Internet dan degradasi daya Ingat

Oleh Verydias Aditya

Penasaran terhadap sesuatu? Googling adalah solusi termudah. Tanpa disadari, kebiasaan ini ternyata memberi efek negatif terhadap perilaku dan pola pikir manusia. 

Badu adalah murid yang nakal, ia kerap mencontek saat ujian. Biasanya ia mencontek melalui secarik kertas kecil yang ia selipkan di saku celananya. Suatu ketika, Badu lupa menyiapkan contekan untuk ujian berikutnya. Namun, ia tidak kehilangan akal, Badu lalu menggunakan ponsel canggihnya untuk mencari informasi jawaban dari internet. Sayangnya, nasib ternyata tidak berpihak pada Badu saat itu karena jumlah pulsa internet yang ia miliki tidak mencukupi. 

Ilustrasi di atas menggambarkan efek buruk terhadap ketergantungan teknologi yang cenderung membuat kita malas untuk berpikir. Hal tersebut disebabkan adanya anggapan bahwa segalanya kini telah tersedia dan biasa didapatkan secara mudah lewat internet. Jika sudah begitu, apa jadinya jika internet tidak ada? 

Jika Anda pernah menyaksikan film animasi produksi Pixar yang berjudul Wall-E, tentu Anda bisa menarik kesimpulan dari apa yang coba disampaikan di film yang sarat akan pesan moral ter­sebut. Dikisahkan bahwa bumi yang kita diami ini telah mengalami kerusakan yang sangat parah yang disebabkan ulah manusia itu sendiri. Ketergantungan terhadap teknologi pun semakin memperburuk sikap dan perilaku manusia itu sendiri. Pada akhirnya, manusia menjadi malas melakukan sesuatu karena semua hal dapat mudah diperoleh dengan bantuan robot. 

Begitu pula dengan adanya teknologi internet saat ini. Tanpa kita sadari, efek negatif yang dihasilkannya telah mengubah perilaku dan kemampuan berpikir kita. Dengan adanya internet, segala aspek kehidupan berjalan dengan mudah tanpa kita perlu bersusah payah untuk mencari dan melakukan sesuatu. Sebagai contoh, dengan hanya mengetikan sebuah kata kunci pada Google misalnya, kita langsung dapat melihat berbagai informasi. Bahkan, kita dapat mencari jawaban spesifik dari suatu pertanyaan. 

Fakta llmiah

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Betsy Sparrow bersama para peneliti lain, Daniel M. Wegner dan Jenny Liu, di Universitas Columbia menyebutkan bahwa, “Google membuat Anda menjadi bodoh”. Pernyataan tersebut berdasarkan pada dua eksperimen yang telah dilakukan ketiga peneliti tersebut terhadap sejumlah partisipan. 

Pada eksperimen pertama, peneliti memberikan sejumlah pernyataan trivia. Hasilnya, setengah dari partisipan tersebut percaya bahwa pernyataan-pernyataan yang diberikan ter­sebut akan disimpan di komputer. Sedangkan setengahnya lagi percaya bahwa kemungkinan data tersebut akan dihapus. Dari eksperimen ini terlihat jelas bahwa manusia sudah tergantung dengan teknologi dengan tidak mengingat secara sungguh-sungguh. Manusia percaya bahwa mereka dapat mengaksesnya kembali kemudian. 

Eksperimen kedua dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh komputer terhadap ketepatan aksesibilitas terhadap ingatan. Jika ditanya sebuah pertanyaan spesifik, misalnya “Bendera apa yang memiliki satu warna?”, umumnya kita tidak langsung berpikir tentang jawaban dari pertanyaan itu. Yang mungkin terpikirkan adalah pergi online dan mencari tahu jawabannya lewat internet. 

Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa teknologi telah mengubah cara berpikir manusia dari mengingat informasi yang dibutuhkan menjadi mengingat lokasi tempat mereka bisa menemukan kembali informasi yang dicari. Banyak pihak yang menyatakan bahwa kehadiran Google di kehidupan ma­nusia mengubah cara manusia dalam berpikir dan mengingat sesuatu. Deretan fitur yang dimiliki Google, mulai dari Google Images, Google Analytics, Google Calendar, Google Docs, Google Reader, Google Search, Google Maps, hingga Google Translator membuat hampir semua kegiatan manusia menjadi lebih mudah tanpa harus bersusah payah. 

Sebuah teknologi yang diciptakan bisa memberikan dampak positif dan negatif, tergantung dari cara kita bertindak dan menyikapinya. Dari segi positif, kehadiran Google membuat kita dapat dengan mudah mengingat lokasi penyimpanan semua informasi yang tersimpan di komputer. Semua informasi tersebut pun menjadi lebih mudah diakses dari sebelumnya. 

Berbeda dengan komputer dan artificial memory-nya, daya ingat kita sangat lemah. Umumnya, kita menggunakan short term memory untuk mengingat sesuatu sehingga rentan kesalahan. Ingatan manusia berbeda dengan Google yang dapat mengingat sesuatu sesuai dengan fakta sehingga dapat beperan sebagai fact-checker untuk meminimalisasi kesalahan. Selain itu, kemudahan mengakses informasi terbukti tidak selalu melemahkan daya ingat. Hal itu justru dapat memperkuat ingatan dan menjadi sumber inovasi. 

Sayangnya, tidak semua kelebihan internet dapat kita manfaatkan secara optimal. Umumnya, kita terlena dengan kecanggihan internet. Beragam fitur yang disediakan Google membuat kita tidak lagi dapat mengingat detail. Pada akhirnya, kita akan kebingungan saat kita tidak bisa menggunakan fitur-fitur tersebut untuk membantu aktivitas. Kebiasaan bergantung pada kemampuan Google juga akan mengurangi kemampuan kita terhadap pemahaman tentang sesuatu hal secara mendalam. 

Sejatinya, teknologi diciptakan untuk memudahkan manu­sia. Pemanfaatan teknologi sebaiknya didasari pengendalian sehingga tidak terjebak dan bergantung pada teknologi sepenuhnya. ■ 

Sumber : PCMedia Edisi 02/2012