Harus lebih kritis memilih asuransi penyakit kritis

JAKARTA. Semua orang ingin sehat. Itu sebabnya, ketika sakit mendera, berbagai upaya dilakukan agar sembuh dan kembali sehat. Anda yang bisa menjaga kesehatan, bersyukurlah. Sebab, biaya pengobatan semakin mahal dan belum tentu terjangkau oleh semua orang. Alat medis yang canggih dan obat-obatan terbaru jadi pemicu pembengkakan pengeluaran. Sakit itu mahal, kata orang.

Jika Anda berkantong tebal atau mendapat tunjangan plafon kesehatan dari kantor yang cukup, biaya pengobatan tak memberatkan. Apalagi jika penyakit yang datang tak terlalu serius, seperti demam, diare, atau cidera ringan. Lain persoalan jika Anda menderita penyakit gawat yang membutuhkan perawatan lama atau operasi mahal. Uang kesehatan dari kantor tak cukup, sementara asuransi kesehatan biasa tidak mencakup penyakit jenis itu.

Bagi mereka yang tak ingin menghadapi kondisi seperti itu lah, perusahaan asuransi menawarkan produk asuransi penyakit kritis (critical illness asssurance). Beberapa perusahaan asuransi yang sedang gencar menawarkan produk asuransi penyakit kritis, antara lain PT Prudential Life Assurance, PT Panin Life, dan PT Allianz Life Indonesia.

Akhir Juli lalu, Prudential merilis produk bertajuk PRUearly Stage Crisis Cover. Produk ini ditujukan untuk pemegang polis Prulink, Prulink syariah, dan produk asuransi non-unitlink, yaitu Pruuniversal Life. Ada 79 risiko penyakit kritis yang ditanggung lewat asuransi tersebut, antara lain kanker, parkinson, alzheimer, serangan jantung, stroke, kebutaan, koma, hingga HIV.

Panin Life Indonesia juga meluncurkan asuransi penyakit kritis bertajuk Smart Crisis Cover. Produk ini memberikan pembayaran manfaat yang berjenjang, mulai dari stadium awal hingga stadium lanjut alias kritis. Penyakit kritis yang ditanggung asuransi ini ada 34 jenis, seperti kanker, jantung, stroke, kebutaan, dan ginjal.

Selain dua produk tersebut, banyak perusahaan asuransi yang menawarkan perlindungan terhadap penyakit kritis. Sebagian besar sebagai tambahan (rider) produk tersebut dengan produk asuransi kesehatan ataupun asuransi jiwa.

Allianz, ambil contoh, membalutkan produknya kepada pemegang polis asuransi My Education, My Future, serta My Protection. Asuransi kritis Allianz menanggung sekitar 49 jenis penyakit kritis. Asuransi Takaful Indonesia juga memiliki produk sejenis. Namanya Takaful Falah. Produk ini merupakan kombinasi asuransi jiwa dan kesehatan dengan nilai premi Rp 1 juta setahun. Setidaknya ada 40-an jenis penyakit kritis yang di tanggung oleh Takaful Falah.

Apa kategori kritis?

Sebelum kita membahas produk ini terlalu jauh, Aidil Akbar Madjid, perencana keuangan dari Akbar Financial Check Up, mengingatkan bahwa definisi penyakit kritis dalam asuransi adalah penyakit yang sudah dalam kondisi kritis. “Tak peduli berapa banyak penyakit yang bisa di-cover perusahaan asuransi,” ujarnya.

Pada pasien kanker, misalnya, rata-rata perusahaan asuransi hanya mau membayar klaim saat tertanggung sudah ada di stadium 4. Ini yang masuk definisi kritis.

Nah, Aidil menilai, selama ini perusahaan asuransi tidak menjelaskan secara detail kepada masyarakat mengenai kategori kritis dalam produk asuransi tersebut. Masyarakat menganggap klaim atas semua penyakit bakal dikabulkan perusahaan asuransi, apapun kondisi pasien (tertanggung). Padahal, kenyataannya tidak seperti itu.

Sudah begitu, premi yang harus dibayar oleh nasabah untuk asuransi jenis ini juga relatif lebih mahal ketimbang asuransi kesehatan biasa atau asuransi jiwa. Oleh karena itu, agar tak terjebak, Aidil mewanti-wanti agar calon nasabah lebih jeli membaca setiap klausul polis asuransi.

