Pameran Lukisan Online di Paris

Radio Nederland, Selasa (03/04) Google melansir The Art Project, pameran seni online atau dalam jaringan (daring) di Musée d’Orsay, sebuah museum di Paris, Prancis. Di sana orang antara lain bisa melihat detil terkecil lukisan karya Rembrandt, Nachtwacht (Penjaga Malam, Red.), karya seni dari Peru, Sint Petersburg dan New Delhi. Selain karya Rembrandt, masih banyak lagi lukisan Belanda yang bisa disaksikan di sana.

“Coba lihat, sangat menyenangkan,” kata Martijn Pronk dari Rijksmuseum. Ia berdiri di balik komputer di Musée d’Orsay. “Di sini ada Nachtwacht karya Rembrandt online. Coba saya perbesar gambarnya.”

Pronk pun berkali-kali mengklik gambar itu dan kembali menunjuk layar komputer. “Coba lihat di sini. Ada gambar kecil seorang pria yang bermata satu di balik pagar. Kelihatan nggak? Orang bilang dia itu Rembrandt.”

Di lukisan Nachtwacht di Rijksmuseum gambar kecil itu hampir tidak kelihatan. “Tapi di sini, coba lihat!,” Pronk hampir berteriak saat ia menge-zoom atau memperbesar gambar itu. “Garis-garis pensil di seputar matanya terlihat jelas! Ini lebih besar dari aslinya, larger than life: luar biasa! Di sini kita dapat melihat apa yang tidak bisa dilihat di museum.”

Banyak karya seni Belanda
Martijn Pronk berada di Paris untuk menghadiri peresmian The Art Project, pameran karya seni daring, yang diselenggarakan perusahaan internet Google. Rijksmuseum adalah satu dari enam museum yang berpartisipasi dalam proyek ini.

“Kami menyerahkan sekitar 25 karya seni untuk situs ini. Setelah Rijkmuseum selesai direhab nanti, mungkin kami akan siapkan lebih banyak karya seni.”

Het Haagse Gemeentemuseum, museum milik pemkot Den Haag, memasok 52 karya seni. Museum-museum lain seperti Koninklijk Paleis memasok 72 karya seni, museum het Kröller-Möller 15 karya seni dan museum Boijmans van Beuningen 112 karya seni.

Museum Van Gogh paling banyak memasok karya seni yaitu 161 lukisan. Ini semua bisa diakses lewat internet dari seluruh dunia.

“Yang kami lakukan adalah seoptimal mungkin memanfaatkan teknologi untuk mempromosikan budaya,” kata Nelson Mattos, salah seorang pakar teknologi Google.

“Tapi kami juga ingin memperkenalkan seni untuk semua orang. Dari rumah susun di Tokyo hingga kawasan kumuh di Rio de Janeiro. Semua orang yang bisa mengakses internet bisa melihat karya seni para seniman agung.”

Museum-museum terkenal
Ujicoba pameran ini sudah dilakukan tahun lalu. Sekitar 1000 karya seni dari tujuh belas museum, terutama dari Eropa Barat dan Amerika Serikat dipamerkan online selama satu tahun.

Nah, pameran yang digelar di Musée d’Orsay di Paris saat ini adalah versi resmi, baru dan lebih luas. Diikuti oleh 151 museum dan lembaga seni dari 40 negara. Banyak museum terkenal ikut serta. Mulai dari museum Pergamon dari Berlin (Jerman), Museum Nasional dari Tokyo (Jepang) hingga Hermitage dari Sint Petersburg dan Tate Modern dari Inggris.

“Tapi yang istimewa adalah kehadiran lukisan karya seniman jalanan dari Brazil, design dari Afrika dan seni Aborginal. Jadi, benar-benar internasional,” kata Mattos.

Pokoknya museum-museum yang berpartisipasi menyerahkan lebih dari 32.000 karya seni mereka kepada panitia pameran online ini. Gambarnya bisa di-zoom-in sebesar mungkin berkat resolusi yang sangat tinggi hingga tujuh miliar pixel.

“Kami berhasil melampaui hirarki. Saya bangga,” kata Amit Sood, penggagas The Art Project.

“Jadi sekarang kita bisa mengakses karya seni museum Moma di New York, juga museum kecil dari Peru dan lembaga seni yang tidak dikenal dari India. Semua bisa disaksikan, sehingga kita bisa menemukan hal-hal baru. Saya sendiri sudah menemukan museum yang belum pernah saya dengar sebelumnya.”

Mengunjungi museum virtual
Selain itu situs ini juga memungkinkan kita -dengan menggunakan Google Streetview- untuk mengunjungi museum pilihan kita sendiri dan dengan santai bisa menyaksikan koleksi seninya. “Gedung Putihnya Presiden Obama, juga membuka pintunya sehingga kita bisa melihat ruang-ruang sidang dan juga menyaksikan 139 karya seni yang dikelolah kurator Gedung Putih.”

Tapi ada juga yang tidak mau berpartisipasi. Louvre dari Paris masih belum ikut serta. Museum ini tidak mengatakan alasannya. Picasso dan Mondriaan juga tidak hadir di The Art Project. “Ada masalah hak paten,” kata Sood.

“Kami tidak mencampuri urusan ini. Kami tidak mau memaksakan kehendak terhadap museum. Merekalah yang menentukan karya seni yang mau dipamerkan di The Art Project. Tapi museum yang mau bekerjasama dengan kami tentu harus memenuhi keinginan dan tuntutan pemegang hak paten. Karya Picasso gagal dipamerkan, karena tidak tercapai kesepakatan dengan para ahli warisnya.”

Sumber