Seberapa Mahal Pengobatan Diabetes?

Oleh Saptorini 

Rasanya tak ada biaya pengobatan yang terbilang murah. Apapun penyakitnya, selalu memerlukan biaya khusus. Harga yang harus dibayar juga termasuk kualitas hidup pasien yang memburuk akibat penyakit. Bicara tentang diabetes, perlu dana jutaan rupiah untuk berobat setiap bulannya. Belum lagi jika terjadi komplikasi, biaya pasti membengkak hingga puluhan, bahkan ratusan juta. Demikian mahai untuk penyakit yang sebetulnya sangat bisa dicegah ini. 

Seorang pekerja seni di Jakarta yang belum lama terdiagnosis mengidap diabetes tipe-2 mengaku kepada GHS bahwa dia harus menyisihkan biaya 3 juta rupiah sebulan untuk control ke dokter, periksa darah, dan beli obat. 

“Makanya saya sekarang benar-benar memperhatikan makanan, berhenti merokok, dan berusaha olah raga. Semoga obat pelan-pelan bisa dikurangi, jadi lebih murah,” ujar pria berusia 50-an tahun ini. 

Kalau tidak sakit diabetes, dana sebesar itu bisa dialokasikan ke kebutuhan lain dalam keluarganya, seperti pendidikan, pangan, rekreasi. 

Jika dihitung secara nasional, biaya pengobatan diabetes mencapai triliunan rupiah, mengingat Indonesia memiliki jumlah penyandang diabetes nomor empat di dunia setelah AS, Cina, dan India. Menurut WHO, jumlah diabetes dari sekitar 8,4 juta di tahun 2000 diperkirakan akan menjadi 21,3 pada tahun 2030

Di Amerika saja, diabetes termasuk dalam sepuluh besar penyakit yang memerlukan biaya paling tinggi. Data dari American Diabetes Association menunjukkan, di negara adikuasa itu diabetes memerlukan biaya lebih dari 174 miliar dolar AS per tahun!

Biaya Komplikasi

Biaya pengobatan diabetes akan semakin berlipat ganda, bila sudah terjadi komplikasi. Diutarakan oleh Prof. DR. Dr. Sarwono Warpadji, Sp.PD., KEMD, dari Divisi Metabolik Endokrin, llmj Penyakit Dalam, FKUI-RSCM, komplikasi diabetes bisa mengenai hampir semua organ tubuh. “Bisa ke jantung, otak, mata, ginjal, organ reproduksi, dan sistem saraf yang antara lain menimbulkan gangguan kaki diabetik,” katanya. 

Biaya untuk diabetes dengan komplikasi gagal ginjal saja, menurut penelitian yang dilakukan Ramsey et.al. pada tahun 1999 bisa sekitar 3-4 kali lebih besar dibandingkan bila diabetes tanpa komplikasi. Sebagai gambaran, biaya cuci darah, misalnya tiga kali seminggu, perlu kira-kira Rp 116 juta, dalam setahun. 

Studi lain, yaitu UKPDS (United Kingdom Prospective Diabetes Study) yang dilakukan Philip Clarke,PhD, dan koleganya dari Pusat Penelitian Ekonomi Kesehatan, Departemen Kesehatan Masyarakat, Universitas Oxford, Inggris, tahun 2003 mengungkap, biaya diabetes pada kejadian tahun pertama untuk komplikasi pada satu mata (kebutaan) sekitar 13,5 juta rupiah, stroke sekitar 36,6 juta, serangan jantung sekitar 63 juta, dan amputasi sekitar 131 juta

Tes Sendiri Lebih Murah 

Seperti penyakit diabetes yang bisa dicegah, komplikasinya pun dapat dicegah, ditunda, atau diminimalisasi kemunculannya. Hal ini menjadi bagian penting dari tujuan pengelolaan diabetes, selain menjaga kualitas hidup pasien dan mencegah kematian dini akibat diabetes. 

Salah satu manajemen diabe­tes yang vital dilakukan adalah memonitor kadar gula darah. Jika gula darah terpantau, pasien dapat menjaganya agar kadarnya selalu ada di kisaran senormal mungkin. Bila kadar gula darah terjaga normal, juga tekanan darah dan kadar lemak darah, niscaya dosis obat-obatan bisa dikurangi, bahkan perlahan tak perlu lagi mengonsumsi obat. Kalau cukup dikelola dengan pengaturan makan dan olah raga teratur, tentu tak perlu lagi membuang biaya besar untuk penanganan diabetes. 

Saat ini, pemantau darah tak harus dilaktorium, tetapi bisa dil dengan cara dan alat Swamonitor gula darah ini memungkinkan diabetesi memantau kadar gula darahnya kapan diperlukan, dan di mana pun berada. 

Biaya yang diperlukan juga jauh lebih rendah, hanya Rp 740 ribu per tahun, dengan pemeriksaan dua kali seminggu oleh Oliver Schnell et. Al. tahun 2008 menunjukkan swarmonitor gula darah hanya memakan pembiayaan sebesar 2 persen, sementara obat 4 persen, dan jika terjadi komplikasi akan menghabiskan biaya 49 perser. 

Selain efisien, penggunaan swamonitor gula darah juga efektif. Dalam studi ROSSO Prof. Stephan Martir 2006, memperlihatkan penggunaan alat monitor gula darah oleh diabetes dapat menekan tingkat morbiditas (kesakitan akibat komplikasi) sebesar 32 persen, dan mortalitas (kematian) sebesar 51 persen. 

Sumber: Gaya Hidup Sehat, Tahun XII No. 48, Edisi 24 Februari – 01 Maret 2012.