Sebelum memutuskan menjadi nasabah asuransi ini, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan pihak yang berkompeten seperti perencana keuangan. Calon nasabah juga perlu meminta daftar dokumen yang harus dilengkapi dan dipersiapkan jika ingin mengklaim kepada perusahaan asuransi. Daftar dokumen ini mengacu pada klaim yang sudah pernah dicairkan pihak asuransi kepada nasabahnya terdahulu.

Calon nasabah juga harus memahami detail apa yang tertuang dalam isi polis. Memang, ini tidak mudah. Perusahaan asuransi tidak akan membeberkan isi jeroannya sebelum seseorang menyatakan bersedia menjadi nasabah. Menurut Aidil, ketika nasabah merasa tidak sepakat dengan isi polis, maka dia masih bisa membatalkan pengajuan polis dalam kurun 14 hari sejak pengajuannya diterima oleh perusahaan asuransi.

Nah, ada beberapa klausul yang berpotensi menjebak nasabah. Misalnya penggunaan istilah “pengecualian” dalam polis. Risza Bambang, perencana keuangan dari Shildt Financial Planner menjelaskan, biasanya pengecualian ini untuk penyakit yang timbul karena nasabah melakukan tindakan kriminal, infeksi HIV, atau penyakit yang sudah diderita nasabah sebelum menjadi peserta asuransi.

Risza juga menyarankan, sebaiknya calon nasabah menanyakan secara lebih mendetail setiap penyakit yang ditanggung atau tak ditanggung oleh asuransi. Contoh penyakit gagal ginjal, apakah penanganannya hingga proses transplantasi atau hanya cuci darah saja. Lalu, berapa kali cuci darah yang ditanggung.

Calon nasabah asuransi penyakit kritis tak cuma wajib hanya memeloti isi klausul dan penyakit kritis yang ditanggung asuransi. Risza Bambang, perencana keuangan dari Shildt Financial Planner melihat syarat pencairan klaim asuransi penyakit jenis ini tergolong rumit, tak sesederhana klaim asuransi kesehatan biasa.

Jika nasabah asuransi kesehatan hanya butuh kuitansi dari rumahsakit dan nasabah asuransi jiwa hanya butuh surat keterangan kematian dari rumahsakit, pemegang polis asuransi penyakit kritis harus menyertakan keterangan diagnosa lengkap dari dokter. “Ada semacam proses investigasi di situ,” kata Risza.

Selain itu, perusahaan asuransi tak memberikan patokan tenggat waktu yang pasti untuk pencairan klaim. Mereka berdalih butuh waktu untuk memproses pengumpulan keterangan diagnosa dokter dan investigasi yang lama. Paling cepat, setelah semua data terkumpul, perusahaan asuransi akan memproses klaim dalam tempo seminggu.

Satu lagi yang perlu dicermati oleh calon pemegang polis adalah beberapa istilah dalam kedokteran yang sulit dimengerti. Fauziah Arsiyanti, perencana keuangan dari First Principal Financial Pte Ltd Singapura, menyarankan sebaiknya berkonsultasi dulu dengan dokter pribadi tentang kemungkinan risiko kesehatan yang bakal menimpa dirinya kelak.

Melihat rumitnya prosedur pencairan klaim, perempuan yang akrab disapa Zizi ini, menyarankan calon nasabah memilih skema lain jaminan kesehatan jika sebelumnya sudah pernah menderita penyakit. “Daripada harus membayar premi mahal karena kondisi kesehatannya, saya menyarankan menabung di bank atau membeli emas,” tandasnya.

Hujan kritik ini memancing tanggapan perusahaan asuransi. Mereka berjanji dan berkomitmen menerima klaim saat penyakit baru memasuki tahap awal (early stage).

Jadi, keputusan kembali ke tangan Anda dalam memilih asuransi penyakit kritis. Toh, kesehatan tetap yang utama dan harganya memang mahal. Sehebat-hebatnya asuransi kesehatan, tetap lebih hebat kalau Anda bisa menjaga kesehatan sebaik-baiknya.

