Tinggi Daya Bertahan Hidup Manusia Purba

KOMPAS/ALBERTUS HENDRIYO WIDI ISMANTO
Kapak genggam berbahan batu silika ditemukan di situs Patiayam, Kudus, Jateng. Batu silika tak ditemukan di Patiayam, tetapi di Kendeng atau Rembang. Artinya, manusia purba Patiayam mempunyai daya bertahan hidup yang tinggi.

KUDUS, KOMPAS.com- Manusia purba Homo erectus yang hidup 750.000 tahun lalu di Pegunungan Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mempunyai daya bertahan hidup yang cukup tinggi. Mereka mampu mencari bahan baku peralatan berburu dan meramu hingga keluar daerah.

Hal itu mengemuka menyusul temuan tiga kapak genggam oleh tim eksvakasi Balai Arkeologi Yogyakarta. Ketiga kapak genggam itu ditemukan bersama dengan tulang belikat banteng purba dalam lapisan formasi Gunung Nangka sedalam 90 sentimeter. Kapak genggam dan fosil itu berusia sekitar 750.000 tahun.

Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta Siswanto, Selasa (14/2/2012), mengatakan, dua kapak genggam itu terbuat dari batu silika atau batu kapur padat, sedangkan yang satunya dari batu andesit pipih.

Batu silika itu tidak terdapat di Pegunungan Patiayam, tetapi diduga dari pegunungan karst. “Pegunungan karst yang tidak jauh dari Pegunungan Patiayam adalah Pegunungan Kendeng Utara di Pati dan Pegunungan Rembang di Rembang.

Pada zaman itu, Pegunungan Patiayam dengan Pegunungan Kendeng Utara dan Rembang terpisah oleh rawa-rawa dan sedimentasi Selat Muria,” kata Siswanto.

Artinya, dia menambahkan, manusia purba yang menghuni Pegunungan Patiayam berupaya mencari bahan baku pembuat kapak itu dengan menempuh perjalanan puluhan kilometer melewati rawa-rawa dan sedimentasi. Hal itu mereka lakukan sebagai bentuk bertahan hidup menghadapi tantangan alam dan demi kelestarian keturunan.

“Hal itu berbeda dengan manusia purba di Sangiran, Kabupaten Sragen. Kapak genggam yang ditemukan di situs itu bahan bakunya berasal dari sekitar lokasi,” kata dia.

Sebelumnya, Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan kapak genggam yang terbuat dari batu andesit di Situs Patiayam. Batu andesit itu banyak ditemukan di Pegunungan Patiayam, namun tingkat kepadatan batu kualitasnya lebih rendah dibanding batu silika, sehingga mudah pecah. Balai Arkelologi juga mendapati pecahan kerangka otak dan rahang bawah Homo erectus.

Sumber