Jangan lantaran ingin gaul, Anda malah tekor

JAKARTA. Siapa, sih, yang tidak tahu arisan? Terjemahan bebas arisan adalah kumpulan orang yang mengumpulkan uang secara teratur pada periode tertentu. Mudah sekali menemukan kumpulan orang yang menggelar kegiatan ini di Indonesia. Maklumlah, arisan ini bisa digelar mulai dari lingkungan tempat tinggal, keluarga, hingga di kantor.

Wajar saja, arisan menjadi semacam alasan bagi orang untuk kumpul-kumpul dan bertemu teman atau keluarga yang sehari-hari sulit ditemui. “Yang diutamakan dalam arisan itu biasanya benefit sosialnya, yaitu untuk menjalin silaturahmi,” sebut Mike Rini Sutikno, perencana keuangan dari MRE Financial & Business Advisory.

Bahkan, ada orang yang dalam satu periode bisa sampai mengikuti banyak arisan. Tentu saja, artinya dia juga harus mengeluarkan duit lebih banyak. Nah, kalau tak hati-hati, hal seperti ini bisa mengganggu perencanaan keuangan keluarga.

Besar kecilnya dana yang dikumpulkan memang tergantung dari kesepakatan setiap kelompok arisan. Aturannya pun biasanya sudah disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok.

“Misalnya ada arisan yang bandarnya mendapat komisi dari setiap hasil arisan yang didapat karena dia bertugas sibuk menagih tiap anggota agar selalu menyetor uang,” terang perencana keuangan dari PT Zapfindo Arzieta Perdana Prita Hapsari Ghozie.

Hanya saja, bergabung dengan terlalu banyak kelompok arisan justru akan memberatkan keuangan. Bisa-bisa, kebutuhan penting lain jadi sulit terpenuhi lantaran duit bulanan habis buat membayar arisan.

Memang, kegiatan arisan ini juga memiliki dampak positif. Prita mengatakan, selain menjalin silaturahmi dengan rekan atau keluarga, arisan juga bisa digunakan sebagai ajang untuk mengembangkan jaringan.

Asal tahu saja, tidak sedikit bisnis yang tumbuh dari hasil rutinitas pertemuan arisan. Banyak, lo, peserta arisan yang sekaligus menjadikan arisan sebagai ajang menawarkan barang dagangan. Jadi, selain mendapat kembali duit hasil arisan, dia juga mendapat pemasukan dari hasil penjualan barang dagangan.

Meski dalam arisan setiap peserta dipastikan akan mendapatkan uang segar dari dana yang dikumpulkan, perencana keuangan menilai, arisan tidak bisa dikategorikan sebagai sumber pendapatan. Perencana keuangan dari TGRM Financial Planning Services Taufik Gumulya berpendapat, seseorang sebaiknya tidak mengharapkan keuntungan dari sisi finansial dengan ikut arisan.

Alasannya, kapan seorang peserta bakal kebagian duit hasil arisan tidak bisa dipastikan. Wajar saja, lazimnya peserta yang kebagian duit arisan di periode tersebut ditentukan dengan diundi.

Alhasil, kapan si peserta mendapat duit tergantung dari keberuntungan. Bisa jadi, dia mendapat duit di awal arisan, atau bisa juga kebagian jatah di periode akhir arisan. Sementara, “Perencanaan keuangan tidak memperhitungkan faktor luck,” terang Taufik.

Bisa menjadi pinjaman lunak

Meski begitu, bukan berarti arisan tidak menguntungkan secara finansial. Dari sisi finansial, para perencana keuangan mengatakan, arisan bisa dijadikan alat paksa bagi seseorang untuk menabung.

Tentu saja, berbeda dengan produk tabungan yang dikeluarkan lembaga perbankan, konsep tabungan dalam arisan ini minus imbal hasil. “Tabungan semacam ini mungkin cocok bagi orang yang benar-benar mengalami kesulitan untuk disiplin menabung,” kata perencana keuangan dari Fahima Advisory Fauziah Arsiyanti.

Atas dasar itulah, Taufik mewanti-wanti agar keluarga tidak menjadikan arisan sebagai sarana berinvestasi.

Dia juga menyarankan agar keluarga tidak menempatkan dana yang akan didapat dari arisan sebagai dana yang diharapkan untuk mendanai kebutuhan tertentu. Misalnya, membayar kebutuhan pokok atau sebagai modal usaha. Jadi, jangan sampai Anda menjadikan arisan sebagai salah satu alternatif pendapatan.

Taufik menekankan, untuk memenuhi kebutuhan pokok dan modal usaha, setiap keluarga sebaiknya menggunakan dana hasil tabungan yang disimpan di bank. Dengan demikian, selain tetap bisa memenuhi kebutuhan, keluarga tersebut tetap mendapat keuntungan dari bunga tabungan.

