Proteksi Harta Benda, Tidur Pun Lebih Tenang

Shutterstock
Saat ini, rata-rata premi yang ditawarkan perusahaan asuransi untuk asuransi rumah dan isi bangunan di bawah 0,2 dari nilai total pertanggungan per tahun.

KOMPAS.com – Kepemilikan harta benda berupa rumah dan kendaraan menjadi salah satu indikator keberhasilan seseorang mencari penghasilan melalui pekerjaannya. Untuk mendapatkan harta benda tersebut, tak sedikit orang yang mesti berjuang keras dan prihatin.

Harus dipahami, bahwa ini bukan produk investasi atau tabungan, tapi produk proteksi.
— Prita Hapsari Ghozie

Sadar, bahwa untuk mendapatkannya tak mudah, Anda tentu berusaha menjaga dan merawatnya dengan baik semua harta benda tersebut. Tapi, yang namanya barang pasti rentan dari kerusakan, baik karena faktor alam atau karena kesalahan seseorang atau human error.

Namun, tak perlu cemas. Untuk memproteksi harta benda, ada asuransi kerugian, yakni asuransi rumah dan isi bangunan serta asuransi kendaraan bermotor. Perencana keuangan dari Fin-Ally Kurnia Sukmanagara menjelaskan, dengan memiliki asuransi kerugian, sebuah keluarga bisa mengurangi penggunaan dana darurat ketika terjadi kerusakan atau kerugian atas harta bendanya.

“Risikonya sudah terukur dan ada rasa aman,” imbuh Kurnia.

Yang menarik, Perencana keuangan dari MoneynLove Financial Planning and Consulting Pandji Harsanto mencermati, premi asuransi kerugian tak besar-besar amat. Saat ini, rata-rata premi yang ditawarkan perusahaan asuransi untuk asuransi rumah dan isi bangunan di bawah 0,2% dari nilai total pertanggungan per tahun. Sementara, premi asuransi kendaraan lebih besar, antara 2%-3%.

Perencana keuangan PT Zapfindo Arzieta Perdana, Prita Hapsari Ghozie mahfum, jika asuransi kerugian kurang populer. Ini terjadi karena sebagian besar masyarakat masih beranggapan, membeli asuransi membuang duit percuma jika tidak terjadi klaim. Sebab, premi tadi akan hangus.

“Jadi, harus dipahami, bahwa ini bukan produk investasi atau tabungan, tapi produk proteksi,” ujarnya.

Yang layak dan bisa diasuransikan

Account Officer dari PT Antara Intermediary Indonesia Pangky Prasetia Pangestu menjelaskan, ada beragam jenis asuransi kerugian yang memproteksi properti. Dalam kelompok asuransi yang berdiri sendiri (stand alone), setidaknya ada dua jenis asuransi, yakni fire insurance (asuransi kebakaran) dan property all risk atau PAR (asuransi semua risiko).

Sekadar informasi, Antara adalah agen dan konsultan asuransi independen. Asuransi kebakaran hanya menjamin kerugian akibat kebakaran, halilintar, peledakan, asap, dan kejatuhan pesawat terbang. Adapun cakupan PAR lebih luas. Selain menanggung risiko asuransi kebakaran, PAR juga menanggung risiko kerusuhan, demonstrasi, huru-hara, perbuatan jahat, dan banjir.

Di luar dua asuransi stand alone tersebut, Pangky menjelaskan, ada asuransi tambahan (rider) yang bisa digabungkan. Sebut saja earth quake insurance (asuransi gempa bumi), terrorism and sabotage insurance (asuransi terorisme dan sabotase), business interuption insurance (asuransi gangguan bisnis), dan machinery breakdown insurance (asuransi kerusakan mesin). Dua rider terakhir biasanya diperuntukkan bagi properti yang berkaitan dengan usaha atau bisnis.

Shutterstock
Lantas, isi rumah apa saja yang bisa dan layak diasuransikan Ternyata, memang tidak semua barang bisa diasuransikan.

Saat ini, meskipun asuransi kerugian dianggap menguntungkan, para perencana keuangan dan agen asuransi sepakat, bahwa tidak semua harta benda bisa diasuransikan. Aturan main yang ditetapkan tiap perusahaan asuransi memang berbeda, sehingga Anda harus cermat memelototi bunyi tiap klausul polis asuransi.

