Mahasiswi Gaza temukan obat pengurang nyeri tanpa efek samping

Ilustrasi – en.wikipedia.org

Gaza (ANTARA News) – Amani Abul-Qumsan (21), seorang mahasiswi asal Gaza, berhasil menemukan obat pengurang rasa sakit tanpa efek samping dan sedang mempersiapkan diri untuk ikut serta dalam festival ilmu pengetahuan internasional pada April 2013 di Amerika Serikat.

Abul-Qumsan, mahasiswi semester tiga Fakultas Farmasi Universitas Al-Azhar di Kota Gaza, baru-baru ini telah mendapatkan hak paten internasional atas penemuan obat baru yang tidak menimbulkan efek samping terhadap jantung maupun otak tersebut. Hak paten tersebut dinilai sebagai 15 penelitian ilmiah terbaik di dunia.

Abul-Qumsan mengatakan bahwa inspirasinya menemukan obat pengurang rasa sakit itu muncul setelah mempelajari kasus bayi yang lahir tanpa bisa merasakan apa pun, kecuali dingin atau panas.

“Bayi yang hanya dapat merasakan dingin atau panas biasanya memiliki gen keturunan cacat yang mengendalikan indera tubuh mereka. Ide tersebut kemudian muncul dalam benak saya untuk membuat obat baru berdasarkan teori itu,” kata Abul-Qumsan.

Ia menambahkan bahwa obat hasil penemuannya itu tidak menimbulkan efek samping terhadap organ tubuh lain. Obat itu juga berbeda dengan obat pengurang rasa sakit lain yang menghambat saluran sodium dalam tubuh manusia, sehingga sangat berpengaruh pada jantung dan otak pasien.

Abul-Qumsan telah mengirimkan penelitian ilmiah itu ke sebuah kompetisi yang diselenggarakan oleh Badan Administrasi Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat. Dalam kompetisi itu, sebanyak 15 dari 500 siswa di seluruh dunia memperoleh hak paten atas hasil temuan mereka, termasuk Abul-Qumsan.

“Saya adalah salah satu dari 15 pemenang itu,” katanya.

“Saya menghubungi FDA dan mengatakan bahwa saya tidak berhasil mendapatkan hewan atau manusia untuk bahan percobaan. Pihak FDA kemudian mengambil contoh obat saya dan mengujinya pada manusia dan hewan,” jelasnya seraya menambahkan bahwa hasilnya luar biasa.

FDA kemudian mengirimkan delegasi, yang terdiri atas enam ilmuwan, ke Gaza untuk bertemu dengannya.

“Setelah mereka menemukan bahwa semuanya memang benar, hak paten itu lalu diberikan kepada saya,” tambah Abul-Qumsan.

Selain itu, FDA mengijinkan obat tersebut dikonsumsi oleh manusia.

“Itu merupakan sertifikat lain yang menunjukkan bahwa obat temuan saya berhasil,” kata mahasiswi itu.

“Penemuan itu sungguh merupakan terobosan baru selama 10 tahun di dunia obat-obatan pengurang nyeri,” kata Profesor Mohamed Shubair, dosen Abul-Qumsan.

Profesor Mohamed menambahkan bahwa pada April 2013, Abul-Qumsan akan menghadiri festival ilmu pengetahuan internasional dan bersaing dengan tiga mahasiswa lain untuk memperebutkan Penghargaan Nobel dalam obat-obatan.

Abul-Qumsan mulai berpikir untuk menciptakan sesuatu bermanfaat bagi kemanusiaan saat menginjak usia 16 tahun. Dia ingin mendorong perkembangan pendidikan di wilayah Palestina serta membangun sekolah dan perguruan tinggi dengan perlengkapan yang dibutuhkan untuk penelitian dan tes ilmiah. (F013)

Sumber