Mengapa Jakarta Butuh Latih Tanggap Gempa

Di Jepang, skenario lalulintas saat gempa terus dilatih agar proses evakuasi tidak lama.

Warga panik saat gempa di Jakarta (ANTARA/Andika Wahyu)

VIVAnews – Jakarta dikepung oleh 12 sumber gempa, dan dampak serangan gempa di ibukota itu perlu diwaspadai. Salah satunya, kesiapan pemerintah dan warga dalam hal skenario evakuasi. Diperlukan pelatihan sesuai standar operasional prosedur (SOP) tanggap gempa.

Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan masyarakat perlu dilatih terus menerus karena ancaman bencana kini semakin nyata. “Bencana itu suatu keniscayaan, pasti akan terjadi,” katanya kepada VIVAnews.

Menurut Sutopo, pengaruh gempa di selatan Tasikmalaya pada 2009 lalu, membuat warga Jakarta khususnya penghuni gedung tinggi panik. Mereka tidak tahu harus ke mana saat berada di luar gedung. Kemacetan panjang terjadi di sepanjang Jalan Sudirman dan Thamrin.

“Jakarta tidak ada bahu jalan dan jalur hijau, jalan akan jadi macet. Hal seperti ini perlu dilatih, seperti di Jepang skenario lalulintas juga dilatih,” katanya.

Ditambahkan Sutopo, anggaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang mencapai Rp36 triliun harusnya juga dialokasikan bagi kegiatan latihan evakuasi gempa untuk tingkat kota. Selain itu, seluruh penghuni perkantoran juga harus berlatih secara mandiri.

“Harus disusun peta mikro zonasi mengenai gempa bumi. Sehingga dapat memudahkan saat melakukan evakuasi, termasuk menyusun simulasi untuk gempa selatan Jawa yang berkuatan 8,5 SR,” kata Sutopo lagi.

Dampak besar yang harus dipikirkan bukan karena longsor akibat gempa dan ancaman tsunami, tapi karena reruntuhan gedung saat gempa berkuatan besar.

Kepanikan warga Jakarta dan pengetahuan yang terbatas mengenai apa yang harus dilakukan sebelum dan setelah gempa sudah harus dirangkum dan dipersiapkan dalam SOP tanggap gempa.

Langkah siaga perlu dilakukan terus menerus dari mulai kawasan kumuh sampai penghuni di gedung tinggi seperti di kawasan SCBD dan Mega Kuningan.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengakui belum memiliki standar operasional prosedur (SOP) tanggap gempa bumi. Padahal penduduk Jakarta kerap merasakan gempa dari wilayah lain.

Pemerintah DKI masih memprioritaskan pembuatan SOP bencana banjir yang dinilai sebagai bencana utama di ibukota. Untuk SOP tanggap gempa masih akan disusun.

Diakui Kepala BPBD DKI, Arfan Arkili, sejumlah gedung bertingkat di ibukota belum memiliki petunjuk jalur evakuasi, itu sebabnya diperlukan sosialisasi dan pelatihan agar tidak kaget saat SOP diberlakukan.

Ada 12 sumber gempa yang mengepung Jakarta. Ancaman itu berupa sesar dan subduksi yang letaknya di darat maupun di lautan. Dalam radius 500 kilometer dari pusat kota, ada beberapa sumber gempa. Seperti sesar Semangko dengan prediksi kekuatan (magnitude) gempa maksimal 7,6 SR, Sesar Sunda 7,2 SR, Sesar Cimandiri 7,6 SR, Sesar Baribis, Sesar Lembang dengan kekuatan maksimal 6,5 SR.

Sementara di wilayah Jawa Tengah ada sumber gempa Sesar Opak dengan kekuatan maksimal 6,4 SR, Sesar Lasem kekuatan maksimal 6,5 SR, Sesar Pati 6,8 SR, dan Sesar Bumiayu.

Sedangkan, sumber gempa lain yakni Subduksi Sumatera yang berada dalam radius 210 Km dengan kekuatan maksimal 8,2 SR, Subduksi Jawa dalam radius 172 Km dengan kekuatan maksimal 8,1 SR dan Subduksi Dalam dengan radius 120 Km memiliki kekuatan maksimal 7,8 SR.

Sumber