Yuk, Hitung Rasio Keuangan Keluarga

Shutterstock Ilustrasi

KOMPAS.com — Menghitung rasio keuangan keluarga merupakan langkah kedua dari cek finansial. Setelah membuat rincian berapa pengeluaran dan pemasukan per bulan, aset bersih yaitu aset dikurangi utang, langkah selanjutnya adalah menghitung rasio-rasio keuangan keluarga.

“Ada beberapa rasio yang penting. Dari pemeriksaan finansial ini dapat diidentifikasi masalah keuangan kita. Pengecekan finansial merupakan langkah awal,” kata Mada Aryanugraha, perencana keuangan dari Akbar Financial Check-up.

Rasio pertama adalah rasio likuiditas. Rasio ini mengukur kemampuan keluarga mengubah aset menjadi uang tunai dengan segera. Uang tunai merupakan aset yang paling likuid, sedangkan tanah dan properti paling tidak likuid karena akan diperlukan waktu lama untuk menjadikannya uang tunai.

Aset likuid ini antara lain digunakan untuk membayar pengeluaran bulanan keluarga. Misalnya dalam keadaan tertentu kepala keluarga tidak dapat bekerja dan tidak menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan, maka akan diperlukan aset yang mudah dicairkan agar dapat menutupi keperluan keluarga sehari-hari.

Untuk mengukurnya, bandingkan antara aset likuid berupa uang tunai, tabungan, dan deposito dengan kebutuhan rata-rata dalam satu bulan. Misalnya aset likuid itu berjumlah Rp 10.000.000, sementara pengeluaran sebesar Rp 3.000.000 maka akan dihasilkan 10.000.000 : 3.000.000 = 3,3. Artinya, aset likuid ini dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga tersebut selama 3 bulan dan 10 hari.

Idealnya, rasio yang disarankan antara 3 dan 6 bulan. Maknanya, sebuah keluarga idealnya memiliki aset likuid yang dapat menghidupi mereka selama 3 hingga 6 bulan jika tidak ada penghasilan. Aset likuid ini dapat dialokasikan sebagai dana darurat.

Porsi aset likuid ini maksimal 15 persen dari total aset yang dimiliki. Jika keluarga terlalu banyak memiliki aset likuid, dikhawatirkan investasinya tidak berkembang maksimal, sementara jika terlalu sedikit aset likuidnya, akan kesulitan jika memerlukan dana dadakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akhirnya, Anda harus berutang ke kanan-kiri, yang berarti juga  menimbulkan masalah baru.

Rasio kedua adalah rasio utang. Rasio ini mengukur perbandingan total pembayaran utang dengan total pendapatan. Hitunglah total utang yang harus dibayar selama satu bulan dengan total pendapatan dalam satu bulan. Utang itu dapat berupa cicilan Kredit Kepemilikan Rumah, Kredit Tanpa Agunan, Kredit Kepemilikan Kendaraan, utang kartu kredit, utang koperasi, atau utang kepada tetangga.

Misalnya, jika jumlah total utang yang harus dibayar dalam satu bulan sebesar Rp 3.000.000, sementara total pendapatan sebesar Rp 10.000.000, berarti Rp 3.000.000: Rp 10.000.000 = 30 persen. Berarti, sebanyak 30 persen dari total penghasilan akan digunakan untuk membayar utang.

Rasio utang maksimum yang ideal adalah 30 persen. Jika total utang yang harus dibayar lebih dari 30 persen, akan membuat pengeluaran terganggu. Akibatnya, terlalu banyak porsi untuk membayar utang sehingga kita tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari termasuk untuk berinvestasi.

Rasio selanjutnya adalah rasio total kekayaan bersih dibandingkan dengan total aset (solvency ratio). Aset bersih didapatkan dari  aset yang Anda miliki dikurangi dengan utang. Misalkan Anda memiliki rumah seharga Rp 500.000.000, tetapi masih berutang kepada bank sebesar Rp 400.000.000, berarti aset bersih Anda hanya Rp 100.000.000 saja.

Contoh perhitunganya, sebuah keluarga memiliki aset bersih sebesar Rp 100.000.000 dengan kekayaan bersih sebesar Rp 20.000.000 maka jika Rp 20.000.000 : Rp 100.000.000 maka didapatkan 20 persen.

Rasio ini sama sekali tidak sehat. Masalahnya, dengan rasio hanya 20 persen sebenarnya Anda tidak mampu menutupi utang Anda dengan aset yang Anda miliki. Akibatnya, Anda dapat mengalami kebangkrutan.

Idealnya rasio ini harus di atas 35 persen. Rasio selanjutnya adalah rasio tabungan. Rasio ini berguna untuk mengukur kekuatan sebuah keluarga dalam menabung atau berinvestasi untuk keperluan di masa datang.

Untuk menghitungnya, bandingkanlah jumlah uang ditabung untuk tujuan investasi dengan pendapatan Anda. Ambil contoh, sebuah keluarga dengan jumlah tabungan atau investasi sebesar Rp 10.000.000 setahun sementara pendapatannya sebesar Rp 100.000.000 maka perhitungannya Rp 10.000.000: 100.000.000 = 10 persen.

Idealnya, minimal Anda menyisihkan pendapatan sebesar 10 untuk ditabung atau diinvestasikan untuk memenuhi kebutuhan di masa depan seperti dana pendidikan anak atau pensiun.

Rasio yang tidak kalah penting adalah rasio aset investasi berbanding kekayaan bersih. Rasio ini membantu kita untuk melihat kekuatan investasi dalam menopang kehidupan keluarga.

Cara menghitungnya, bandingkan pendapatan dari aset investasi dengan total kekayaan bersih. Misalnya, jika sebuah keluarga memiliki total aset senilai Rp 100.000.000 dengan total utang sebesar Rp 20.000.000, berarti kekayaan bersihnya sebesar Rp 80.000.000. Sementara pendapatan dari aset investasi berupa keuntungan bisnis, bunga, pembagian dividen, uang sewa properti, kenaikan nilai aktiva bersih, kenaikan harga saham, dan lainnya sebesar Rp 2.000.000. Jadi perhitungan rasionya Rp 2.000.000 : Rp 80.000.000 = 2,5 persen.

Angka 2,5 persen menunjukkan bahwa sebesar 2,5 persen aset dari keluarga ini diperoleh dari hasil investasi. Semakin besar persentase pendapatan dari hasil investasi akan semakin baik karena keluarga tersebut tidak bergantung pada gaji saja. Penghasilan dari investasi seperti ini juga disebut penghasilan pasif.

Menurut beberapa perencana keuangan, jumlah aset investasi sebaiknya lebih dari 50 persen dari total kekayaan keluarga. Dengan rutin berinvestasi, secara perlahan rasio ideal ini akan dapat dicapai.

Apakah Anda sudah menghitung rasio keuangan keluarga Anda?

Sumber