The Mask Poetry

Oleh Regina Penontongan

Dibalik rupa yang beraneka ragam, ia menyimpan sejuta ekspresi. Orang bijak berkata, jika ingin mengorek kejujuran dari seseorang berilah ia topeng. Bukan hanya filosofis, ada juga makna magis yang tersimpan didalamnya.

Awalnya, topeng diciptakan untuk kepentingan spiritual. Leluhur manusia menciptakan topeng sebagai sebuah media dengan fungsi spiritual yang magis sebagai pengusir roh jahat, penjaga pemakaman, pemanggil roh leluhur, atau sebagai elemen yang dipakai dalam upacara keagamaan. Selain itu topeng juga dipakai dalam upacara perkawinan, penguburan, memperingati orang saleh yang telah tiada, dan masih banyak lagi. Namun dalam perjalanannya, topeng pun ber kern bang menjadi sebuah seni tari yang sarat makna dan koreografi indah.

EXPLORING THE MASK CULTURE

Dari catatan sejarah, topeng sudah ada sejak zaman Paleolitikum (sekitar 30.000 tahun lalu). Salah satu buktinya adalah lukisan manusia berpakaian kulit binatang dan memakai topeng sedang menari, menyanyi, dan memainkan instrumen di dinding gua Trois Freses di sebelah selatan Prancis. Bukti lain adalah dinding gua-gua di Spanyol yang juga berisi lukisan-lukisan manu­sia bertopeng.

Di Indonesia sendiri, tepatnya di Gilimanuk, ditemukan penutup muka jenazah berbentuk oval yang diperkirakan berasal berasal dari 1900-2100 tahun lalu. Penemuan lain adalah tutup wajah jenazah yang terdiri dari alis, hidung, serta penutup mulut, oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional lewat penggalian di Pasir Angin, Bogor, sekitar tahun 1973. Selain itu, topeng penutup wajah jenazah yang utuh juga pernah ditemukan di Makasar pada 1972 dan di Jawa Timur.

Endo Suanda, Etnomusikolog yang juga direktur Lembaga Pendidikan Seni Nusantara dan Yayasan Tikar Media menjelaskan bahwa kemunculan topeng di In­donesia berdasarkan sejarahnya diasumsikan berasal dari legenda cerita Panji, walaupun ada banyak topeng juga yang tidak berasal dari cerita ini. Sejalan dengan tumbuhnya budaya pesisir Jawa, topeng berawal dari keruntuhan kerajaan Majapahit hingga ke Cirebon bersamaan dengan perkembangan agama Islam di abad 14-16 M. Panji sendiri menceritakan tentang ke- hidupan pasangan Candra Kirana dan Panji (Inu Kartapati) yang menikah namun harus berpisah karena satu dan lain hal, tapi akhirnya bertemu kembali. Cerita Panji dan topengnya ini tidak menyebar di keraton-keraton melainkan di sektor-sektor kerakyatan, sehingga ceritanya menjadi sangat populer dengan cerita rakyat. Dalam perkembangannya, istilah topeng tidak hanya ditujukan untuk kedok saja, namun juga pertunjukan tari dan penarinya.

FROM WEST TO EAST

Sejumlah anak sedang memainkan Topeng yang biasa digunakan dalam Tari Topeng Cirebonan di sanggar Bakti Mulia, Indramayu, Jawa Barat.

Indonesia memiliki topeng etnis yang sedikit banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu atau kebudayaan luar lainnya. Umum-nya topeng yang dibuat dari tumbuh-tumbuhan yang dikombinasikan dengan bahan lain, misalnya tulang, bulu, dan kulit binatang ini, memiliki fungsi untuk keperluan upacara yang berkenaan dengan roh atau menggambarkan mahluk asing atau alam gaib. Namun tidak semua etnis di Indonesia masih memiliki topeng semacam ini, beberapa yang masih dikenal ada di lingkungan masyarakat Batak yang dikenal dengan toping, Dayak dengan topeng etnis yang bernama hudo, dan di Sepik (Pa­pua Timur) yang memiliki topeng terbuat dari anyaman rotan yang sangat halus dan padat, serta beberapa daerah lainnya.

Rangkaian koleksi Topeng Tengger aneka warna dan ekspresi siap untuk dipentaskan.

Ondel-ondel yang dikenal sebagai bagian dari budaya Betawi juga masuk dalam kategori topeng. Saat ini difungsikan un­tuk menyambut tamu agung atau upacara perkawinan, dan Iain-lain. Tapi di pantai utara Subang (Jawa Barat), ada juga topeng yang mirip ondel-ondel yang ber- fungsi sebagai pengusir roh.

THE QUEST FOR A STAGE STAR

Seniman tari kenamaan Didik Nini Towok tampil mementaskan drama tari Sangan “Fusion Dance with Didik Nini Towok”.

