Berani Dulu – Sukses Itu Langkah Lanjutan

Dalam sebuah perjalanan silaturahmi kewirausahaan bersama seorang teman di Jakarta, saya mendengar ia ditelepon oleh penyiar dari sebuah radio di Jakarta untuk sebuah wawancara. Ia diminta komentarnya melalui sambungan handphone berkaitan dengan makna keberanian para pemuda Indonesia saat ini, berkaitan dengan perayaan peringatan 17 Agustus 2009.

Dalam pembicaraan itu, saya yang berada tak jauh darinya, mencoba menyimak dan mendengarkan komentarnya. Saya tertarik dengan perbincangan yang mengulas makna keberanian, khususnya bagi para pemuda Indonesia.

“Zaman penjajahan dahulu, tidak ada pilihan untuk merdeka selain melawan. Bagi para pemuda yang terpacu adrenalinnya untuk melawan penjajah modal terbesarnya adalah keberanian. Hanya dengan bambu runcing, golok, pedang, mereka berani berhadapan dengan meriam dan senapan mesin. Bagi orang-orang yang berani, mereka memiliki kekuatan yang tak terhingga,” ujarnya.

Kalimat ini menyentak saya, sekaligus mengagetkan. Kita tidak pernah diajarkan apa yang terjadi dibalik kemerdekaan. Bagaimana kita merdeka, dan mengapa kita bisa merdeka. Kita hanya disuguhi jadwal upacara bendera, serta tontonan ala borju yang meninabobokkan kekuatan bangsa untuk bangkit dan menjadi bangsa besar. Lihatlah, fenomena-fenomena bagaimana peringatan 17an hanya dilakukan secara seremonial belaka, dan tidak menggali esensi terpenting bagi kemerdekaan itu sendiri.

Bangsa Pemberani

Bangsa yang mau berperang melawan penjajah hanya dengan peralatan yang sangat sederhana, membuat penjajah bergidik. Para pejuang-pejuang telah mengubah ketakutan menjadi keberanian, pilihannya hanya satu : Hidoep Ataoe Mati.

Kini, setelah 64 tahun. Apakah nyali-nyali itu tetap hidup? Apakah semangat itu tetap menyala?. Apakah keberanian itu tetap melekat? Kita telah merdeka, tetapi rupanya kita telah kehilangan segala-galanya. Masih banyak anak-anak muda yang kesulitan mencari pekerjaan, dan orangtua-orangtua yang merana di usia tuanya di sebuah negara yang (konon) sangat kaya raya.

Jika para pemuda pejuang dahulu berani mengangkat senjata kepada penjajah dengan modal seadanya, kini para pemuda ditantang untuk menghadapi tantangan yang lain, yaitu keluar dari kemiskinan, kemelaratan, serta keterbelakangan menuju kesejahteraan. Salah satu pintu itu adalah kita harus menjadi orang-orang yang berani merdeka secara ekonomi, dengan menjadi seorang pewirausaha.

Untuk menjadi pewirausaha, seseorang harus berani maju dan berusaha sendiri menciptakan berbagai peluang usaha yang bisa mendatangkan uang, tanpa menggantungkan harapan dan masa depannya dari orang lain. Apakah kita berani?

Saya pacu keberanian saya. Karena saya sadar bahwa menjadi entrepreneur harus memiliki keberanian. Soal sukses itu hanya langkah lanjutan. Perlu belajar terus menerus, menimba banyak pengalamanan, serta mempersiapkan strategi menuju kesuksesan.

Keberanian, kini menjadi barang langka. Berani gagal juga hal yang sangat sulit untuk diterima. Saya membandingkan keberanian kini yang harus saya hadapi dengan keberanian para pejuang dahulu yang (kadang) harus menukar keberaniannya dengan nyawanya sendiri. Saya sadar keberanian saya untuk menjadi entrepreneur masih kalah kecil jika dibandingkan dengan keberanian anak-anak muda pejuang yang dahulu merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Keberanian saya untuk memilih sebagai pewirausaha lebih kepada kesadaran saya bahwa menjadi pewirausaha bukan akhir dari segala-galanya. Bila gagal saya tinggal mengulangnya lagi karena sudah banyak contoh tokoh pewirausaha yang lebih dulu sukses dan berhasil. saya hanya tinggal mencontohnya saja tidak harus membuat sesuatu yang baru. Juga tidak harus menciptakan kemerdekaan sendiri. Modal saya hanya mengamati, meniru, kemudian mengembangkan sesuai dengan karakter serta kreativitas saya.

Tantangan terberat saya hanya tidak boleh putus asa, dan tidak boleh kehilangan semangat. Untuk berani menjadi pewirausaha, tidak sampai harus kehilangan nyawa saya. Semuanya jauh lebih mudah sekarang. Sebagai orang yang selalu merasa muda saya hidup di zaman yang penuh dengan fasilitas. saya tinggal memanfaatkannya saja. Banyak guru, banyak pelatihan, banyak pilihan bisnis yang tersedia didepan mata. Untuk menjadi pewirausaha dan menjadi orang-orang merdeka, kenapa saya harus takut? 

Samurai – Ketua Umum Surabaya Entrepreneur Club

Sumber