Bisnismu Bukan Bisnisku

Oleh Samurai – Ketua Umum Surabaya Entrepreneur Club

Seorang teman baik saya bercerita tentang istrinya, yang menyarankan agar berhenti bekerja di kantor orang lain untuk bekerja mengelola usaha sendiri, yang telah dipersiapkannya. Anehnya, istrinya mau berhenti bekerja, tetapi tidak menyukai bisnis yang ia persiapkan.

Seorang teman saya ini adalah pewirausaha sukses, dan ingin istrinya dapat mengikuti jejaknya. Namun, sebenarnya sang istri sedang menapaki karirnya sebagai profesional juga dengan gilang gemilang. Namun setelah sang istri berhenti bekerja, ia malah tidak menyukai bisnis yang dipersiapkan untuknya. Tentu saja langkah teman saya ini disesali oleh mertuanya, yang berharap anaknya dapat meniti karir profesionalnya dengan baik seperti yang diharapkan.

Tentang Pandangan yang Berbeda

Banyak orangtua yang memiliki pandangan yang berbeda tentang bisnis. Masih banyak orangtua yang lebih bangga memiliki menantu seorang karyawan di perusahaan yang bonafide, atau menjadi pegawai di sebuah perusahaan atau lembaga yang ‘basah’ dibanding memiliki menantu yang pewirausaha.

Menjadi pewirausaha adalah profesi yang sungguh-sungguh sangat memiliki resiko yang besar, dan di Indonesia perubahan mindset tentang profesi ini belum berubah. Jika ditanyakan profesi apa yang paling disukai oleh para calon mertua-mertua, saya mengutip survey sederhana tentang itu. Profesi yang dibanggakan antara lain, dokter, pegawai bank, pegawai BUMN, pegawai swasta perusahaan multinasional, dan polisi atau jaksa.

Profesi sebagai pewirausaha? Tak pernah diperbincangkan sebagai sebuah profesi yang membanggakan. Ini barangkali jawaban mengapa di Indonesia hanya ada 0,18 persen penduduknya yang berprofesi sebagai pewirausaha. Bandingkan dengan Singapura yang memiliki 4 persen penduduknya adalah pewirausaha, atau Malaysia yang sudah di atas 2,4 persen. Di negara-negara maju, prosentasi pewirausahanya dari jumlah penduduk sudah berada di atas 4 persen.

Kembali ke soal mertua teman saya tadi. Keputusan yang diambil istri teman saya tersebut ternyata menyisakan beberapa masalah. Pertama, sang istri mau berhenti bekerja tetapi tidak mau mengelola bisnis seperti yang diharapkan karena tidak menyukainya. Kedua, mertuanya menyesali mengapa anaknya harus berhenti bekerja, padahal sudah disekolahkan tinggi-tinggi di sebuah universitas bergengsi.

Teman saya mengutarakan alasan mengapa ia mengajak istrinya untuk berhenti bekerja dan mengelola bisnis yang ia miliki sendiri, karena ia ingin istrinya memiliki banyak waktu untuk mengurusi keluarga dan anak-anak. Ia juga ingin membuktikan bahwa dengan menjadi pewirausaha hasil yang diperoleh juga tidak lebih kecil dari bayaran menjadi karyawan atau pegawai profesional di sebuah perusahaan besar sekalipun. Namun tentang pandangan yang berbeda ini memang tidak dapat diclearkan begitu saja. Menurut sang mertua, berbisnis itu bukanlah suatu prestasi.

Kalau boleh saya simpulkan dalam cerita teman saya ini, ada tiga macam konflik yang terjadi dalam cerita ini. Pertama, si istri enjoy keluar dari pekerjaannya, tetapi gak tertarik dengan bisnis yang disiapkan oleh suaminya. Kedua, si suami enjoy dengan keluarnya istri dari pekerjaannya, tetapi menjadi tidak nyaman karena istrinya menolak bisnis yang sudah disiapkannya karena gak cocok, sehingga sekarang dia harus berpikir ulang untuk menyiapkan bisnis lagi buat istrinya tetapi kali ini harus yang disukai oleh istrinya. Karena kalau tidak maka masalah akan semakin berlarutl-larut. Ketiga, mertua yang sama sekali tidak suka terhadap apa yang dilakukan oleh anak dan menantunya, dengan pilihan sebagai pewirausaha.

Ketika hal ini saya ceritakan kepada istri saya, ternyata ada pendapat yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan, yaitu berkaitan dengan ego seorang wanita. Sebenarnya seorang wanita itu juga mempunyai ego yang tinggi dan tidak mau kalah dengan kaum pria. Ego ini akan semakin besar apabila wanita tersebut sudah pernah berkarier sebelumnya, lebih-lebih bila kariernya tergolong sangat moncer. Ego ini tidak akan terlalu nampak pada wanita tidak pernah berkarir sebelum menikah. Nah ego besar ini yang menurut istri saya sering kali luput atau diabaikan begitu saja dari perhatian pria yang berstatus menjadi suami atau pacar dengan memaksakan seorang istri atau pacarnya menjadi juga seorang pebisnis.