Selain sebagai elemen da­lam upacara adat dan ritual keagamaan, topeng juga men- jadi bintang panggung dalam pertunjukan. Biasanya pertunjukan topeng mengambil lakon dari cerita Panji, Ramayana, atau Mahabharata yang diadaptasi dengan tradisi dan juga budaya dari masing-masing daerah di Indonesia. Istilah topeng selain diperuntukkan untuk kedok, juga merupakan sebutan yang lumrah untuk pertunjukan dan penari topeng.

“Namun tidak semua seni topeng diperuntukkan untuk per­tunjukan karena ada juga yang merupakan bagian dari ritual, sehingga sampai sekarang masih banyak orang yang menggunakan topeng sebagai media untuk memanggil roh-roh tertentu,” papar Endo.

Pertunjukan topeng yang cukup terkenal adalah tari topeng, bisa dilakukan seorang diri atau grup. Jawa Timur menjadi tempat munculnya seni gerak tubuh ini. Tepatnya pada masa pemerintahan Raja Jenggala, yaitu Prabu Amiluhur atau Prabu Panji Dewa.

Melalui seniman jalanan, tari topeng masuk ke Cirebon dan berpadu dengan kesenian setempat, yang kemudian dijadikan salah satu upaya penyebaran agama Islam oleh Syekh Syarif Hidayatullah yang bergelar Syekh Gunung Jati yang bekerjasama dengan Syekh Sunan Kalijaga di zaman Wali Songo. Mereka juga menjadikan tari topeng sebagai salah satu tontonan di lingkungan keraton.

Martinus Miroto, koreografer dan instruktur tari di Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta, menjelaskan, “Tari topeng Jawa memiliki beberapa jenis, ada topeng Panji, wayang topeng yang dimainkan beramai-ramai, kelana topeng yang dimainkan oleh seorang laki-laki, dan ada wayang wong yang merupakan jenis pertunjukan drama tari.”

Untuk tema tari topeng sendiri, menurut Miroto, Jawa dan Bali masih memiliki tema yang berhubungan karena dekat dengan cerita Panji. Miroto juga berbagi rahasia untuk bisa sukses menjadi seorang seniman tari topeng. “Memahami karakter yang dilakonkan dan menguasai teknik tari. Ketika menari topeng, jarak pandang sangat terbatas, bahkan hampir tidak bisa melihat ruang di sekeliling. Oleh karena itu banyak penari topeng yang memejamkan mata ketika menari, termasuk saya,” ungkapnya.

THE LEGACY

Tari Topeng menjadi alat penyebaran agama Islam di Nusantara.

Sementara di kota Cirebon, perkembangan kesenian ini su- dah sangat baik, hal ini diungkapkan oleh Nanik, salah satu dalang topeng Cirebon. la disebut dalang topeng karena memiliki garis keturunan sebagai penari topeng dan mempelajarinya secara khusus, termasuk melakukan ritual tertentu.

Topeng Cirebon dibagi menjadi beberapa wilayah, di wilayah timur ada topeng Losari, sedangkan di wilayah barat ada topeng Selangit, Palimanan, Beber, dan Majalengka. Yang membedakannya adalah gerak, kostum, cara penyajian dan unsur cerita. “Wilayah timur lebih sederhana dalam penyajiannya, lalu tingkat kesakralan dalam pe­nyajian juga relatif masih tinggi. Sedangkan di wilayah barat, unsur ceritanya hampir sama dari setiap daerah, tapi nilai filosofisnya sangat tinggi,” tambah Nanik.

Pemilihan Topeng Cirebon saat pembukaan Festival Topeng Nusantara 2010.

Pertunjukan topeng juga ada yang berunsur magis. Barong di Bali misalnya, terbagi men­jadi dua jenis, barong landung yaitu barong berkaki dua, dan barong keket atau barong ket yaitu barong berkaki empat. Pertunjukan ini mengambil tema cerita perkelahian antara Rangda (perempuan penyihir yang jahat) dan barong.

Sekarang berkembang juga topeng kontemporer yang cerita­nya disesuaikan dengan perkem­bangan zaman. Salah satu karya topeng kontemporer yang terkenal adalah topeng dwi muka yang merupakan karya seniman tari Didik Ninik Towok.

Seorang penari berpose sebelum dimulainya Kirab Budaya Ciayumajakuning.

“Seni topeng sebenarnya kaya akan kreativitas dan inovasi pertunjukan, baik tradisional maupun kontemporer. Aset budaya yang sangat cantik sekaligus sangat luas di Indonesia. Harusnya memang dilestarikan sebagai warisan,” imbau Miroto yang khawatir melihat seni ini perlahan mulai kehilangan pendukungnya.

Sumber: Majalah Citigold, December 2010 – February 2011 Vol. 04 – IX – 2010.