Wamen ESDM: Keliru Indonesia Kaya Minyak

Metrotvnews.com, Pekanbaru: Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Widjajono Partowidagdo mengatakan suatu persepsi keliru bahwa Indonesia negara kaya minyak. “Padahal Indonesia itu tidak kaya minyak,” kata Widjajono Partowidagdo dalam Seminar Nasional pada Expo 2012 Universitas Islam Riau, di kampus kawasan Marpoyan, Pekanbaru, Riau, Sabtu (14/5).

Seminar Nasional itu terselenggara atas kerja sama BP Migas dengan Fakultas Teknik Jurusan Perminyakan UIR. Bertindak sebagai moderator adalah Rektor UIR Prof Detri Karya.

Menurut Widjajono, terdapat beberapa kesalahan persepsi mengenai energi di Indonesia. Salah satunya ialah Indonesia adalah negara yang kaya minyak.

Dia mengatakan Indonesia lebih banyak memiliki energi seperti batu bara, gas dan coal bed methane (CBM), shale gas, panas bumi dan air, bahan bakar nabati (BBN).

Dia menambahkan presepsi keliru lainnya bahwa harga BBM harus murah sekali tanpa berpikir bahwa hal itu menyebabkan terkurasnya dana pemerintah untuk subsidi BBM, ketergantungan pada BBM yang berkelanjutan. Juga impor minyak dan BBM yang makin lama makin besar serta makin sulitnya energi lain berkembang.

Kekeliruan lain, katanya, yakni investor akan datang dengan sendirinya tanpa perlu bersikap bersahabat dan memberikan iklim investasi yang baik. Padahal masalah itu tidak benar.

Demikian pula peningkatan kemampuan nasional akan terjadi dengan sendirinya tanpa keberpihakan pemerintah. Padahal tidak, bahkan Indonesia tidak diuntungkan dengan kenaikan harga minyak dunia.

Guru besar perminyakan ITB itu mengatakan, energi terbarukan yakni tenaga air, panas bumi, mini/mikro Hydro, biomass, tenaga surya, tenaga angin dan uranium.

Berdasarkan data, Indonesia tahun 2011 memproduksi minyak sebanyak 902 ribu barel per hari, gas sebanyak 1,5 juta barel (ekivalen minyak) dan batu bara 3,4 juta barel per hari, BBM sebanyak 499 ribu, gas 797 ribu dan batu bara 2,4 juta barel.

Namun cadangan gas sebesar 18,7 miliar lima kali lipat, cadangan batu bara sebanyak 67,8 miliar sebanyak 18 kali. “Sebagai negara net importer minyak dan yang tidak memiliki cadangan tidak terbukti, kita tidak bijaksana bila mengikuti harga BBM murah di berbagai negara yang cadangan minyaknya melimpah,” katanya.

Selain itu, menurutnya, upaya yang dilakukan supaya investor datang ke Indonesia perlu sistem fiskal yang lebih menjamin keuntungan atau mengurangi resiko kontraktor dengan memberikan bagian pemerintah.

Upaya lain adalah agar pemerintah meningkatkan kualitas pelelangan dan informasi wilayah kerja yang ditawarkan dengan studi Geofisika dan Geologi yang lebih baik supaya diperoleh informasi perusahan yang bonafid.(Ant/BEY)

Sumber