Untung Sedikit Tetapi Banyak

Ilustrasi – google.co.id

Ada pembelajaran yang menarik ketika kita mulai berbisnis, menjalankan bisnis, dan belajar dari kegagalan dan keberhasilan yang kita peroleh selama ini. Beragam pelajaran itu biasanya kami dapatkan dari perjalanan reportase, seperti yang kami lakukan beberapa waktu lalu, baik keluar kota bahkan keluar pulau.Banyak pelajaran, oleh-oleh tulisan, dan tentu saja pengalaman. Biasanya perjalanan ini kami gabung sekaligus, kadang kami ke ujung Pulau Sumatra, kadang kami ke Bali, hal ini menjadikan Bekerja sambil Berwisata.

Suatu sore, kami berdiskusi dengan sahabat kami dari etnis Tionghoa, seorang pebisnis hebat sejak muda, bahkan ia terlahir dari darah seorang pebisnis karena seluruh keluarganya menjadi pengusaha. Namanya Jesslynda (42). Diskusi kami bahkan bisa berjam-jam, dan kami saling terbuka dengan segala kesamaan dan perbedaan yang kami miliki masing-masing.

Saya yang beretnis Jawa dan tidak memiliki garis keturunan sebagai seorang pebisnis mencoba bertanya dengan “nakal” kepada sahabat saya ini; “Enak ya jadi orang Tionghoa. Lahir langsung jadi pengusaha. Menjadi pengusaha identik dengan kelimpahan uang, hidup makmur dan banyak uang.”

Tertawa. Itulah respon yang saya tangkap pertama kali. Saya sudah menduga. Karena hidup ini memang saling menyangka, saling melihat. Dalam bahasa Jawa, Sawang Sinawang: Saling Melihat.

Berikut pelajaran penting yang saya ringkas di rubrik kecil ini pembincangan saya dengannya.

Pertama; Begitu banyak orang yang melihat bahwa menjadi pengusaha itu enak dan banyak uang. Tetapi jarang orang yang melihat dan tidak pernah belajar bagaimana uang itu diperoleh. Kekayaan tidak dapat dibangun secara instan, perlu perjuangan untuk mencapainya. Seberapa lama perjuangan itu ada hasilnya, tergantung seberapa besar perjuangan yang kita lakukan.

Kedua; Gaya hidup mempengaruhi keberhasilan bisnis seseorang. Jika kita baru berbisnis dan belum memiliki kemampuan untuk memanfaatkan hasil usaha sudah bergaya lebih besar pasak dari pada tiang, maka usaha yang kita bangun akan tinggal cerita.

Ketiga; Percaya dan mempercayai adalah sikap dasar seorang pengusaha. Karena itu kepercayaan harus dijaga. Menjadi pengusaha jangan malas bersinergi dengan banyak orang, terutama orang-orang yang dapat dipercaya. “Kami biasa berbagi informasi, berbagi pekerjaan dan saling mendukung,” ujarnya.

Keempat; Banyak orang meninggalkan falsafah lama yang dipegang para pedagang. Untung sedikit tetapi banyak. Falsafah ini penting untuk menjaga kontinuitas bisnis dalam masa yang panjang.* (Isdiyanto)

Sumber