Tetap Optimistis Walau Tanpa Dukungan Keluarga

Andhika Arief Rahmadhani

JIWA wirausaha memang sudah diperlihatkan Andhika Arief Rahmadhani (28) sejak masih duduk di bangku SMP. Berbekal kegemaranya dibidang desain dan memanfaatkan peluang yang ada, dia mampu membuktikan kepada keluarga dengan hasil kerja keras yang sudah dia peroleh sampai saat ini.

Pria muda berpawakan tinggi putih ini, mengawali bisnis usahanya di daerah Madura, tempat keluarga besarnya tinggal. Andhika membuka rumah makan berjuluk ’Bebek Raja’ (kini bernama RaBek alias Raja Bebek) pada tahun 2008. Dengan mengembangkan resep keluarga, dia memberanikan diri bersaing dengan bermacam-macam brand bebek yang sudah terkenal.

Ternyata, saat langkah awal masuk di dunia wirausaha tidak semulus yang dia harapkan, karena dari pihak keluarga terutama sang Ibu tidak memberikan dukungan, karena kekhawatiran di dunia usaha yang tidak selalu pasti.

”Dari awal memulai usaha ini, Ibu tidak pernah memberikan dukungan karena beliau ingin saya menjalani pekerjaan yang pasti. Maklum namanya orang tua selalu menghawatirkan, ya takutnya saya gagal,” tutur Andhika.

Namun dengan kegigihan dan kerja kerasnya, pria lulusan D3 jurusan creative adv design ini mampu membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa dengan mengelola usaha bebek, dia mampu menghasilkan omzet sampai 120 juta rupiah per bulan. Setiap harinya rumah makan yang dikelola Andhika mampu menghabiskan 60-80 ekor bebek.

Andhika mengatakan, memang awalnya saya beri nama Bebek Raja. ”Namun karena pada waktu itu pelanggan saya yang di Madura kebiasaan membalik kata akhirnya mereka menyebut raja bebek, disingkat menjadi ’RaBek’ dan sampai saat ini, saya sudah membuka di dua kota Madura dan Surabaya, untuk omzet terbesar ada di Madura,” tukasnya.

Andhika membuka usaha bebek, termasuk pengalaman baru dari pekerjaan yang dulu dia geluti. “Demi bebek, saya banting setir loh mbak, dulu saya di Entertaintment mengurus event organizer (EO), kontrak band ke kota-kota seperti Bali, Jogja, Solo dan pernah menjadi editor disalah satu majalah yang terbit di Bali,” ujarnya. Namun setelah tahun 2008, dia berhenti. Karena lelah harus kontrak untuk ngeband berkisar sampai tiga bulan tambahnya.

Sementara itu kendala saat ini yang dikeluhkan Andhika, lebih kepada mengatur sistem manajemen, “Saya ingin membuat struktur sistem, agar pengelolaan usaha ini bisa berjalan dengan baik. Yah layaknya membuat officenya lah mbak, biar tidak kocar kacir,” ungkapnya.

“Meskipun saya memiliki brand baru di Surabaya, tapi saya juga belajar mengedukasi kepada para pembeli agar dapat membedakan antara bebek dan mentok. Karna memang kebanyakan dari pembeli tidak bisa membedakan mana bebek dan mentok,” ujarnya.

Dengan pemasaran melalui online, sms, brosur, bebek RaBek Andhika mendapat banyak pesanan  dari perusahaan-perusahaan besar yang ada di Surabaya.

Andhika membagi trik dan tips untuk pemula, yang ingin mengikuti jejaknya sebagai wirausahawan muda. “Jika ingin memulai usaha, harus punya konsep, kita tidak perlu modal pribadi, dari konsep yang kita buat, kita bisa mencari investor untuk memodali usaha kita,” ujarnya. Adapun arti sebuah kesuksesan bagi Andhika  adalah, lebih banyak berbagi kepada semua orang. ”Percuma saja jika kita sukses sendiri. Akan tetapi orang-orang yang di belakang kita juga harus sukses,” ungkapnya. m10

Sumber