Anak Juga Berisiko Terkena Diabetes

Oleh Diana Y. Sari 

Ilustrasi – medicalera

Diabetes, menurut centers for Disease Control and Prevention (CDC), merupakan salah penyakit kronis paling sering di pada anak maupun remaja. Semula mengenal diabetes tipe-I yang lebih dominan ditemui pada anak. Bergesernya pola makan dan semakin banyak kasus kegemukan yang dialami anak dan remaja, membuat mereka juga berisiko tinggi terkena diabetes tipe-2.

Tahun 2004, majalah Time menulis bahwa di tahun 2030 nanti, wilayah Asia diperkirakan akan memiliki kasus diabetes. Lebih WHO memproyeksikan di tahun 2030 itu, pengidap diabetes diIndonesiabakal mencapai angka 21,3 juta. Kondisi ini terutama dipicu oleh naiknya kasus obesitas.

Epidemik dari obesitas dan rendahnya aktivitas fisik menjadi penyumbang utama meningkatnya diabetes melitus tipe-2 selama masa kanak-kanak dan remaja. DM tipe-2 yang tadinya banyak diidap orang dewasa, kini juga mengancam anak dan remaja.

Anak dan remaja yang didiagnosis DM tipe-2, seperti disebutkan CDC, secara umum kisaran usianya 10-19 tahun. Mereka rata-rata kegemukan, ada riwayat DM tipe-2 dalam keluarga, dan resistensi insulin.

Konsekuensi Kegemukan

Kegemukan maupun kelebihan berat badan pada anak memang membawa sejumlah konsekuensi.

“Konsekuensi peningkatan berat badan akan membuat resistensi insulin yang menyebabkan intoleransi glukosa, gangguan metabolisme lemak, hipertensi, sindrom ovari polisistik, dan diabetes melitus tipe-2, yang menjadi masalah kesehatan serius pada anak dan remaja,” papar Dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K). Ditambahkan spesialis endokrin anak dari FKUI/RSCM ini, sekitar 25 persen anak dengan obesitas menunjukkan gejala intoleransi glukosa. Bila tidak diketahui dan ditangani sejak dini, risiko kesehatan jangka panjang akan menjadi taruhannya.

Karena itu, bila anak mengalami kelebihan berat badan dan dijumpai sejumlah tanda mencurigakan, sebaiknya lakukan skrining sindrom metabolik dan diabetes. Tanda itu misalnya tampak hitam di lipatan tengkuk, ketiak, dan buku-buku tangan.

“Jika terlihat tanda seperti ini, segera skrining untuk resistensi insulin,” tutur Ketua UKK Endokrinologi, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini.

Karena Autoimun

Yang juga kerap terjadi pada anak dan remaja adalah DM tipe-1. Data di UKK Endokrin Anak menunjukkan, anakIndonesiayang paling banyak terdiagnosis DM tipe-1 berusia 10-15 tahun.

DM tipe-1 tidak timbul tiba-tiba. Penyebabnya adalah proses autoimun yang mengakibatkan rusaknya sel pancreas yang memproduksi insulin. Karena itu, tubuh tidak mampu menghasilkan insulin.

Gejala yang menyertai umumnya sering berkemih, haus berlebihan, sering lelah, banyak makan, dan berat badan turun. Jika orangtua melihat gejala tersebut pada anak atau remaja, segera konsultasikan ke dokter guna dilakukan pemeriksaan gula darah sewaktu dan tes urin.

DM tipe-1 harus diketahui sedari dini supaya tidak jatuh dalam kondisi koma diabetik. “DM tipe 1 belum dapat disembuhkan, tetapi kualitas hidup penderita dapat dipertahankan seoptimal mungkin dengan kontrol yang baik,” kata Dr. Aman.

ASI Turunkan Risiko Obesitas

Risiko diabetes tipe-2 pada anak dapat diturunkan dengan pemberian ASI. Menurut Dr. Aman, itu karena pemberian ASI menurunkan risiko anak mengalami obesitas.

Penelitian terhadap 10 ribu anak sekolah di Jerman menunjukkan risiko kelebihan berat badan atau obesitas 17,1 persen pada anak yang tidak pernah menyusu ASI, dan hanya 12 persen pada yang mendapat ASI. Risiko kian turun, sejalan dengan bertambahnya waktu pemberian ASI.

Anak yang diberi ASI kurang dari 2 bulan, risikonya 14,9 persen. Risiko itu menurun menjadi 10,7 persen bila diberi ASI hingga 3-5 bulan. Risiko kian turun, menjadi 8,5 persen bila ASI diberikan eksklusif dan berlanjut hingga usia setahun.

Prevalensi obesitas pada anak usia sekolah dasar kian mengecil menjadi 5,8 persen bila ASI diberikan hingga bayi berusia setahun lebih.

Sumber: Gaya Hidup Sehat, Tahun XII No. 48, Edisi 24 Februari – 01 Maret 2012.