Uang Bukan Motivasi Utama untuk Sukses

Tony Hsieh, CEO dari Zappos.com

Dari seorang anak imigran Taiwan akhirnya menjadi miliarder. Bukan hal yang mudah untuk mencapainya. Namun, dengan menjadi CEO dari Zappos.com, pemimpin global dalam penjualan online, Tony Hsieh mampu membuktikan segalanya bisa kita capai kalau mau berusaha. Lalu, bagaimana Hsieh melakukan segalanya?

Salah satu kisah sukses bisnis internet dalam beberapa tahun terakhir adalah Zappos, sebuah bisnes e-commerce dengan penjualan 1 miliar dolar yang dibeli Amazon tahun lalu. Kesuksesan itu tidak terlepas dari peran Tony Hsieh. Bahkan bisa dikatakan kesuksesan Zappos adalah kesuksesan Tony Hsieh.

Apa pasal? Sepuluh tahun lalu, retailer online penjual sepatu terkenal itu tidak ada apa-apanya, sampai seorang Tony Hsieh pada 1999 masuk sebagai seorang konsultan bisnis dan investor. Dia melakukan hal-hal yang bisa mengubah semuanya.

CEO Zappos, Tony Shieh

Pendekatan Hsieh yang tidak biasa terhadap budaya perusahan itu membuat Zappos tidak hanya membawanya menjadi sebuah bisnis yang sangat menguntungkan, tetapi menjadikan dia sebagai seorang yang dicintai para pelanggan dan karyawan. Dia baru diangkat sebagai CEO Zappos tahun 2000. Dia sukses memimpin Zappos karena menekankan nilai-nilai utama perusahaan yang dibuat agar seluruh karyawan bahagia.

“Prioritas utama kami di Zappos adalah budaya perusahaan. Kepercayaan kami adalah bahwa bila kami mendapat budaya yang benar, maka hal-hal lainnya seperti pelayanan pelanggan yang besar atau brand perusahan yang kuat untuk jangka panjang akan terjadi secara alamiah,” kata Hsieh yang juga penulis buku Delivering Happines: A Path to Profits, Passion and Purposes itu.

Hsieh yang baru berumur 36 tahun sudah menjadi CEO Zappos. Dia sudah sangat sukses sebagai seorang wiraswatawan (entrepreneur), tetapi uang bukanlah satu-satunya yang memotivasinya. Yang terus memotivasi dia, katanya, adalah terus mengembangkan perusahaan dan budaya perusahaan yang dibangun tim Zappos selama satu decade terakhir. Dan, sejauh ini, Amazon sudah mengikuti jejaknya dalam membangun budaya perusahaan. Prinsipnya, Hsieh harus ada untuk sesuatu. Berkat keberhasilannya, Majalah Fortune menempatkan Zappos di peringkat ke-15 dalam Best Companies to Work For pada awal tahun ini.

Lahir untuk Bisnis

Hsieh adalah generasi pertama warga Amerika keturunan Taiwan. Dia bergabung dengan tim Zappos ketika baru berumur 20 tahun. Ketika itu, dia baru saja lulus dari universitas dan masih sangat segar dengan ilmu yang dipelajarinya di bangku kuliah. Dia belum dikenal siapa pun untuk menciptakan dan mengelola bisnis bernilai jutaan dolar.

Sejak berusia yang sangat muda, dia sudah memiliki insting wirausaha. Dia pernah mencoba beberapa usaha sebelum dia menempuh pendidikan tinggi. Dia pernah membuat perusahaan kancing sendiri. Kemudian, sambil belajar ilmu komputer di Harvard University dia mulai membuat kancing-kancing yang ternyata laris dipesan mahasiswa kampusnya, bahkan lebih laris dari Pizza.

Tidak lama setelah lulus kuliah di Harvard pada 1996, Hsieh ikut mendirikan LinkExchange, sebuah webiste bisnis pembangunan yang sesuai dengan keterampilannya. Atas kreasinya itu, dua tahun kemudian Microsoft membayarnya 265 juta dollar Amerika. Tentu saja, pria kelahiran 12 Desember 1973 membutuhkan tantangan lain dan terus menguji insting wirausahanya. Tantangannya adalah Zappos. Tujuan dia adalah untuk menciptakan perusahaan, dan pada saatnya berupaya untuk menciptakan stabilitas keuangan.

Zappos kemudian mengangkatnya sebagai CEO dan dia merancang apa yang harus dikerjakannya. Hsieh menumbuhkan perusahaan yang pada awalnya hampir tidak memiliki penjualan dalam waktu singkat menjadi sebuah perusahaan dengan total penjualan Rp 1 miliar dollar  (Rp 9 triliun) saat ini.

