Nadia Raih Omset Ratusan Juta dari Sepatu Kayu

KOMPAS.com/DIAN MAHARANI
Nadia Mutia Rahma bersama sepatu-sepatu kayu rancangannya yang dijual di butik sepatu Ruko Golden Road Blok C27/57 BSD City.

SERPONG, KOMPAS.com – Nadia Mutia Rahma, wanita muda ini terbilang sukses mengawali bisnisnya dengan produk sepatu kayu. Dengan nama Kloom Clogs, Nadia meraup omset hingga Rp 250 juta per bulan untuk pasar lokal dan juga ratusan juta untuk pasar mancanegara. Penghasilannya kini tentu tak lepas dari kerja kerasnya.

Warga Nusa Loka, BSD City, ini mendesain sendiri sepatu kayunya. Nadia mengaku memang menyukai desain sejak kecil. Saking senangnya, Nadia kecil pernah menggunting-gunting gorden rumah untuk “prakarya” isengnya.

Setelah beranjak dewasa, Nadia makin senang menekuni kegemarannya itu. Perjalanan awal usahanya ini tidak semulus yang dibayangkan. Ia terpaksa menjual mobil yang dibelinya sendiri demi modal usaha sepatu ini.

“Modalnya seharga satu mobil, he-he-he. Waktu itu mama aku belum kasih modal, jadi sewaktu (sekolah) di Jepang, aku sempat kerja part time. Pas pulang ke Indonesia sempat beli satu mobil, terus mobilnya dijual, itu (mobil keluaran) tahun 2000-an,” kata perempuan 22 tahun itu kepada Kompas.com.

Modal sudah didapat, kendala lain muncul. Wanita yang besar di Yogyakarta itu sempat mengalami kesulitan ketika mencari pengrajin sepatu kayu di Kota Pelajar tersebut. Di sana, para pengrajin terbiasa membuat sepatu dengan model biasa, tidak seperti sepatu dengan sentuhan bergaya Eropa rancangan Nadia. Setelah berbulan-bulan mencari, barulah ia menemukan pengrajin yang sesuai.

Dari modal tersebut, Nadia menggunakannya untuk membeli bahan baku dan membayar pengrajin. Kendala lainnya muncul lagi. Ia harus berusaha keras melakukan percobaan terhadap produk sepatu kayunya hingga mendapatkan bentuk yang pas dan nyaman dipakai.

Bermacam-macam jenis kayu diuji sebagai bahan utama sepatu. Untuk sepatunya, Nadia banyak menggunakan kayu sampang dan mahoni yang diambilnya dari Garut hingga Kalimantan. “Kayunya macam-macam, semuanya dari Indonesia,” ujar wanita kelahiran 12 Juni 1989 ini.

Meski berbahan kayu, sepatu Kloom Clogs tergolong ringan saat digunakan. Nadia mengatakan, ada teknik khusus untuk mengolah kayu tersebut menjadi ringan dan awet. “Ada teknik khusus, seperti getahnya harus diambil terlebih dahulu, dijemur atau direndam selama beberapa jam, dan sebagainya. Pokoknya membuat kayu menjadi ringan dan awet,” ujarnya.

Inspirasi dari Skandinavia

Mengapa Nadia memilih kayu? Selain kayu bisa dibentuk sesuai keinginan, Nadia memilih sepatu kayu ini karena terinspirasi oleh teman-teman sekolahnya dari negara-negara Skandinavia. Teman-temannya yang berasal dari Swedia dan sekitarnya kerap menggunakan alas kaki kayu.

“Sepatu kayu itu sudah kayak jadi life style bagi mereka. Ini unik banget, aku benar-benar terinspirasi dari teman-temanku itu,” kenang lulusan KAI Japanase School di Jepang itu.

Di Skandinavia, alas kaki dengan kayu itu sudah sejak lama digunakan. Dalam mendasain sepatunya, Nadia pun membuat dengan mode alas kaki zaman dulu yang digunakan di Skandinavia dan perpaduan unsur modern bergaya Eropa. “Kayu itu sendiri sekarang memang terkesan modern, tapi klasik. Aku suka yang kultural dan aku juga suka yang minimalis dan klasik,” tambahnya.

Karena serius menekuni bisnisnya ini, wanita yang pernah bercita-cita menjadi arsitek itu pun belum sempat menyelesaikan kuliahnya di Fashion Design, ESMOD, di Tokyo. Ia pulang ke Jakarta dan mengambil cuti sementara untuk menyalurkan hobinya membuat sepatu. “Kuliahnya belum selesai dari 2006. Aku pergi di tahun kedua,” katanya sambil tertawa.

