Keluarga makin harmonis, kantong pun tak menipis

JAKARTA. Karena kesibukan kerja dan aktivitas masing-masing anggota keluarga, kebersamaan dengan keluarga seakan menjadi barang mahal untuk masyarakat perkotaan. Jangankan untuk bertukar pikiran, terkadang untuk makan semeja saja susah. Padahal, kualitas hubungan dalam keluarga bisa dipupuk lewat seberapa sering anggota bertemu dan saling berkomunikasi. Soalnya, dari sinilah, permasalahan yang timbul bisa diperbincangkan untuk dicari solusinya.

Menyadari betapa penting waktu kebersamaan keluarga ini, rekreasi atau pelesir bersama bisa menjadi salah satu solusi untuk benar-benar terlepas dari rutinitas dan kembali fokus ke keluarga. Perencana keuangan dari One Consulting Budi Raharjo berpendapat, banyak manfaat emosional yang bisa didapat dari rekreasi keluarga. “Sebenarnya, rekreasi sudah bukan hanya masalah keuangan, tetapi ini adalah kebutuhan untuk menyeimbangkan hidup,” kata Budi.

Maka, perencana keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari menyarankan, saat menyusun perencanaan keuangan keluarga, rekreasi sebaiknya dimasukkan dalam daftar kebutuhan. Bahkan, frekuensi rekreasi keluarga bisa lebih dari sekali dalam setahun. Tentu saja, tiap keluarga harus melongok kemampuan kocek masing-masing. Sebelum memenuhi kebutuhan untuk rekreasi, keluarga harus sudah memenuhi kebutuhan pokoknya, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, dan pendidikan.

Sisca Novita, Account Manager PT Antara Intermediary Indonesia, agen dan konsultan asuransi, malah tegas menyebutkan, di luar kebutuhan pokok, masih ada kebutuhan lain yang penting untuk dicukupi dulu, yakni amal, pelunasan utang, asuransi, dan investasi. Barulah yang terakhir kebutuhan hiburan, termasuk pelesir.

Meski rekreasi menempati posisi paling ujung dalam daftar kebutuhan keluarga, para perencana keuangan yakin, setiap anggota keluarga dapat memenuhi kebutuhan ini. Syaratnya, arus kas yang bersangkutan harus sehat. Indikator sehat itu, antara lain utang tidak lebih dari 30% penghasilan dan ada pos untuk investasi setidaknya 10%. Lebih baik lagi jika keluarga tersebut sudah memiliki proteksi asuransi, minimal untuk pemberi nafkah utama. Asuransi penting terutama bagi keluarga yang tidak memiliki banyak aset.

Dus, anggaran untuk kegiatan rekreasi dan pelesir tidak perlu menunggu sampai Anda merasa kaya terlebih dulu. Bagi keluarga yang merasa arus kasnya cukup sehat, langkah pertama yang harus Anda lakukan ketika hendak menyusun kebutuhan rekreasi adalah menetapkan tempat tujuan rekreasi.

Budi dan Tejasari mengatakan, pilihan tujuan rekreasi ini menentukan besaran dana yang mesti dialokasikan oleh keluarga. Penentuan tujuan rekreasi berada di tangan masing-masing keluarga. Saran para perencana keuangan: sesuaikan dengan kemampuan bujet saja.

Di samping tujuan, frekuensi rekreasi juga ditetapkan berdasarkan kemampuan keuangan tiap keluarga. Misalnya, bagi keluarga yang merasa memiliki pendanaan yang cukup, melakukan rekreasi hingga lebih dari dua kali setahun tentu tak masalah.

Bagaimana agar biaya tetap terjangkau?

Namun, demi mempertahankan keuangan keluarga yang sehat, tentu strategi pengelolaan tak boleh Anda lewatkan. Tentu, yang menjadi harapan setiap keluarga adalah bisa menikmati liburan yang menyenangkan tapi kantong tidak bolong. Yuk, kita simak beberapa saran berikut!

Mencicil pendanaan

Rekreasi biasanya menyedot dana yang cukup besar. Oleh karenanya, Budi menyarankan agar pendanaan untuk rekreasi dilakukan jauh-jauh hari alias terencana. Caranya, dengan mencicil kebutuhan dananya tiap bulan. Soal besarannya memang tak ada patokan baku.

Ambil contoh begini, dalam setahun keluarga akan melakukan rekreasi dua kali pada libur sekolah anak dan pada saat Lebaran. Nah, dari keputusan tersebut, keluarga bisa membuat target besaran dana dan kapan dana yang diperlukan harus terkumpul.

Mengenai besaran uang yang bisa yang dicicil tiap bulannya, Budi memberi ancar-ancar 10% dari total pendapatan. Namun, dia menegaskan, tak ada patokan baku karena tergantung asumsi besaran dana rekreasi dan kemampuan keluarga.