Berikut ini beberapa hal yang penting Anda perhatikan:

Penilaian rumah

Ketika kita mengajukan asuransi untuk rumah, pihak asuransi akan melakukan survei. Setidaknya, ada empat hal yang menjadi penilaian. Pertama, konstruksi. Konstruksi ini akan dibedakan dalam beberapa tingkatan. Tingkatan pertama untuk rumah dengan konstruksi bangunan yang terbuat beton, besi, dan baja.

Sementara itu, tingkatan di atasnya adalah untuk rumah yang memuat konstruksi kayu di dalamnya. Makin tinggi risiko kerusakannya, maka semakin mahal preminya. Kedua, lokasi. Penilaian lokasi di sini bukan berkaitan dengan harga, tapi berkaitan dengan potensi risiko yang mungkin terjadi. Misalnya, risiko banjir dan tanah longsor.

Ketiga, tinggi bangunan. Untuk tinggi bangunan hingga sembilan lantai, besaran preminya masih sama.

“Selisih rate untuk tinggi sembilan lantai dengan yang ada di atasnya sekitar 0,2%. Makin tinggi makin mahal,” kata Account Officer dari PT Antara Intermediary Indonesia, Pangky Prasetia Pangestu.

Keempat, lingkungan. Untuk kriteria yang satu ini, perusahaan asuransi menilai dari sisi lingkungan sekitar rumah yang akan diasuransikan. Mereka akan mencermati tingkat kepadatannya. Semakin padat, tentu potensi risikonya lebih besar.

Barang yang dikecualikan

Asuransi isi bangunan tidak terlepas dari asuransi rumah. Hanya, dalam asuransi jenis ini, penilaian tertuju pada isi rumah itu sendiri.

Lantas, isi rumah apa saja yang bisa dan layak diasuransikan?

Ternyata, memang tidak semua barang bisa diasuransikan. Beberapa barang yang dikecualikan untuk dihitung dalam klaim asuransi rumah dan isi bangunan, yakni platinum, emas, perak, perhiasan, lukisan, benda seni, dan mantel bulu. Barang-barang, seperti surat perjanjian dan akta jual-beli, obligasi, wesel, surat pengakuan utang, cek uang tunai, uang logam, kendaraan bermotor, hewan peliharaan, naskah, dan dokumen kantor juga masuk kategori yang tidak bisa diklaim.

“Soalnya, syarat barang bisa diklaim adalah memiliki nilai pasar secara objektif,” kata Perencana keuangan dari MoneynLove Financial Planning and Consulting, Pandji Harsanto.

Sementara menurut Pangky, meski dikecualikan, ada perusahaan asuransi yang tetap bisa menerima klaim atas kerugian barang-barang tersebut. Namun, besarnya nilai klaim dibatasi tidak lebih dari 5% dari nilai total pertanggungan untuk isi bangunan.

Ambil contoh, total nilai pertanggungan isi bangunan Rp 100 juta dan lukisan yang Anda beli seharga Rp 10 juta rusak karena kebakaran. Maka, maksimal pertanggungan untuk lukisan hanya Rp 5 juta.

Sementara itu, menurut perencana keuangan PT Zapfindo Arzieta Perdana, Prita Hapsari Ghozie, memang bisa dibuat asuransi untuk barang-barang yang dikecualikan tersebut. Namun, preminya jauh lebih besar ketimbang dimasukkan menjadi satu dengan isi bangunan yang lain.

Perencana keuangan PT Zapfindo Arzieta Perdana, Prita Hapsari Ghozie, menyarankan, Anda hanya perlu memasukkan barang yang memang penting dan kemungkinan akan memberikan kerugian secara signifikan jika rusak. Urusan ini tentu memerlukan kebijaksanaan dari masing-masing keluarga.

Daftar barang

Setelah memilah barang mana yang akan diasuransikan dan disetujui oleh pihak asuransi, sebaiknya Anda membuat daftar atas barang-barang yang diasuransikan tersebut. Ini bertujuan agar ketika melakukan klaim tidak akan terjadi perbedaan persepsi atas isi bangunan yang berhak untuk diklaim.

Mengenai simulasi besaran premi asuransi rumah dan isi bangunan serta asuransi kendaraan, Anda bisa menyimak perhitungan Pangky. Namun, selain besaran premi, para perencana keuangan mengingatkan agar Anda mencermati aneka fasilitas yang ditawarkan dan kemudahan melakukan klaim. Nah, tugas Anda sekarang adalah membandingkan lebih banyak produk lagi agar mempunyai banyak pilihan.

Selamat membandingkan!

(Anastasia Lilin Y)

Sumber 1 dan Sumber 2