Untuk sementara waktu, Nadia masih ingin serius menekuni usaha ini. Nanti, jika waktunya sudah tiba, ia berjanji akan menyelesaikan kuliahnya. Ia toh terbiasa berpindah-pindah karena sering mengikuti orangtuanya yang berpindah-pindah tugas. Serpong bukanlah hal baru baginya karena ia pernah duduk di bangku SMP Al-Azhar BSD dan SMP Negeri 1 Serpong. Untuk mendalami usahanya, Nadia sempat mengambil pendidikan di Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta, meski hanya satu semester.

Menembus pasar Eropa

Saat pertama kali menekuni usaha sepatu, Nadia memasarkan Kloom Clogs melalui Facebook dengan akun Kloom Clogshop pada September 2010. Ia juga memperkenalkan Kloom Clogs melalui bazar di pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta. Dari situ Kloom Clogs mulai menarik minat pembeli. Kloom Clogs menjadi salah satu peserta dalam Jakarta Fashion Week 2011 dan mendapat sambutan baik di dunia fashion.

Selain pasar lokal, Nadia juga mencoba pasar mancanegara dengan memasarkan produknya melalui toko online internasional, http://www.alibaba.com. Dari situlah ia berkenalan dengan importir Eropa yang tertarik dengan sepatunya.

Permintaan ekspor pun datang dari Swedia dengan pesanan sebanyak 250 pasang kelom. Selain itu, produknya juga diminta konsumen di Denmark, Belanda, dan Yunani dengan jumlah pesanan 100-200 pasang kelom. Bahkan sebuah butik di Amerika Serikat pun memesan sepatu kreasinya sebanyak 100 pasang. Omset yang didapatnya untuk pasar luar ini pun mencapai ratusan juta rupiah.

Kini, putri dari pasangan Nanang Sunarya dan Siti Noerdiyanti ini tengah berusaha menembus pasar Eropa untuk memasarkan produknya lebih banyak. “Aku lagi coba taruh sepatuku di sebuah departement store di Inggris, sekarang lagi proses,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagaimana Nadia memenuhi selera desain di Eropa dan Indonesia ini? Menurutnya, konsumen Indonesia lebih menyukai sepatu dengan model tertutup, sementara orang Eropa lebih suka sepatu model terbuka sehingga memperlihatkan jemari kakinya.

Di tangan Nadia, alas kaki dari kayu tersebut dipadukan dengan bahan kulit maupun kain, seperti batik tulis. Ia tidak suka menggunakan bahan sintetik atau fiber. Kayu, baginya, dipilih karena memberikan kesan alami. Kayu juga dapat dibentuk menjadi berbagi rupa. “Aku juga pengin nyiptain alas kaki yang ramah lingkungan dan ramah di kaki juga,” kata wanita berambut panjang itu.

Nadia juga mengaku Kloom Clogs kini tak hanya digemari oleh wanita dewasa, tapi juga ke anak-anak sekolah dasar. “Awalnya aku pikir ini modelnya lebih disukai oleh orang-orang yang sudah bekerja, tapi ternyata anak kuliah juga. Bahkan sekarang sampai anak-anak SD juga suka karena banyak warna-warninya,” ujar sulung dari dua bersaudara ini.

Pabrik Kloom Clogs kini berada di Yogyakarta dengan 40 pengrajin. Namun, karena banyaknya pesanan, Nadia sedang berusaha memindahkan pabrik tersebut ke wilayah Tangerang.

Produksi Kloom Clogs melonjak tinggi sejak Desember 2011. Dalam satu bulan, Nadia bisa memproduksi lebih dari 1.500 sepatu. Sepatu dan sandal cantik dari kayu ini dibanderol mulai harga Rp 250.000 sampai Rp 1,75 juta.

Sepatu dan sandal Kloom Clogs untuk wanita ini memiliki desain unik, klasik, tetapi tetap terkesan modern untuk masa kini. Ada hak sepatu yang berbentuk ukiran rumit, warnanya pun sangat bervariasi. Untuk mendesain satu model sepatu, Nadia bisa melakukannya hingga satu bulan.

Sepatu-sepatu cantik itu ia jual di Ruko Golden Road Blok C27/57 BSD City, Plaza Indonesia, dan Gandaria City. Berkat kerja keras dan dukungan orang tuanya untuk berwirausaha, Nadia sukses menjadi seorang pengusaha muda. Kloom Clogs pun telah meramaikan dunia fashion Indonesia. (BERNADETTE SELVIA / DIAN MAHARANI)

Sumber