Singkil, “Atlantis” dari Aceh

Oleh Ahmad Arif dan Agung Setyahadi

KOMPAS.com – Tenggelamnya kota Singkil mengingatkan pada cerita klasik tentang Atlantis. Kisah tentang Atlantis ini pertama kali disebut oleh cendekia Yunani, Plato, dalam buku ”Timaeus” dan ”Critias”. Disebutkan, Atlantis tenggelam ke dalam samudra ”hanya dalam satu hari satu malam”.

Atlantis yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu konon dihuni oleh bangsa yang memiliki peradaban tinggi dengan alam yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut.

Belakangan, penulis Arysio Nunes Dos Santos menerbitkan buku Atlantis: The Lost Continent Finally Found (2005). Ia menyebutkan, lokasi Atlantis yang hilang itu adalah Indonesia. Buku ini sarat kontroversi. Apalagi, sebagian ilmuwan menganggap Atlantis sebenarnya hanya dongeng yang dibuat Plato untuk mengilustrasikan teori politik yang bisa berubah cepat.

Namun, Kota Singkil di Aceh bukanlah mitos. Itu kenyataan sejarah tentang kota yang tenggelam karena fenomena alam.

Menurut Datuk Amirul Alam (74), tokoh masyarakat Singkil, Kota Singkil Lama dulu merupakan pelabuhan ramai. Masyarakat di pedalaman Sumatera menjual aneka komoditas hasil bumi, seperti kayu, rotan, kopra, damar, dan kapur barus. Barang dagangan dibawa menggunakan perahu menyusuri Sungai Singkil dan Sungai Simpang Kanan yang berhulu di pegunungan Leuser.

Barang-barang dagangan itu dijual kepada para pedagang besar dari China, India, dan Arab sebelum diangkut ke pelabuhan besar di Barus. ”Karena pentingnya posisi Singkil Lama, dulu ada kontroler atau wedana yang ditugaskan Belanda. Kalau di Rending, ada semacam camat Belanda,” ujar Amirul Alam.

Dalam catatan-catatan kuno, Singkil juga kerap disebut karena memiliki tokoh agama Islam, Datuk Abdul Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili. Sheikh Abdul Rauf dikenal sebagai penyebar agama Islam pada abad ke-17. Ia menuntut ilmu di Mekkah selama 19 tahun. Catatan pendidikan Sheikh Abdul Rauf ini sekaligus menguatkan hubungan Singkil dengan dunia luar.

Namun, kejayaan Singkil Lama itu telah musnah. Jejaknya hanya bisa ditemukan dalam bentuk pecahan keramik, koin kuno, reruntuhan tembok, dan nisan tua yang sebagian terendam laut. Adapun Singkil (baru) saat ini dalam proses tenggelam ke laut. ”Kami takut Singkil akan hilang seperti Singkil Lama,” kata Sabaruddin, warga Kilangan, Singkil.

Tenggelamnya daratan

Mirip dengan cerita Atlantis, tenggelamnya Singkil terjadi dalam sekejap. Pascagempa 28 Maret 2005, daratan Singkil turun tiba-tiba hingga 1,5 meter. Proses yang sama yang diperkirakan menenggelamkan Singkil Lama ratusan tahun sebelumnya.

Walaupun kejadiannya sekejap, proses yang mendahului tenggelamnya Singkil telah berlangsung puluhan hingga ratusan tahun. Proses itu bermula dari penunjaman lempeng Indo- Australia ke bawah Sumatera yang merupakan bagian dari lempeng Eurasia. Menurut penelitian ahli gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman, lempeng Indo-Australia bergerak sekitar 30 milimeter per tahun mengimpit lempeng Sumatera-Andama.

Bidang kontak dua lempeng yang terekat kuat menyebabkan pulau-pulau yang berada di atas zona penunjaman (Simeulue, Nias, dan Siberut) terseret ke bawah perlahan dan terimpit ke arah Sumatera. Suatu ketika, tekanan yang terhimpun di antara dua lempeng ini terlalu besar untuk ditahan. Akibatnya, rekatan ini pecah dan lempeng di bawah pulau akan terentak sangat kuat ke atas. ”Lentingan lempeng ini menghasilkan goncangan keras yang dikenal sebagai gempa bumi,” tulis Danny Hilman dalam bukunya, Gempa Bumi dan Tsunami di Sumatra, 2007.

Gempa bumi itu membuat pulau-pulau di sebelah barat terangkat, sebaliknya yang di bagian timur turun. Setelah itu, bidang kontak akan merekat lagi dan pulau-pulau kembali terseret ke bawah. Siklus proses gempa bumi ini berlangsung selama satu abad atau lebih sampai suatu saat nanti kembali terjadi gempa bumi besar.

Ketika pulau-pulau terentak ke atas saat gempa bumi, dasar laut ikut terangkat. Jutaan ton air ikut terdorong ke atas dan menghasilkan bumbungan besar air di atas permukaan laut. Bumbungan air ini kemudian menyebar ke segala arah dan menjadi gelombang tsunami atau dalam istilah Singkil dikenal sebagai galoro.

Penelitian Briggs, Meltzner, Kerry Sieh, dan Danny Hilman, gempa Maret 2005 telah mengangkat bagian barat Pulau Nias setinggi 3 meter. Wilayah selatan Pulau Simeulue juga terangkat 1 sampai 1,5 meter, termasuk Kota Sinabang. Hasil penelitian itu dimuat dalam jurnal Science, 2006.

”Ketika gempa di segmen Nias-Simelue terjadi pada Maret 2005, tim LIPI-Caltech baru saja memasang beberapa unit stasiun GPS di wilayah ini, tepat di atas dan sekitar sumber gempa,” sebut Danny. Pemasangan itu membuat pergerakan tektonik yang terjadi sebelum, sewaktu, dan setelah gempa terekam dengan baik oleh GPS.

Selain menggunakan GPS, fenomena naik dan turunnya daratan ini juga diketahui dari koral mikroatol. Koral yang biasa dipakai adalah genus porites mikroatol yang banyak tumbuh di sekitar Pulau Simeulue, Nias, dan pulau-pulau lain di pantai barat Sumatera. Koral ini hidup di zona pasang surut di tepi pantai.

Menurut Danny Hilman, pertumbuhan porites sangat dipengaruhi perubahan muka air laut. Pertumbuhan koral mikroatol tidak bisa melebihi tinggi air laut saat surut. Koral ini akan tumbuh ke atas sehingga mencapai permukaan air.

Apabila pantai terangkat karena gempa, tubuh mikroatol yang tersembul ke atas air akan mati. Bagian koral yang masih berada dalam air akan tetap hidup. Apabila koral terangkat seluruhnya, akan mati total. Sebaliknya, apabila muka pantai turun, koral akan tenggelam. Besarnya penenggelaman ini juga dapat diukur dari tinggi permukaan mikroatol ke tinggi air laut (surut) setelah gempa.

Dari jejak mikroatol, Danny dan timnya menemukan, proses naik dan turunnya pulau-pulau di pantai barat Sumatera telah terjadi beberapa kali. Ini berarti petaka tenggelamnya Singkil pernah terjadi di masa lalu, dan masih akan terus berlangsung.(Prasetya Eko / Ingki Rinaldi)

Sumber