Brainstat, Aplikasi Pemantau Kondisi Pengemudi

Didik Purwanto/KOMPAS.com
President Director Microsoft Indonesia Andreas Diantoro mencoba memakai Brainstat, aplikasi yang menjadi pemenang pertama dalam Microsoft Imagine Cup 2012.

JAKARTA, KOMPAS.com – Faktor kelelahan fisik dan psikis menjadi penyebab terjadinya kecelakaan di Indonesia dan dunia.

Brainstat adalah sebuah perangkat untuk mendeteksi dini bagi pengemudi dalam memantau tingkat kondisi fisik, fokus, mengantuk, konsentrasi, kesadaran bahkan tingkat stres.

Aplikasi ini dirancang oleh Tim Malabar (tim yang terdiri dari mahasiswa Intitut Teknologi Telkom dan Institut Teknologi Bandung). Aplikasi tersebut untuk memantau tingkat kondisi fisik, fokus, mengantuk, konsentrasi, kesadaran bahkan tingkat stres dilihat dari aktivitas gelombang otaknya.

“Brainstat akan memberikan peringatan dini bagi pengemudi, penumpang dan juga jika pengemudi mungkin bisa mengalami masalah selama perjalanan,” kata Dody Qori Utama, pengembang aplikasi Brainstat saat ditemui di acara Final Microsoft Imagine Cup 2012 di Balai Kartini Jakarta, Selasa (15/5/2012).

Brainstat bekerja dengan membaca gelombang otak manusia karena otak merupakan pusat dari semua aktivitas yang terjadi dalam tubuh manusia. Sehingga akan menggambarkan kondisi manusia secara keseluruhan.

Gelombang otak ini juga tidak akan berbohong sehingga diharapkan dapat memberikan informasi berupa data-data yang diinginkan khususnya tentang data psikis dan fisik pengemudi kendaraan.

“Aplikasi ini digabung dengan perangkat Neurosky yang khusus diimpor dari Amerika Serikat. Kami menyebutnya dengan Electro Encephalograph (EEG) yang juga dipakai di dunia kedokteran. Aplikasi yang kami buat dimasukkan dalam microcontroller untuk mendeteksi kondisi pengemudi,” tambah Dody.

Untuk bisa mendeteksi, perangkat EEG ini dapat dipakai di kepala pengemudi. Ada bagian yang harus menyentuh kening pengemudi, karena bagian tersebut merupakan bagian terkuat dari gelombang otak manusia. Selanjutnya ada bagian yang dijepit di telinga bagian bawah sebagai penghubung.

Perangkat ini akan langsung merekam kondisi fisik dan psikis pengemudi, mengolahnya dalam sebuah aplikasi dan dikirim melalui Bluetooth ke sebuah komputer.

Jenis data pengemudi yang bisa diketahui adalah tingkat kognitif, adiksi (kecanduan) dari narkoba maupun obat terlarang, tingkat kadar oksigen seseorang, kesadaran hingga tingkat stress.

“Dari data tersebut akan diketahui tingkat kecapekan, stres (fisik dan psikis), adiksi dari pengemudi. Perangkat tersebut juga bisa memberikan hasil rekomendasi bahwa pengemudi ini masih layak menyopir atau tidak,” tambahnya.

Perangkat ini memang baru bisa dibaca pada sebuah komputer yang telah terinstal aplikasi Brainstat. Komputer juga harus memiliki perangkat Bluetooth untuk mengirimkan data dari perangkat EEG.

“Ke depan, bila Microsoft sudah mengizinkan, aplikasi ini juga bisa digunakan dan dibaca di ponsel Windows Phone. Nanti kita bisa melihat kondisi pengemudi hanya dari ponsel. Saat ini Microsoft masih “mengunci” beberapa bagian aplikasi yang tidak memungkinkan aplikasi ini terbaca dengan baik di ponsel Windows Phone,” tambahnya.

Karena bentuknya kurang praktis, Tim Malabar berencana akan membuat perangkat tersebut lebih sederhana, yaitu hanya akan membuat perangkat yang bisa diikatkan di kepala, semacam headband.

Apalagi karena komponen perangkat mayoritas masih impor, maka harga perangkat tersebut jika diproduksi maka akan mahal, bisa sekitar 200 dollar AS per unit.

Sementara jika menggunakan komponen lokal dan bisa diproduksi secara massal, maka harga perangkat bisa ditekan hingga menjadi 90 dollar AS per unit.

“Perangkat ini masih dalam proses dipatenkan di Kementerian Hukum dan HAM,” jelasnya.

Tim Malabar terdiri dari Umar Ali Ahmad, pemimpin tim sekaligus mahasiswa Magister Teknik Telekomunikasi di IT Telkom dan beranggotakan Dody Qori Utama (pengembang dan mahasiswa Magister Teknik Biomedis ITB), Arganka Yahya (desainer dan mahasiswa IT Telkom jurusan Teknik Informatika) dan Anggunmeka Luhur Prasasti (mahasiswa IT Telkom jurusan Teknik Telekomunikasi).

Tim Malabar merupakan pemenang pertama dari Microsoft Imagine Cup 2012 sekaligus mendapat uang Rp 15 juta dari Microsoft dan akan berangkat ke Sydney Australia dalam ajang Imagine Cup 2012 Worldwide Final pada Juli mendatang.

Sumber