Mau Usaha? Gali Sektor yang Berbasis Permintaan Domestik

SHUTTERSTOCK

JAKARTA, KOMPAS.com – Jika mau mengerjakan suatu usaha, carilah bidang usaha yang terkait dengan permintaan domestik. Dan, tidak harus ekspor.

Demikian disampaikan oleh ekonom Partner Strategic Indonesia, A Prasetyantoko, dalam diskusi “Peran dan Posisi Indonesia Young Entrepreneurs Dalam Menghadapi Peta Ekonomi CHINDONESIA (China, India, dan Indonesia) di Jakarta, Rabu ( 30/11/2011 ).

“Bank Dunia memperkirakan ada 7 juta penduduk kelas menengah baru setiap tahun di Indonesia,” ujar Prasetyantoko. Ini mencerminkan kesempatan permintaan domestik yang luar biasa di Indonesia.

Sejumlah data penjualan pun ia sebutkan. Misalnya, motor Vespa yang hilang tahun 1980 -an kini muncul kembali. Secara keseluruhan, motor jenis scooter di Indonesia bisa terjual hingga 8 juta unit pada tahun 2010 . Sementara di Thailand hanya 1,7 unit, India sebanyak 11,3 juta unit, dan China 16 juta unit. “Padahal China itu penduduknya 2 miliar,” sebut dia mengingat jumlah penjualan Indonesia bisa mencapai setengah dari yang terjual di China. Ini tidak sebanding jika melihat jumlah penduduk kedua negara.

Hal serupa juga terjadi pada penjualan mobil. Prasetyantoko pun menyebutkan, penjualan mobil trennya meningkat. Pada 2010 , mobil yang terjual mencapai 750 ribuan unit. “Tahun ini diperkirakan naik menjadi 850 ribuan unit,” jelasnya.

“Ini indikasi yang bisa kita lihat, walaupun krisis, permintaan domestik sungguh luar biasa,” tegas Prasetyantoko.

Ia pun sembari bercanda menceritakan bagaimana cafe tetap penuh dan masyarakat bisa tetap merokok sebagai indikasi lain bagaimana kondisi konsumsi domestik yang tinggi. “(Jadi) carilah sektor-sektor yang punya basis konsumsi domestik,” sebut dia, misalnya sektor makanan dan minuman.

Sumber