Prinsip yang membimbingnnya adalah kebahagiaan. Ketika anda suka dengan apa yang anda lakukan dan tempat anda bekerja, hal-hal besar akan terjadi. “Kami memiliki 10 nilai utama di Zappos. Kami mencoba untuk merekrut karyawan yang memiliki nilai personal yang cocok dengan nilai perusahan kami,” kata Hsieh sambil juga menekankan pentingnya tetap menjaga rahasia perusahaan untuk tidak dibawa keluar kantor.

“Ini tentang menjadi diri anda sendiri di kantor karena kami menemukan bahwa ketika persahabatan sesungguhnya terbentuk, di situlah kreativitas sesungguhnya terbentuk dan ide-ide besar bermunculan. Inilah yang mendorong pertumbuhan kami yang hebat,” imbuhnya berbagi sedikit tentang rahasia kesuksesannya.

Perusahan tidak akan merekrut orang yang sudah mapan dengan kultur perusahaan mereka sebelumnya. “Salah satu nilai perusahan kami adalah rendah hati dan inilah yang menuntun kami dalam proses merekrut karyawan. Ada banyak orang baik di luar sana yang juga egois, tetapi kami tidak akan merekrut mereka,” ceritanya seperti dilansir dari yahoo.

Kami juga akan mengambil tindakan tegas bahkan memecat karyawan yang tidak hidup berdasarkan standar perusahan kami. Sering kali perusahaan-perusahaan yang sedang berkembang bisa ditelikung oleh perusahaan lainnya karena kultur perusahaan dirusak hanya karena untuk mendapatkan uang yang banyak. Bukan itulah yang kami lakukan, kata Hsieh mengingatkan.

Sebelum Amazon dan Zappos mencapai kesepakatan, Amazon menandatangani sebuah dokumen yang mengatakan bahwa Zappos akan terus melanjutkan core bisnisnya. Dan Hsieh mengatakan Amazon sudah menghormati komitmen itu.

Pada dasarnya, yang berubah dari Zappos hanyalah board of directornya setelah diakuisisi Amazon. Zappos tetap menjalankan bisnis jualan sepatu onlinenya dan itulah yang memampukannya membangun budaya yang membuatnya bertahan hidup selama satu decade sebagai sebuah perusahan yang independen. ins

Inilah Rahasia Suksesnya!

Budaya “Bersenang-senanglah,” kata Hsieh. “Permainan jauh lebih menyenangkan ketika Anda mencoba untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar menghasilkan uang.” Itulah sebabnya Hsieh terus memberi begitu banyak tekanan untuk menciptakan lingkungan kerja yang positif dan menyenangkan. Dia berharap untuk bisa datang bekerja di pagi hari, dan ingin karyawannya merasakan hal yang sama.

Merekrut  “Saya pikir pelajaran terbesar yang saya pelajari adalah, ada banyak bakat lebih yang tersembunyi dan potensi karyawan dari yang Anda pikirkan,” kata Hsieh. “Ini hanya tentang membangun budaya yang tepat dan mencari tahu bagaimana cara membuka semua bakat tersebut. Hal itu tidak selalu mudah untuk dicari tahu.”  Itu sebabnya, Hsieh menggunakan serangkaian pertanyaan wawancara unik untuk memastikan ia menemukan orang yang tidak hanya terampil bekerja untuknya, tetapi juga cocok dengan tim Zappos.

Peluang Hsieh menjadikan bisnis seperti bermain poker. Dirinya tidak pernah berhenti mencari peluang di mana ia bisa menonjol dan memenangkan permainan.

Perspektif  Ketika Hsieh duduk dimeja poker, ia tidak tertarik untuk memenangkan permainan hanya dari tangan pertama, atau bahkan kedua. Dia ingin menang, itu pasti. Tapi bukan itu tujuannya. Hsieh tertarik sebuah wadah yang lebih besar di akhir pertandingan, dan dia tahu bahwa jika dia berniat menerimanya, ia harus tetap fokus bukan hanya pada hal tersebut. “Bisnis, seperti permainan poker, membutuhkan adopsi perspektif jangka panjang jika Anda ingin berhasil.”

Layanan  Tanyakan setiap pelanggan dan Anda dengan cepat akan mengethui bahwa merek Zappos ini identik dengan satu hal: layanan. “Mungkin kami tidak memiliki semua produk yang Anda inginkan, tetapi akan membuat apapun pesanan Anda cepat dan efisien.” ins  Share

Sumber