Inilah Bahaya Sering Nyetir Kena Macet

SHUTTERSTOCK

KOMPAS.com – Lamanya jarak tempuh perjalanan dari rumah ke tempat pekerjaan ternyata dapat memengaruhi kondisi kesehatan seseorang. Riset terbaru menemukan bahwa semakin lama waktu Anda mengemudi antara rumah dan kantor, kecil kemungkinan seseorang untuk dapat berolahraga, sehingga makin memperlebar ukuran pinggang dan memperburuk kesehatan jantung secara keseluruhan.

Kemacetan panjang dapat mengambil waktu berolahraga dan berkaitan dengan risiko hipertensi, kelebihan berat badan serta tingkat kebugaran yang lebih rendah
— Christine Hoehner

Temuan ini melibatkan hampir 4.300 pekerja di kota Texas Amerika Serikat yang setiap harinya melakukan perjalanan dari rumah ke kantor dan kemudian dibandingkan dengan faktor risiko kesehatan.

“Studi sebelumnya telah melihat perilaku menetap seperti menonton TV dan total waktu mengemudi,” kata pemimpin studi, Christine Hoehner, asisten profesor di divisi ilmu kesehatan masyarakat, Washington University School of Medicine, St Louis.

“Tapi kami ingin melihat secara khusus bagaimana jarak dapat memengaruhi risiko kesehatan, karena itu bagian penting dari rutinitas sehari-hari,” tambahnya.

“Yang kami temukan adalah bahwa kemacetan panjang dapat mengambil waktu latihan (olahraga) dan berkaitan dengan risiko hipertensi, kelebihan berat badan dan tingkat kebugaran yang lebih rendah,” kata Hoehner, yang akan mempublikasikan temuannya dalam American Journal of Preventive Medicine edisi Juni 2012 .

Menurut para peneliti, jumlah pekerja dalam perjalanan ke kantor dengan menggunakan mobil pribadi melonjak lebih dari dua kali lipat antara tahun 1960 dan 2000, meningkat lebih dari 41 juta menjadi hampir 113 juta. Jarak rata-rata perjalanan untuk bekerja juga telah bertumbuh dalam beberapa tahun terakhir, dari hampir sembilan mil pada tahun 1983 menjadi lebih dari 12 mil pada tahun 2001.

Studi baru difokuskan pada aktivitas keseharian orang Texas dewasa baik yang tinggal di Dallas/Fort Worth atau daerah Austin. Setiap partisipan yang terlibat dalam studi tidak memiliki sejarah serangan jantung, stroke atau diabetes, dan tidak sedang hamil.

Pada beberapa titik antara tahun 2000 dan 2007, seluruh peserta menjalani tes kesehatan komprehensif, termasuk treadmill yang dirancang untuk mengetahui kondisi jantung dan kebugaran paru-paru. Mereka juga melaporkan tingkat latihan harian selama tiga bulan sebelum studi.

Peneliti menemukan bahwa peserta dengan jarak perjalanan terpanjang cenderung kurang berolahraga. Mereka juga memiliki tingkat kebugaran kardiorespirasi yang rendah, indeks massa tubuh (BMI) lebih tinggi, ukuran pinggang yang lebih luas dan tekanan darah tinggi.

Secara khusus, jarak tempuh lebih dari 10 mil atau lebih telah dikaitkan dengan risiko hipertensi yang lebih tinggi, sedangkan yang lebih dari 15 mil terkait dengan risiko obesitas dan kemungkinan lebih rendah untuk melakukan aktivitas fisik.

Kecenderungan ini tidak hilang bahkan setelah para peneliti memperhitungkan waktu yang dihabiskan untuk berolahraga. Temuan ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang memengaruhi dari perjalanan itu sendiri yang dapat merugikan kesehatan jantung.

“Temuan menunjukkan bahwa pengendara yang melakukan perjalanan jarak jauh, cenderung lebih sedikit membakar kalori secara keseluruhan, bahkan jika mereka berolahraga dalam jumlah yang sama seperti pengendara yang rute perjalanannya lebih pendek,” kata Hoehner.

“Meskipun kita tidak mengukurnya, stres di perjalanan mungkinan juga turut memengaruhi, terutama jika penumpang dihadapkan dengan kemacetan,” jelasnya.

Apa yang harus dilakukan? “Orang tidak dapat dengan mudah mengubah pekerjaan mereka, yang berarti perjalanan menggunakan mobil berbeda dengan aktivitas menetap lain yang mungkin bisa lebih dimodifikasi, seperti menonton TV,” kata Hoehner.

“Pesan di sini adalah bahwa orang perlu menemukan cara kreatif untuk membangun aktivitas fisik ke dalam keseharian mereka,” katanya.

“Dan itu bisa dilakukan dengan cara sederhana seperti lebih sering berjalan. Akan lebih efektif lagi apabila kantor mendorong para pekerjanya untuk melakukan latihan di jam istirahat,” ujar Hoehner.

Sumber