Karena itulah, meski arisan sudah sangat dekat dengan kebiasaan masyarakat Indonesia, tapi para perencana keuangan mengatakan tiap keluarga tetap harus bisa bijak dalam mengikuti arisan. Apalagi, tak sedikit keluarga yang mengikuti lebih dari satu arisan.

Arisan memang bisa mempererat tali silaturahmi. Hasil arisan pun bisa dimanfaatkan untuk dana investasi. Tapi, jangan sampai kas keluarga tekor karena terlalu banyak ikut arisan.

Bagaimana caranya agar arisan tidak sampai memberatkan keuangan, tapi justru bisa menguntungkan? Tip dari para perencana keuangan berikut ini mungkin bisa jadi panduan. Yuk, kita simak.

Utamakan kebutuhan pokok

Perencana keuangan dari TGRM Financial Planning Services Taufik Gumulya menyarankan, ketika pengeluaran arisan sudah menjadi rutinitas dalam sebuah keluarga, sebaiknya iuran arisan dimasukkan ke dalam pos pengeluaran tetap (fixed cost). Soalnya, besaran cicilan untuk arisan tentu tak bisa dikurangi.

Di samping fixed cost, setiap keluarga tentunya memiliki variable cost bulanan. Di luar kedua jenis pengeluaran bulanan tersebut, Taufik bilang idealnya setiap keluarga juga menyediakan dana khusus ditempatkan dalam instrumen investasi. Besarnya setidaknya 10% dari penghasilan bulanan.

Jika pada praktiknya komponen arisan membuat pengeluaran tetap membesar, mau tak mau keluarga tersebut harus menekan pos variable cost. “Variable cost itu, misalnya, pengeluaran untuk listrik dan transportasi,” beber Taufik.

Agar tidak memberatkan keuangan bulanan, Mike Rini Sutikno, perencana keuangan dari MRE Financial & Business Advisory menyarankan, setiap keluarga menempatkan pengeluaran untuk arisan sebagaimana biaya untuk hobi. “Sebaiknya dibatasi maksimal sekitar 5% dari pendapatan setiap bulan,” sarannya.

Sementara, Taufik memberi batasan yang lebih besar. Ia menyebutkan setiap keluarga bisa mengalokasikan pengeluaran untuk arisan maksimal 10% dari pengeluaran bulanan.

Adapun Zizi, panggilan akrab Fauziah Arsiyanti dari Fahima Advisory menyarankan, setiap keluarga hanya mengikuti arisan bila seluruh kebutuhan pokok dan investasi sudah terpenuhi. “Sejauh kebutuhan untuk menabung, seperti dana pendidikan, dana pensiun, dana darurat, serta dana persiapan untuk ibadah haji, misalnya, sudah terpenuhi, maka bolehlah mengikuti arisan,” kata Zizi.

Gunakan untuk investasi

Meski peserta arisan tidak bisa memastikan kapan ia akan mendapatkan jatah duit arisan, tapi para perencana keuangan satu suara mengenai pemanfaatan uang tersebut. Menurut mereka, sebaiknya dana hasil undian arisan dicemplungkan dalam keranjang investasi. Misalnya, ditempatkan dalam reksadana. “Sebaiknya tidak untuk hal-hal yang konsumtif atau belanja,” saran Prita Hapsari Ghozie, perencana keuangan dari PT Zapfindo Arzieta Perdana.

Dengan demikian, dana dari hasil arisan tadi tidak sekadar menumpang lewat. Si peserta arisan bisa memperoleh nilai tambah dari hasil investasi tersebut. Jadi, dana arisan yang tanpa bunga tersebut berubah menjadi dana produktif.

Menurut Zizi, boleh saja orang yang memperoleh duit arisan menggunakan duit tersebut untuk kebutuhan konsumtif. Dengan syarat, barang yang dibeli benar-benar dibutuhkan.

Misalnya saja, dana hasil arisan digunakan untuk membeli sepeda bagi anak yang bisa digunakan untuk bersekolah. Kebutuhan sepeda tersebut mungkin tidak mendesak, karena si anak masih bisa bersekolah dengan angkutan umum. Tapi, dengan membelikan sepeda akan ada penghematan di pengeluaran transportasi untuk jangka panjang.

Dana arisan juga bisa dimanfaatkan bagi Anda yang memang berniat membeli barang tertentu di masa mendatang. Misalnya, Anda berniat membeli perhiasan untuk kado 10 bulan mendatang. Daripada dana untuk membeli perhiasan tadi terpakai untuk kebutuhan konsumtif lain, Anda bisa memanfaatkan arisan sebagai sarana menyimpan duit, sampai tiba saat belanja.

Selektif dalam memilih arisan

Seiring makin berkembangnya zaman, kini arisan tidak melulu berupa arisan uang, tapi juga bisa berupa arisan barang-barang tertentu. Banyak, lo, arisan yang kini memungkinkan pesertanya memperoleh perhiasan atau gadget di setiap kali giliran undian. Bahkan, arisan yang memberikan sepeda motor dan emas batangan pun kini tidak aneh lagi.

