Bila Rumah Makan Sungai

Oleh Zidni Mamluatul *

Ilustrasi – google.co.id

Dewasa ini sering sekali mendengar istilah tentang rumah. Hampir semua nama-nama tempat umum di Indonesia menggunakan kata rumah. Ada rumah makan Padang, rumah lampion, rumah boneka, dan masih banyak lagi istilah-istilah mengenai rumah yang lainnya. Namun, yang saya jumpai kali ini adalah istilah baru yang menggunakan kata rumah,yaitu rumah makan sungai.

Awal Februari saya melakukan perjalanan menuju kampung halaman yang sangat panas dan gersang, di Gresik. Sepanjang jalan antara Malang – Gresik saya menemukan banyak rumah yang berdiri di bantaran kali. Rumah-rumah itu berdiri mengangkangi sungai-sungai yang mestinya bebas dari permukiman warga.

Tidak cukup sampai di situ, ketika saya masuk kian dalam ke desa banyak sekali perubahan terjadi di sana. Mungkinkah modernisasi sudah mengubah gaya hidup masyarakat di desa saya? Banyak rumah yang mengambil alih sungai-sungai yang seharusnya mengalir lancar. Sungai-sungai itu semakin sempit, dan penuh dengan limbah rumah tangga. Bahkan, ketika hujan turun saluran air di setiap kampungnya pun mampat di sana-sini.

Apakah memang kesadaran masyarakat sudah mulai berkurang? Kesadaran terhadap keselamatan dirinya sendiri dan keselamatan orang lain. Sekarang rumah-rumah makan sungai esok entah apa lagi yang akan dimakan. Jangan heran atau marah jika tiba-tiba ada petugas penertiban melakukan penggusuran atau penertiban rumah-rumah yang mengangkangi sungai, karena memang sudah menjadi tugas dan kewajiban mereka untuk menertibkannya.

———————————-

(*) Mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang, Zidny.mm@gmail.com

Sumber