Media Sosial Indikasikan Naiknya Pengangguran

Sejumlah tema di media sosial bisa menjadi alarm akan naiknya tingkat pengangguran.

Pengguna jejaring sosial (telegraph.co.uk)

VIVAnews – Penyedia layanan analisis bisnis, SAS, mengatakan bahwa obrolan dan topik pembicaraan di media sosial dapat menjadi indikasi meningkatnya pengangguran. Ini diketahui berdasarkan analisis SAS yang membandingkan mood dan jumlah percakapan di media sosial, dengan statistik pengangguran.

Dengan melihat banyaknya tema “pemotongan anggaran belanja” misalnya, maka meningkatnya pengangguran akan dapat diprediksi. Begitu pula jika media sosial ramai membahas tentang “meningkatnya penggunaan transportasi publik” atau “ganti kendaraan yang lebih murah”.

“Sosial media dan isi internet seperti surat dan panggilan telepon yang selalu menginformasikan organisasi. Hanya saja, saat ini bentuknya digital, bersifat publik dan skala besar,” kata I-sah Hsieh, Global Manager untuk International Development SAS, dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews.

SAS melakukan penelitian terhadap pengguna media sosial di Amerika Serikat dan Irlandia. Analisis dilakukan selama dua tahun, juga digunakan sebagai referensi tentang pengangguran dan bagaimana cara orang-orang mengatasinya.

Di Amerika, meningkatnya mood kata “depresi” terjadi empat bulan sebelum meningkatnya pengangguran. Sedangkan obrolan “cemas” para pengangguran di Irlandia berhubungan dengan meningkatnya pengangguran lima bulan kemudian.

Adapun meningkatnya kata “kebingungan” mendahului peningkatan statistik pengangguran yang terjadi tiga bulan kemudian.

SAS Informasi semacam itu menjadi berharga bagi pembuat kebijakan untuk mencoba mengurangi efek negatif dari meningkatnya pengangguran.

“’Harta’ yang belum tersentuh itu dapat memberikan feedback secara real-time untuk kebijakan, meningkatkan keselamatan publik, meningkatkan hubungan warga negara dan mendukung penelitian sosiologi yang penting,” ucap I-sah Hsieh.

SAS melakukan riset ini bekerja sama dengan United Nations Global Pulse, lembaga yang diinisiasi oleh PBB. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon juga menyebut analisis ini sebagai informasi penting dalam mengambil kebijakan.

“Banyak dari data ini mencakup sinyal yang berkaitan dengan pengembangan. Kita harus dapat menggunakannya untuk menjelaskan apa yang terjadi, dan ketika sedang terjadi,” ujar Ban Ki Moon, November lalu. (umi)

Sumber