Smartphone Bikin Hidup Pekerja Tak Bahagia

Ist

INILAH.COM, Jakarta – Saat ini, smartphone seperti primadona, baik di kalangan pekerja atau pengguna kasual. Baru-baru ini, ahli mengungkap, gadget ini ternyata sumber masalah pegawai. Bagaimana?

Saat ini, Anda bisa melihat orang menggunakan smartphone seperti Blackberry, iPhone dan sejumlah ponsel pintar lainnya baik di kereta, bus atau saat sedang berjalan kaki. Orang-orang ini tampak seperti cemas saat membuka gadget mereka untuk memeriksa email dan pesan.

Bahkan, di malam hari dan di akhir pekan, keinginan untuk melirik smartphone bisa menjadi hal yang sangat tak tertahankan. Tak hanya itu, banyak orang yang tidur dengan posisi gadget berada di samping tempat tidur.

Namun, hasil penelitian terbaru menemukan, memberlakukan larangan memeriksa BlackBerry, iPhone atau perangkat sejenis untuk para staf selama satu malam dalam sepekan bisa mengarahkan pegawai pada peningkatan kebahagiaan dan kinerja di tempat kerja.

Studi yang dilakukan Harvard Business School ini juga melarang konsultan manajemen untuk memantau pekerjaan pegawai setelah pukul 18.00 sore sepekan sekali. Percobaan yang disebut PTO atau Predictable Time Off ini dilakukan pada 1.400 karyawan dari Boston Consulting Group (BCG) selama tiga tahun.

Profesor Leslie Perlow terinspirasi melakukan studi ini setelah menemukan 26% karyawan dari sampel 1.600 manajer dan profesional tidur bersama BlackBerry atau iPhone di samping tempat tidur mereka.

Awalnya, manajer BCG juga mengkhawatirkan percobaan ini dan memperingatkan akan menghentikan percobaan ini segera jika ‘ada kekhawatiran mengenai kualitas pekerjaan BCG’.

Beberapa konsultan ‘gila kerja’ menolak PTO ini sementara tim lain mendukung ini secara setengah-setengah. Namun, mereka yang memiliki ‘downtime’ biasa mengaku menemukan kepuasan kerja yang lebih besar dan tinggal di perusahaan itu lebih lama untuk karir jangka panjang.

Mereka juga mengaku keseimbangan kehidupan kerja mereka mengalami peningkatan dan mereka menjadi lebih produktif. Selama tiga tahun terakhir, 59% orang yang mendukung PTO menyatakan, “Saya senang mulai bekerja di pagi hari” dibanding 27% dari mereka yang menolak PTO.

Saat ditanya apakah mereka ‘merasa puas’ dengan pekerjaan mereka, 78% di antaranya menjawab ya dan 67% lainnya menerimanya secara setengah-setengah, dan 49% menolak.

Hasil studi ini menemukan, mereka yang memilih mematikan smartphone menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga dan mulai membuat rencana masa depan untuk kehidupan sosial, bukan tanpa henti membatalkan atau tidak mau repot-repot dengan hal tersebut.

Profesor Perlow mengatakan, “Kami menemukan, orang ‘on’ seperti terjebak pada pekerjaannya dan saat bekerja, masalah sering kali muncul. Hal menarik dari jenis orang ‘on’ adalah, makin banyak orang jenis ini, pekerjaan mereka makin tak sulit diprediksi.”

Secara konstan selalu terhubung dengan pekerjaan membuat orang-orang ini tampak memperkuat tekanan yang menyebabkan orang selalu harus harus ‘tersedia,’ lanjutnya. “Memberi satu malam terbebas dari ini akan membantu mematahkan siklus tersebut,” tutupnya. [mdr]

Sumber