Budi mengatakan, karena bisa direncanakan, maka dia tidak menyarankan keluarga untuk membobol dana darurat untuk kebutuhan rekreasi. “Dana darurat hanya untuk kebutuhan yang benar-benar darurat dan tidak bisa diprediksi sebelumnya,” tandas Budi.

Tejasari mengatakan, bonus yang biasa didapat saban tahun bisa untuk menambah pendanaan rekreasi. Tentu akan lebih bijak jika tak semuanya dicemplungkan untuk biaya rekreasi.

Karena tidak dilakukan setiap bulan, para perencana keuangan memasukkan rekreasi sebagai kebutuhan tahunan. Pos kebutuhan tahunan lain adalah membayar uang sekolah tahunan, membayar premi asuransi, membayar pajak, hingga mengalokasikan dana untuk merayakan ulangtahun anak. Meski sama-sama kebutuhan tahunan, keranjang untuk menampung alokasi dana tersebut sebaiknya dipisahkan agar pengelolaan keuangan keluarga lebih rapi dan tidak tercampur dengan tujuan keuangan yang lain.

Mengenai keranjang investasi, baik Budi maupun Tejasari mengatakan, instrumen investasi yang dipilih tentu yang sesuai dengan karakter investasi jangka pendek. Antara lain, tabungan, deposito, reksadana pasar uang, dan reksadana pendapatan tetap.

Meski Budi dan Tejasari memasukkan rekreasi dalam kebutuhan tahunan, keduanya sepakat, rekreasi juga bisa masuk dalam kategori kebutuhan jangka menengah bila tujuan rekreasi keluarga tersebut ternyata memakan dana yang cukup besar. Misalnya, liburan ke luar negeri.

Untuk kebutuhan rekreasi yang membutuhkan dana besar tersebut, waktu mencicil bisa dilakukan lebih dari setahun. Otomatis pilihan keranjang investasinya jadi makin beragam. “Bisa dimasukkan ke reksadana campuran atau obligasi saja,” kata Tejasari.

Survei harga

Menyiapkan pendanaan jauh-jauh hari ternyata membawa keuntungan ganda. Tak hanya alokasi cicilan dana yang ringan, Anda pun mempunyai kesempatan lebih banyak untuk memilih sarana transportasi dan akomodasi yang sesuai dengan kocek dan keinginan Anda. Anda bisa memanfaatkan waktu untuk melakukan survei harga dan fasilitas macam apa yang paling pas dengan kondisi kocek. “Kuncinya tentu harus mau agak repot membandingkan harga,” kata Tejasari.

Setelah yakin dengan pilihan transportasi dan akomodasi, pemesanan jauh-jauh hari pun akan memungkinkan Anda menghemat pengeluaran Anda. Harga tiket pesawat atau tarif hotel seringkali lebih miring ketimbang Anda baru membelinya ketika menjelang hari keberangkatan. Apalagi, jika jadwal rekreasi Anda itu bertepat-an dengan musim libur panjang. Biasanya, agen perjalanan dan wisata akan mengerek harga.

Manfaatkan promo

Untuk menyiasati biaya yang membengkak karena kenaikan harga, sebelum hari H rekreasi, Anda bisa memanfaatkan sejumlah program promosi yang berkaitan dengan kebutuhan rekreasi. Misalnya, promo tiket perjalanan atau penginapan murah. Bisa juga memanfaatkan program promosi kartu kredit. Cuma, jangan lupa untuk disiplin melunasi tagihan ketika jatuh tempo.

Untuk mendapatkan informasi promosi harga, Anda tentu harus rajin menggali informasi. Anda bisa bertanya sana-sini atau coba melongok situs yang menawarkan aneka kupon diskon di internet.

Memerinci kebutuhan

Setelah Anda menetapkan tujuan, waktu dan asumsi biaya rekreasi, jangan lupa membuat daftar terperinci kebutuhan Anda selama rekreasi. Hal ini perlu agar ketika rekreasi, Anda dan keluarga tidak tekor di jalan atau bahkan jadi berutang karena kekurangan dana.

Beberapa kebutuhan yang harus diperinci, seperti biaya penginapan, transportasi, makan, dan membeli oleh-oleh. Di luar biaya tersebut, Budi menyarankan agar keluarga melebihkan kebutuhan dana sebesar 10%–15% untuk biaya tak terduga selama rekreasi.

Sementara, Tejasari menyarankan agar keluarga juga mengalokasikan dana untuk biaya setelah rekreasi. Antara lain, biaya perawatan mobil yang usai dipakai rekreasi dan biaya relaksasi tubuh seluruh keluarga. “Soalnya habis rekreasi biasanya, kan, capek,” ujar Tejasari.

Nah, selamat merencanakan liburan yang menyenangkan di hati dan di kantong!

Sumber