Mereka sering tidak sadar bahwa wanita pasangannya itu juga mempunyai keinginan sendiri atau mempunyai mimpi sendiri. Keinginan dan ego wanita karier, tadinya selalu diasah di kantor di mana dia pernah bekerja, dan biasanya bila si wanita itu cerdas apalagi cantik maka mulai bawahan, rekan kerja, partner, relasi bahkan atasannya akan patuh dan menurut, dan seringkali tanpa perlawanan yang berarti. Itu yang juga mungkin tidak pernah disadari oleh pria sebagai suami.

Sebagai sikap kompromi wanita sebagai istri, mereka mau saja keluar dari pekerjaan dan meninggalkan karier moncernya, tetapi itu bukan berarti terus akan langsung mau mengikuti dan menjalankan apa yang telah suaminya siapkan. Walau dalam persiapan melahirkan bisnis yang dibikinkan suami untuknya, si istri nampak selalu koperatif dan kompromi.

Sikap kooperatif dan kompromi itu sebenarnya lebih ditujukan agar sang suami sadar bahwa dia menikahi wanita yang berpotensi yang tidak hanya bisa duduk manis saja, tetapi juga wanita yang bisa diajak betukar pikiran dan berdiskusi. Jadinya saat persiapan semua tampak lancar dan keduanya tampak antusias dalam persiapan melahirkan bisnis baru itu. Tetapi untuk selanjutnya yang bikin kaget saat bisnis di luncurkan si isteri tampak malas dan ogah-ogahan.

Kenapa itu terjadi?

Menurut istri saya, jika menjalankan bisnis itu si istri jadinya tidak nampak istimewa lagi di mata umum. Karena menurut pola pikir wanita, bisnis yang disiapkan suami adalah bisnis suami, karena memang si suami adalah pebisnis handal, jadinya bila si istri terjun disitu dia tidak akan tampak istimewa karena potensinya tidak akan tampak sama sekali. Artinya jika berhasil, toh itu bukan hasil perjuangan dia, tetapi karena perjuangan suaminya. Masyarakat hanya mengetahui bahwa ia mengelola bisnis yang sudah disiapkan oleh suaminya, bukan bisnis yang ia geluti dari awal, di mana ia lakukan sebelum menikah. Si Istri mungkin saja berfikiran ia tidak akan dapat melakukan secara total karena semuanya sudah disiapkan dengan baik. Kalau berhasilpun ia tetap dalam bayang-bayang keberhasilan sang suami. Tetapi jika gagal ia yang pertama kali dipersalahkan.

Makanya, saran istri saya, dalam menyiapkan sebuah bisnis untuk istri atau pasangannya, si suami harus paham betul apa sih sesungguhnya yang disukai oleh istrinya itu, dan diskusikan secara intens, bagaimana ia dapat memulainya, bukan menyiapkannya dalam bentuk jadi. Biarkan si istri yang memilih, merintis, memupuk dan menjadikan bisnisnya itu sukses dengan tangannya sendiri. Tugas si suami hanyalah mengawasi dari jauh dan berperan sebagai konsultan dan partner, itupun dilakukan hanya apabila ditanya dan dimintai pendapat.

Lantas bagaimana masalah dengan mertua. Biarin saja, dan jangan pernah dipikir jika masalah dengan istri belum selesai. Masalah dengan mertua otomatis akan selesai kalau masalah dengan istri selesai secara baik-baik. Biarkan nanti sang istri lah yang akan berbicara ke orangtuanya jika masalahnya sudah selesai. Kalau anaknya rumah tangganya tenang, nyaman dan tercukupi, otomatis mertua juga tenang dan senang.

Begitulah diskusi yang saya lakukan dengan istri saya tentang masalah teman saya dan istrinya. Jika mertua mulai gak suka dengan apa yang anda lakukan, diskusikan dengan baik-baik secara jelas. Jangan mentang-mentang sudah menjadi pengusaha sukses semua orang dipaksa untuk mengikuti langkah-langkahnya. Ingat, menjadi pewirausaha itu ibarat naik di pucuk gelombang. Ada kalanya di bawah, ada kalanya di atas. Jangan memaksakan orang lain berbisnis yang sama dengan yang anda lakukan, karena motivasinya orang untuk berbisnis tentu berbeda-beda. Tidak semuanya memiliki motivasi uang. Bisnismu, bukanlah bisnisku.

Tetapi untunglah, saya itu menantu yang baik. Jadi jarang punya masalah dengan mertua.

Sumber