Pemilik Brand Harus Punya Visi Bisnis

PEOPLE/JUST JARED
Nicole Richie menyadari pentingnya para desainer menyeimbangkan sisi seni dan komersial dari rancangannya.

KOMPAS.com – Menyimak foto-fotonya sebelum tahun 2004, kita bisa melihat bahwa Nicole Richie belum memiliki selera berbusana yang baik. Pilihan gaunnya serba seronok, dengan hair extension berwarna-warni, make-up yang menor, perilakunya pun serba urakan.

Namun selepas itu Nicole melakukan makeover habis-habisan pada dirinya. Bukan saja menjadi lebih ramping, santun, dan elegan, perempuan 30 tahun ini juga berhasil menjadi trendsetter di dunia fashion. Nicole tak hanya menjadi pemilik, direktur kreatif, sekaligus desainer dua brand fashion (Winter Kate dan House of Harlow 1960), kini ia juga menjadi mentor untuk Fashion Star. Dalam acara realita ini Nicole membantu para desainer pemula untuk menciptakan penampilan yang mampu memikat khalayak.

Nicole mendorong para desainer ini untuk menyeimbangkan sisi seni dan komersial dari rancangannya.

“Menciptakan sebuah brand itu sesuatu yang jauh melebihi sekadar menjadi seniman. Aku selalu memberitahu para desainer, Anda bisa saja seniman dan desainer yang hebat di dunia, dan menciptakan gaun yang indah. Tapi kalau tidak memiliki naluri bisnis, Anda tidak akan bertahan. Penting sekali menyeimbangkan kedua hal itu.”

Meskipun secara pribadi menggemari gaya hippie-chic, Nicole tidak memaksakan sudut pandangnya tersebut pada kontestan acara ini. Sebagai mentor, ia memisahkan estetika pribadinya, dan mendorong kontestan untuk menjadi versi diri mereka yang terbaik. Ibu dua anak ini berusaha membangun hubungan yang baik dengan para kontestan.

“Aku ingin menjadi teman mereka. Ketika kami berada di studio desain, aku selalu berpura-pura sedang berada di ruang ganti dan meminta pendapat temanku sebelum keluar dan bertanya, ‘Bagaimana penampilanku?’. Setiap orang ingin punya teman yang jujur (mengenai penampilan mereka) sebelum menghadiri sebuah event, jadi aku mengambil peran sebagai teman yang jujur ini, dan memberikan masukan yang baik atau buruk. Tapi tak ada yang disampaikan dengan cara yang kasar dan menghakimi, lho.”

Ia sendiri mengaku banyak belajar dari aktivitasnya sebagai mentor. Di sini lah ia mendapat lebih banyak masukan mengenai apa yang diinginkan para buyer dari toko ritel besar seperti H&M, Macy’s, dan Saks Fifth Avenue, dari para desainer.

“Inilah pertama kalinya aku menghabiskan banyak waktu dengan buyer,” ujar Nicole, sambil menambahkan bahwa karena kesibukannya, desainer umumnya hanya bertemu dengan buyer sekali dalam satu season. “Aku bilang pada para desainer ini, ‘Tahukah Anda betapa beruntungnya Anda bisa membuat para buyer ini berfokus pada koleksi Anda setiap minggu?’ Aku hanya bisa meminta buyer melihat-lihat koleksiku satu kali dalam satu season, itu saja sudah bagus, atau mereka tidak melakukannya sama sekali.”

Kontestan dalam acara yang diproduseri oleh Elle McPherson dan Jessica Simpson sebagai salah satu host dan mentor-nya ini, harus berjuang agar koleksi mereka dibeli oleh para buyer untuk dijual di toko-toko ritel tersebut. Setiap episode, kontestan yang gagal menjual koleksinya ke buyer akan dieliminasi. Pada akhirnya hanya akan ada satu pemenang, yang akan memenangkan kontrak 6 juta dollar dari tiga retailer tadi.

Sumber