Mark Zuckerbeg Miliki ‘Masalah’ Serius, Investor Perlu Waspada

Mark Zuckerberg

REPUBLIKA.CO.ID, Ada topik serius yang wajib dipahami oleh calon potensial pemegang saham Facebook saat IPO nanti. Pria yang menjalankan perusahaan tersebut, Mark Zuckerberg tidak terlalu peduli dengan uang.

Memang Zuckerbeg telah melakukan pekerjaan jenius dengan membangun Facebook menjadi produk yang digunakan 900 juta orang tiap bulan dan 500 juta orang per hari. Karena basis pengguna yang begitu masif, nilai Facebook meroket dari tahun ke tahun, terakhir mencapai 100 milyar dolar AS (Rp920 triliunan) di pasar non-publik, beberapa pekan sebelum IPO.

Pengguna boleh besar tapi iklan lain soal. Bisnis Iklan di Facebook sebenarnya jalan di tempat selama beberapa tahun terakhir. Pemasukan dari iklan terus menurun. Bisnis berbayar–yakni menghasilkan duit dari game-game macam Farmville–juga menyusut selama kuartal pertama tahun ini.

Pendapatan dan pertumbuhan pemasukan bisa dibilang mengecewakan. Bila dibanding iklan TV dan mesin pencarian, unit iklan facebook masih jauh di bawah.

Digali lebih dalam, kondisi itu sepertinya tak lepas dari si pendiri Facebook yang tidak betul-betul peduli dengan uang ketika menjalankan perusahaan senilai 100 miliyar dolar itu. Pemikiran itu muncul setelah seorang teman dekat Zuckerbeg menjawab pertanyaan, “Seperti apa sikap sesungguhnya Mark Zuckerberg terhadap uang?”

Si teman, mantan karyawan Facebook, Ezra Callawahn, menulis jawaban yang layak diperhatikan. “Ketika saya bekerja dengan Mark Zuckerbeg, uang pastinya bukan motivator utama. Ia masih tinggal dengan gaya hidup bohemian absurd. Setelah nilai Facebook mencapai 1 milyar Dolar, Mark masih bekerja dan menghabiskan sebagian hidupnya ketika terbangun di kantor. Jadi sepertinya bukan persoalan besar bila apartemennya tak diisi perabot atau membelanjakan uang untuk apa saja (makanan, pakaian, apa pun..benar tak ada). Ia tidak pindah ke rumah sesungguhnya hingga beberapa tahun lalu, ketika tim keamanan Facebook dan penasihatnya memaksa ia pindah.

Motivasi utama Mark jelas, benar-benar seputar keinginan mengubah dunia dan membangun teknologi yang bisa digunakan siapa pun di planet ini. Dia bukanya tidak tahu dan tidak sadar bahwa ia sukses dan menjadi luar biasa kaya. Namun sepetinya semua itu seperti efek samping kebahagian dari tujuan utama dia. Impresi saya saat itu jika ia bisa memilih, ia akan cenderung menjadi orang yang penting dan berpengaruh di dunia ketimbang orang terkaya di dunia.

Saya pikir itu sangat gamblang terlihat dari bagaimana ia mengarahkan perusahaan untuk fokus terhadap pertumbuhan pengguna dan dampak produk ketimbang pendapatan atau pertimbangan bisnis. Bahkan hari ini, meski Facebook menghasilkan timbunan uang, magnitudonya masihlah tak sebesar tujuan utamanya.”

Begitulah kira-kira pengakuan si teman. Zuckerberg pun pernah menyatakan langsung bahwa uang tidak memotivasi dirinya atau Facebook yang ia kendalikan. Ia sendiri akan tetap mengendalikan Facebook setelah IPO digelar.

Dalam prokpektus IPO Facebook ia menulis. “Kami tidak membangun layanan untuk menghasilkan uang, kami menghasilkan uang untuk membangun jaringan yang lebih baik.”

Jarak antara Zuckerberg dan kepedulian finansial juga sangat kentara dalam cara ia mengatur perusahaan. Jabatan COO mungkin dipegang oleh Sheryl Sanberg, tetapi secara esensial ia juga menjadi CEO bisnis perusahaan, menjalankan seluruh penjualan dan operasi keuangan secara mandiri. Zuckerberg pun terlihat ‘menceraikan’ dirinya dari proses IPO dengan mendelegasikannya kepada CFO terpercayanya, David Ebersman.

Kini ketika Facebook hendak go public, secara implisit Zuckerberg menawarakan kepada pemegang saham disertai ungkapan. “Saya ingin menjadikan Facebook kekuatan dunia. Untuk mewujudkan itu, saya butuh membayar orang-orrang top dan membeli perusahaan untuk memenangkan kompetisi. Untuk mewujdukan itu, saya butuh operasi yang sehat dan menghasilkan uang. Karena itu, saya cukup peduli dengan pendapatan dan saya akan membayar orang yang bisa saya percaya untuk mengurus itu. Kini tinggalkan saya sendiri.”

Gaya itu bertolak belakang dengan deretan pengusaha teknologi sukses yang telah melakukan pembagian saham ke publik. Pendiri Google, Larry Page, misal, ia tak bermaksud tamak, tapi sangat menyukai uang. Ia memiliki beberapa jet pribadi cukup besar dan kini bahkan berinvestasi di perusahaan yang ingin membuka tambang di beberapa asteroid.

Lalu Bill Gates dengan kompleks rumah superbesar dan yayasan donasinya juga memberi petunjuk jelas, ia peduli dengan kesejahteraan pribadinya. Pun Jeff Bezos, meski berhati-hati tidak mendorong Amazon untuk terlalu serakah dengan profit dan menghemat belanja demi pertumbuhan jangka panjang, masih peduli dengan uang. Ia malah berencana menggunakan uangnya untuk meluncurkan roket dan berwisata ke luar angkasa.

Mungkin yang hampir mirip ialah Steve Jobs. Sosok satu ini sepertinya tak terlalu peduli amat dengan uang . Dibanding para superkaya lain, ia tinggal di rumah yang relatif sederhana di lingkungan menengah atas Palo Alto. Gaya busananya juga tak ribet, cukup kaus turtle neck hitam lengan panjang dan celana jins. Satu yang Jobs peduli ialah membuat produk-produk cantik yang dicintai konsumen.

Namun bedanya antara Jobs dan Zuckerberg ialah antara siapa yang memberi uang kepada perusahaan. Ketika orang-orang menyukai Facebook, mereka tidak membayar ratusan atau ribuan dolar untuk menggunakannya, tak seperti konsumen Apple yang harus merogoh kocek demi menikmati jajaran ‘iProduknya’.

Uang Facebook datang dari iklan dan Zuckerberg sepertinya tidak begitu peduli jika mereka menyukai atau tidak. Ia menyewa orang yang mau melakukan itu untuknya. Sesungguhnya, motivasi Zuckerberg terhadap Facebook bisa dilacak ke belakang saat permulaan ia membangun jejaring sosial ini.

Ketika masih di Havard, ia berkata kepada temannya lewat pesan instan. “Well, saya tidak tahu tentang bisnis. Saya puas membuat sesuatu yang keren.” Jadi para calon pembeli saham potensial harus memutuskan apakah mereka bisa sejalan dengan gaya macam ini.

Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari

Sumber