Candi Jabung, Probolinggo

Lokasi Candi Jabung : 7 derajat 4 ‘ 07,07″ Selatan 113 derajat 28’18,25″ Timur

Candi Jabung, Probolinggo – Forum Vivanews

Mendengar nama Candi Jabung tentu banyak orang yang masih merasa asing dengan nama itu. Pasalnya, Candi Jabung ini lokasinya cukup jauh dari pusat kota. Walau lokasi candi ini sebenarnya cukup  mudah dijangkau dengan akses jalan yang baik, ternyata masih banyak warga yang belum tahu tentang apa dan bagaimana sosok candi yang bersejarah itu.

Candi Jabung berada di Desa Jabung Candi kecamatan Paiton – Kabupaten Probolinggo. Sekitar 25  km jaraknya dari pusat kota.  Berada di tengah perkampungan yang terletak  sekitar 500 m dari jalan raya Probolinggo – Situbondo.

Sebagai penanda mudahnya untuk menuju ke candi ini adalah Balai Desa Jabung Sisir yang berada tepat di tepi jalan raya itu. Dengan mengedarkan pandangan mata sejenak dari balai desa itu akan terlihat papan arah menuju ke candi Cabung.

Sosok Candi Jabung terlihat cukup tinggi dan megah. Taman dan halaman candi terawat dengan bersih, rapi dan asri. Bangunan candi ini terbuat dari bahan batu bata. Karena itu, dari kejauhan candi Jabung ini tampak berwarna merah bata.

Candi  yang bersifat  agama  Budha dan Siwaistik  ini memiliki  tinggi bangunan  16,20  m, panjang 13,13 m dan  lebar  9,60 m dengan  posisi menghadap ke arah barat . Berada pada ketinggian 8 km  di atas permukaan laut dengan luas kompleks candi  yang sekarang menacapai 20.042 m2 setelah mendapatkan perluasan tambahan tanah hasil pengadaan.

Dulunya bangunan candi Jabung hanya berada di lahan seluas 35×40 m. Bentuk arsitektur candi Jabung sangat menarik. Tubuh bangunan candi berbentuk bulat silinder segi delapan dan berdiri di bagian atas kaki candi yang berbentuk persegi dan betingkat tiga. Sedangkan bagian atapnya berbentuk stupa.

Sepintas gaya bangunan candi ini mengingatkan pada gaya bangunan Candi Brahu di Mojokerto. Namun ada juga yang megatakan secara tipologis bentuknya seperti candi Muara Takus di Riau dan Biaro Bahal di Padang Sidempuan.

Pada tahun 1983-1987 Pemerintah melakukan pemugaran bangunan candi Jabung dan sekalgus menetapkannya sebagai Cagar Budaya.

Sayang sekali bangunan candi Jabung sudah tidak utuh lagi. Atap candi sudah runtuh dan raib entah kemana sehingga sampai sekarang tidak diketahui bagaimana bentuk Candi Jabung ini secara utuh pada masa lampau. Candi Jabung ini dalam Kitab Nagarakertagama disebut Candi Kalayu, sedangkan dalam Kitab Pararaton disebut Candi Sajabung.

Dalam kitab Negarakertagama pupuh XXXI diceritakan bah wa Raja Hayam Wuruk setelah sampai di daerah Kalayu mengadakan upacara persembahan. Diperkirakan Kalayu itu adalah nama desa jabung di masa lampau.

Sedangkan di kitab Pararaton disebutkan bahwa di desa Sajabung terdapat bangunan suci yang diberi gelar abhiseka : Barajinaparamitapuri.

Menyimak dan mencermati bangunan Candi Jabung. Di bagian atas candi terdapat hiasan relief Kala yang berbentuk kepala naga dan sulur-suluran sehingga lebih sering disebut dengan nama relief Kala Naga.

Ada empat Relief Kala Naga yang terdapat di empat sisi bagian atas Candi Jabung . Namun sayang pada salah satu sisi tinggal panel kosong saja, sedangkan relief kepala naganya sudah raib entah kemana.

Pada bagian tengah bangunan candi terdapat  tangga dan pintu masuk yang ternyata di dalamnya ada sebuah bilik berukuran 2,60 m x 2,58 m dan tinggi 5,52 m yang didalamnya terdapat batu penutup cungkup yang berukir. Di dalam bilik candi terdapat altar yang menempel di dinding pada biah utara, timur dan selatan.Sayang dinding pada bagian timur ada tanda bekas pengrusakan akibat jarahan tangan-tangan jahil. Diduga disana dulunya terdapat arca untuk pemujaan.

Pada bagian tubuh candi juga banyak terdapat relief-relief yang sebagian besar belum diketahui jalan ceritanya. Relief-relief yang umumnya berkisah tentang kehidupan sehari-hari dimasa lampau itu juga tidak terlihat jelas karena sudah termakan aus.

Diantaranya adalah relief pertapa yang berhadapan dengan muridnya, dua pria yang berada dekat sumur, pepohonan dan dedaunan dan juga satwa. Ada relief tentang satwa yang menarik yaitu relief harimau dan singa yang saling berhadapan dan ada juga yang saling bertolak belakang.

Selain itu juga ada relief-relief berbentuk padma, medalion ,sulur-suluran dan hiasan lainnya. Menurut inskripsi yang terdapat pada gawang pintu masuk candi terdapat angka tahun 1276 Saka ( 1354 Masehi ) yang merupakan masa awal pemerintahan Raja Hayam Wuruk, raja keempat Kerajaan Majapahit yang berkuasa tahun 1351-1389 M.

Selain bangunan candi induk,  di kompleks candi jabung juga terdapat bangunan candi lainnya yang berukuran lebih kecil dan juga berbahan batu bata.  Sisi bangunannya berukuran 2,55 m dan tinggi sekitar 6 meter. Karena berada di sudut kompleks candi, candi yang tampak mungil ini disebut dengan nama Candi menara Sudut atau Candi Sudut.

Ada juga kompleks pemandian kuno yang terletak di desa Tamansari, sekitar 2km dari kompleks candi. Pemandian itu diperkirakan masih ada kaitannya dengan sejarah candi Jabung.

Sumber