lebih mahal ketimbang produk dari China, karena mereka hanya menggunakan dan tidak perduli akan penghijauan kembali,” urai dia.

Selain itu, Faber Castell juga harus bersaing dengan teknologi yang terus berkembang. Saingan datang bukan hanya dari produk serupa, namun dari peralatan canggih yang digunakan untuk menggambar, seperti komputer, produk Apple dan tab. Meski begitu, dia meyakini produk yang mengandalkan teknologi tersebut tidak akan mampu menyaingi produk Faber Castell.

“Memang bisa dilakukan di iPad, tapi Anda tetap ingin melakukan kegiatan tersebut secara nyata, dan tidak ada bisa yang menggantikan ‘magic’ dari otak ke tangan Anda, yang tertuang di lembaran kertas, dan bagaimana anak Anda menikmati melakukan itu semua,” tuturnya.

Menurut dia, penggunaan pensil sebagai alat untuk menggambar tidak akan tergantikan. Seperti kertas, contoh dia, meskipun banyak diserukan penghematan kertas dalam perkantoran, namun penggunaan kertas tetap tinggi.

“Sejauh ini, banyak negara yang mengunakan kertas lebih dan lebih lagi, karena kertas alat menulis yang biasa Anda pakai, Anda bisa meremasnya dan melemparnya, Anda bisa mencatat di sana, Anda bisa merobeknya dan saya rasa ini hal-hal yang tidak akan bisa digantikan oleh komputer. 80 persen lebih, orang akan mencatat di kertas daripada hanya mendengarkan atau mengetik di komputer,” jelas dia.

Keyakinan itu tak akan tergantikan, karena pensil juga dilandasi dari belum berubahnya beberapa hal. Meskipun bisa dilakukan lewat game. “Anda bisa bermain tennis di game, tapi Anda tetap ingin melakukan hal ini secara nyata kan?” tanyanya. Keyakinan ini, juga ditopang atas pengalaman masa kecilnya.

Saat itu, Andy muda menapaki era musik elektronik. Pada eranya, Andy muda disuguhi akan kedatangan piano elektrik. Begitu tenarnya piano elektrik, sampai banyak orang mengatakan piano asli nantinya hanya akan ditemui di museum.

“Tapi apa yang dilakukan piano elektrik malah membuat orang tertarik untuk memainkan piano asli, cara cepat mempopulerkan piano, dan pada akhirnya mereka membeli keduanya. Karena mereka merasa perbedaan antara piano elektrik dengan piano asli ketika memainkanya,” kisahnya.

Kepercayaan Andy juga bukan tanpa alasan. Di atas kertas, meskipun penjualan produk Apple kian meningkat, namun penjualan Faber Castell juga mengalami pertumbuhan.

“Ini terbukti ketika kita bicara produksi, setiap tahunnya produksi kita terus mengalami peningkatan, setiap tahunnya lebih dari 200 juta pensil diciptakan, jadi kita terus tumbuh,” demikian disampaikannya.

Lebih Suka Buatan Tangan

Namun tidak bisa dipungkiri, dewasa ini teknologi telah mengantikan hampir setiap kegiatan komunikasi melalui teknologi. Misalkan saja, dulu orang suka menulis surat, kemudian berganti lewat SMS. Sekarang, mereka cukup berkomunikasi lewat jejaring sosial maupun surat elektronik. Kebiasaan ini yang disesalkan oleh Andy.

Menurutnya, ada beberapa hal yang memang tidak bisa digantikan oleh kemudahan teknologi tersebut. Dia bahkan pernah memarahi anaknya karena menggunakan email untuk mengirim ucapan selamat Natal. “Saya tidak suka email ucapan selamat Natal, karena saya pikir itu malas,” jelas dia.

Andy pun lebih suka mendapat kartu ucapan buatan tangan. Mengapa? Karena, dengan demikian dia mengetahui jika saat itu, sang pengirim mengkhususkan pemberian itu untuk dia.

“Dan itu sangat menyenangkan. Tapi anak perempuan saya pernah mengirimkan kartu ucapan Natal ke saya dan untuk orang-orang lainnya, saya jadi kesal. Saya katakan ‘ayolah, kamu sapi pemalas, gunakan kartu ucapan asli’. Meski dia beralasan itu akan menghabiskan kertas, tapi saya pikir itu malas,” kata Andy.

Meski demikian, bukan berarti Andy antiteknologi. Menurutnya teknologi yang ada dapat bermanfaat ketika itu berhubungan dengan sebuah inovasi dan penciptaan. “Dan berhubungan dengan menggambar, mewarnai, dan melukis,” tambah dia.

Andy juga memaksimalkan teknologi yang ada ini untuk memasarkan dan mengembangkan Faber Castell. Untuk itu, dia berinisiatif menggunakan iPhone sebagai sarana. Dia menjelaskan, dengan adanya aplikasi di iPhone, dapat menunjukkan pada orang bagaimana cara menggambar.

“Saya sudah meminta ke berbagai perusahaan untuk menerapkan hal ini, teknologi sudah memberikan banyak kemudahan pada kita untuk beriteraksi dengan konsumer, kita bisa menunjukkan keutungan memakai Faber Castell, keindahan dari melukis, dan kesenangan melakukan itu semua,” jelas dia.

Aplikasi tersebut, nantinya akan menunjukkan pada masyarakat bagaimana mereka dapat bersenang-senang dengan menggunakan pensil warna. Bagaimana cara mengambar, bagaimana cara bersenang-senang dengan pensil warna. Intinya, aplikasi tersebut akan dikembangkan untuk memberikan gambaran bagaimana cara menciptakan sesuatu. “Menciptakan itu suatu teknik yang terus berkembang,” singkatnya.

Oleh karena itu, tak jarang Faber Castell mengadakan kompetisi mewarnai, ini dilakukan untuk mengembangkan seni dan kreatifitas. “Kita hanya harus membebaskannya, dan menunjukan pada mereka bagaimana membebaskan ide dan kreatifitas itu, dan tugas kita untuk menunjukkan itu, dan bagaimana sukses yang dapat dicapai dari alat-alat itu,” kata dia.

Menurutnya, melukis menggambar dan mewarnai, kini diminati orang-orang di usia senja. Andy mengatakan, di saat orang pensiun, mereka ingin melakukan sesuatu lagi yang menyenangkan bagi mereka, dan mengambar jadi salah satu kegiatan yang masuk dalam list mereka.

“Selain musik, seperti bermain piano dan belajar hal lain yang belum pernah dia lakukan, tetapi mengambar jadi pilihan di tengah banyaknya game yang berkembang dan kecangihan teknologi. Kita bisa tumbuh bersama dengan teknologi,” tuturnya.

Sumber