Aturan mainnya pun semakin beragam. Dengan semakin banyaknya tipe arisan ini, para perencana keuangan menyarankan agar setiap keluarga selektif dalam memilih tawaran arisan. Patokannya gampang. Pilihlah arisan yang tidak membuat kas keluarga terganggu.

Selain kas, komunitas arisan itu sendiri juga harus dipertimbangkan. “Misalnya, dari sisi barang yang dijadikan hadiah arisan, apakah bermanfaat atau tidak?” kata Taufik.

Menurut para perencana keuangan, arisan yang bisa dibilang bermanfaat antara lain berupa arisan emas. “Harga emas selalu meningkat, sehingga ada nilai investasi. Jadi, ini bagus,” tandas Mike Rini.

Sementara arisan uang atau barang, seperti gadget dan barang elektronik lainnya, memiliki kelemahan dari sisi time value of money. Pasalnya, baik barang maupun uang memiliki potensi penyusutan nilai. Nilai uang bisa menyusut lantaran faktor inflasi. Sementara, nilai gadget atau barang elektronik biasanya turun saat ada barang sejenis dengan tipe baru atau saat produksi barang tadi mencapai nilai ekonomis.

Sikap selektif juga harus dipegang oleh keluarga ketika akan membentuk sebuah kelompok arisan. Intinya, para perencana keuangan menyarankan agar kelompok arisan bisa memberikan manfaat lebih dari sekadar acara berkumpul.

Risiko arisan

Para perencana keuangan mengingatkan bahwa arisan juga memiliki risiko yang harus dipahami oleh keluarga yang mengikuti arisan. Risiko paling apes adalah setoran uang arisan dari para anggota macet, sementara Anda adalah orang yang belum ketiban giliran mendapatkan jatah arisan.

Selain itu, sudah banyak cerita soal bandar arisan yang belakangan membawa kabur duit arisan. Otomatis, para peserta arisan yang tadinya mengharapkan untung malah buntung.

Untuk mengatasi masalah yang satu ini memang membutuhkan itikad baik dari setiap peserta arisan. Selain itu, “Kenali benar komunitas arisan tersebut untuk meminimalisasi kerugian,” saran Zizi.

Selain itu, arisan juga memiliki risiko sosial. Menurut Zizi, kadang kala seorang peserta arisan terpancing mengeluarkan bujet besar untuk hal-hal yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan biaya arisan. Misalnya, biaya membeli pakaian dan perhiasan yang bagus agar tidak kalah keren dibanding peserta arisan lain. Atau, lantaran ingin pamer, si peserta arisan nekat mengeluarkan dana besar untuk menggelar arisan di tempat mewah.

Menurut Zizi, Anda harus bijak agar pengeluaran tak membengkak. Anda bisa memilih terus bergabung di komunitas arisan tersebut dengan konsekuensi harus bisa menahan diri atau memilih komunitas arisan lain yang lebih sehat. Arisan ibarat menabung tapi tanpa bunga. Jangan sampai ongkos gaul ini justru bikin Anda tekor.

Lebih untung giliran pertama

Banyak peserta arisan yang berharap bisa mendapat duit arisan di giliran undian awal. Namun, banyak juga yang lebih suka mendapat giliran di pertengahan atau malah yang terakhir. Alasannya, tidak mau merasa berutang lantaran telah mendapat duit arisan, namun tetap harus membayar cicilan arisan.

Padahal, masalah urutan mendapatkan arisan ini mempengaruhi tingkat keuntungan si peserta arisan, lo. Para perencana keuangan mengatakan, semakin awal Anda mendapat jatah duit arisan, maka tingkat keuntungan yang Anda dapatkan semakin besar.

Memang, keuntungan yang diperoleh bukan keuntungan berupa imbal hasil. Taufik menuturkan, keuntungan yang diperoleh peserta arisan tersebut terkait dengan nilai waktu atas uang alias time value of money.

Taufik menjelaskan, nilai uang semakin lama sebenarnya semakin kecil. Berkurangnya time value of money ini akan sangat terasa jika peserta arisan banyak, sehingga satu putaran arisan membutuhkan waktu lebih lama.

Selain itu, dengan mendapatkan uang arisan lebih awal, maka bisa dibilang peserta arisan itu mendapat pinjaman lunak dari peserta arisan yang lain. “Dia mendapatkan pinjaman dan setelah itu hanya perlu membayar cicilan per bulan, tanpa perlu membayar bunga,” kata Mike.

Tapi, ada juga komunitas arisan yang memiliki aturan mendahulukan jatah duit arisan untuk orang tertentu. Biasanya, orang yang mendapat keistimewaan tersebut adalah bandar arisan. Atau, bisa juga anggota arisan biasa yang bersedia uang jatah arisannya kena potong. “Kalau sudah tidak fair begitu, ya, mending ikut kelompok arisan lain,” saran Zizi.

Sumber 1 dan Sumber 2