Dewasa Muda Saat Ini Makin Tidak Mandiri

SHUTTERSTOCK
Umumnya orang sangat berpegang pada nilai-nilai keluarga, namun mendahulukan kebutuhan anggota keluarga di atas kebutuhan pribadi tetap terasa sulit.

KOMPAS.com – Kaum dewasa muda saat ini, yang lahir dari orangtua generasi baby boomers, dinilai makin tidak mandiri. Bagaimana tidak? Orangtua mereka (yang lahir antara tahun 1946-1964) ternyata masih merasa bertanggungjawab untuk membayari tagihan-tagihan anak mereka.

Selain masih menanggung ongkos perawatan kesehatan dan kebutuhan sehari-hari orangtua mereka sendiri, generasi baby boomers ini juga membayari tagihan-tagihan anak mereka yang sudah dewasa, dari asuransi mobil sampai tagihan sewa rumah. Uluran tangan ini meskipun kesannya didasari oleh kasih sayang, namun menciptakan ketidakpastian di antara para orangtua generasi baby boomers ini mengenai masa depan keuangan mereka, begitu bunyi laporan dari Ameriprise Financial.

Ameriprise mengadakan survei bertema “Money Across Generations”, yang diikuti oleh tiga generasi: kalangan baby boomers, orangtua, dan anak mereka. Survei yang melibatkan lebih dari 1.000 orang dari kalangan baby boomers yang tergolong makmur, 300 orangtua, dan 300 anak mereka (dengan usia termuda 18 tahun) ini mendapati bahwa setiap generasi mengalami masa-masa yang sulit saat ini. Generasi boomers sendiri (jumlahnya mencapai 77 juta) merasakan adanya tekanan secara keuangan maupun emosional, kata Suzanna de Baca, Vice President of Wealth Strategies di Ameriprise.

“Dalam banyak kasus, mereka terjepit di antara anak-anak yang belum bekerja atau masih harus membayar utang biaya pendidikan, dan orangtua di usia senja yang menghadapi masalah kesehatan dan keuangan yang kompleks. Pada saat yang sama, mereka sendiri harus menyiapkan pensiun,” ungkapnya.

Sebanyak 58 persen boomers mengaku membiayai kebutuhan sehari-hari orangtua mereka (22 persen) atau biaya kesehatan (15 persen), dan tagihan-tagihan lain (14 persen). Bantuan untuk anak ternyata lebih diutamakan, terlihat dari 93 persen yang mendanai kebutuhan anak-anak yang sudah dewasa, dari uang kuliah (71 persen), membantu anak pindah rumah dan membayari sewa rumahnya (55 persen), membelikan mobil (53 persen), dan asuransi kendaraan (45 persen). Kemudian, 34 persen mengatakan bahwa memberi uang “gaji” untuk anak telah mengurangi dana untuk persiapan pensiun.

Hanya sekitar seperempat generasi boomers yang mengaku menyiapkan tabungan pensiun saat ini, padahal pada tahun 2007 jumlahnya sebesar 44 persen dari orang yang disurvei. Karena kebutuhan keuangan yang mendesak dari orangtua dan anak mereka, jumlah baby boomers yang bergantung pada dana pensiun naik menjadi dua kali lipat, dari 12 persen pada tahun 2007.

Umumnya orang sangat berpegang pada nilai-nilai keluarga, namun mendahulukan kebutuhan anggota keluarga di atas kebutuhan pribadi tetap terasa sulit. “Sayangnya, dukungan finansial untuk keluarga ini bisa mengancam tujuan pensiun. Penting sekali mengadakan pembicaraan secara terbuka dengan keluarga mengenai situasi keuangan yang Anda hadapi sekarang, dan mengevaluasi kembali kemampuan Anda untuk memenuhi tujuan pribadi, sebelum menawarkan bantuan finansial apapun,” ujar de Baca.

Meskipun mayoritas boomers tidak menyesali keputusan untuk membiayai kebutuhan finansial anak-anak mereka yang sudah dewasa, mereka tak yakin dukungan mereka mampu membantu anak-anak mereka menghadapi masa depan. Hampir separuh dari mereka yang disurvei khawatir anak-anak mereka tidak memahami apa yang dibutuhkan untuk menyiapkan pensiun, dan 35 persennya khawatir anak-anak jadi tidak belajar bertanggung jawab dengan keuangan mereka sendiri.

Sumber