Budayakan Hidup Bersama Gempa

Ilustrasi – google.co.id

Jakarta – Indonesia sudah ditakdirkan memiliki gunung berapi dan patahan bumi. Kampanye hidup dengan gempa itu harus menjadi sebuah peradaban di negeri ini, dan hal tersebut harus dimulai dari suatu regulasiagar semua bangunan tahan terhadap gempa.

Hal tersebut disampaikan Ridwan Kamil, salah seorang arsitek rancang urban, di sela-sela Peluncuran Menara Sentraya, di Jakarta, Rabu (18/4).

Menurut Ridwan, Indonesia harus belajar banyak dari Jepang. Karena, begitu gempa dan tsunami menerjang, warga Jepang telah memiliki persiapan. Sehingga , jumlah korban dapat diminimalisir. “Tsunami Jepang kan sama hebatnya dengan tsunami Aceh, tetapi karena persiapannya lebih baik, jumlah korban dapat diminimalisir,” ujar Ridwan.

Ridwan menjelaskan, di Indonesia telah terjadi peningkatan signifikan terutama terhadap perhatian pada gempa. “Semua gedung di Jakarta sejak tahun 2000 keatas, harus memiliki dokumen anti gempa Tanpa hal tersebut, mereka tidak akan lulus ijin dari Tim Penasehat Konstruksi Bangunan (TPKB),” ujarnya.

Ridwan menambahkan, TPKB merupakan badan yang mengurus bagian keamanan struktur bangunan. Pada tes tersebut, bangunan akan dibuktikan struktur anti gempanya, dengan skala yang dilebihkan.

“Sejak 10 tahun terakhir, peraturan anti gempa sudah sangat ketat, karena peraturan IMB mewajibkan hal tersebut. Sehingga pada bangunan yang didirikan pada tahun tersebut, level bangungannya sudah safe,” kata Ridwan.

Kunci dari teknologi anti gempa adalah struktur bangunan yang tidak kaku, sehingga kalau didorong oleh gempa tidak mudah patah. Teknologi anti gempa di Taiwan, menggunakan bandul raksasa, yang akan melawan bila ada gempa.

“Kunci anti gempa di Indonesia, kalau ada gempa datang, bangunan akan bergoyang. Jadi kalau bangungan bergoyang, jangan diasumsikan bangunan akan runtuh. Bisa dikatakan, bangunan sedang menyesuaikan diri dengan gempa,” ujar Ridwan.

Sejauh ini, Ridwan terus melakukan kampanye di beberapa wilayah yang rawan dengan gempa. Menurutnya, bangungan di daerah kampung yang menggunakan kayu dan bambu, justru lebih tahan terhadap gempa. Hal ini dikarenakan elastisitas bambu dan kayu mengikuti gerakan gempa. [WS] 

Sumber