Nah, berbekal masukan dari para perencana keuangan itu, yuk kita longok dulu dua produk asuransi tersebut.

PRUearly Stage Crisis Cover

Presiden Direktur Prudential Indonesia William Kuan mengatakan, produk asuransi tambahan ini melengkapi 12 asuransi tambahan alias rider yang saat ini dibesut oleh Prudential.

Menurut dia, perbedaan produk ini dengan produk-produk asuransi tambahan lain yang telah ada sebelumnya terletak pada kecepatan perlindungan finansial yang diberikan pada tahap awal. “Sebesar 50% dari total uang pertanggungan nasabah akan cair sesaat setelah nasabah terdiagnosa menderita salah satu penyakit kritis pada tahap awal,” ujarnya.

Nini Sumohandoyo, Direktur Pemasaran dan Komunikasi Pru, menambahkan rider terbaru ini juga bisa memberikan manfaat 100% UP pada tahap menengah dan tahap lanjut. Tak hanya itu, dia berpromosi, ada juga manfaat tambahan berupa 10% UP jika nasabah menjalani tahapan angioplasty atawa membuka sumbatan pada arteri yang mendarahi otot jantung.

Kemudian ada pula manfaat tambahan 20% jika nasabah mengalami kondisi kritis. Kondisi yang dimaksud adalah komplikasi akibat diabetes dan amputasi. Lalu, 10% lagi apabila pemegang polis menderita kebutaan total akibat penyakit atau kecelakaan. “Jadi total manfaat yang diterima nasabah sampai 140% dari uang pertanggungan,” kata Nini.

Syaratnya, tertanggung berusia 6 tahun sampai 60 tahun dengan pilihan masa pertanggungan usia 55, 65, 70, 75, 80 dan 85 tahun. Produk yang tersedia dalam mata uang rupiah dan dollar AS ini mematok maksimum uang muka Rp 1 miliar (US$ 125.000).

Smart Crisis Cover

Direktur Operasional Panin Life Jutany Japit mengatakan, produk ini dapat ditambahkan pada polis asuransi Panin New Multilinked (produk unitlink) dengan premi minimum Rp 2 juta per tahun dan besar uang pertanggungan minimal Rp 10 juta.

Sebagai produk unitlink, Jutany menyebutkan, persentase antara proteksi dan investasi di dalamnya tergantung pada jumlah uang pertanggungan, berapa banyak jenis pertanggungan serta jumlah nasabah di dalam polis tersebut.

Sembari berpromosi, dia bilang, Panin Life adalah satu-satunya perusahaan yang membolehkan nasabah membeli satu polis unitlink untuk satu keluarga. Jadi, nasabah dapat menghemat biaya polis. “Nasabah yang membeli asuransi untuk pertanggungan satu keluarga akan memiliki persentase untuk asuransi lebih besar dan investasi yang lebih kecil dibandingkan nasabah yang membeli asuransi untuk pertanggungan sendiri,” katanya.

Sekadar informasi, sejak diperkenalkan akhir tahun lalu, Smart Crisis Cover sudah mampu membukukan total premi Rp 13 miliar. Ada tiga nasabah yang sudah mendapat pembayaran klaim dengan uang pertanggungan Rp 300 juta.

Asuransi Penyakit Kritis untuk Siapa?

Membeli produk yang sesuai dengan kebutuhan adalah tindakan bijak. Begitu juga dengan asuransi penyakit kritis. Risza mengatakan, produk tersebut tetap bermanfaat jika dibeli oleh profil nasabah yang tepat.

Pertama, nasabah yang secara genetis punya keturunan penyakit dari kelompok penyakit yang ditanggung oleh perusahaan asuransi. Kedua, nasabah yang merasa gaya hidupnya tidak sehat dan berpotensi sakit berat. Namun, mengingat premi yang dibayar relatif mahal, Risza menyarankan agar mengambil asuransi penyakit kritis ini sedini mungkin atau sebelum penyakit terjadi.

Perencana keuangan dari One Consulting, M. Andoko, mengatakan asuransi penyakit kritis dapat meringankan beban pengeluaran keluarga. “Manfaat dari asuransi ini masih bisa dirasakan saat nasabah masih hidup dan berbeda dengan asuransi jiwa yang dinikmati ahli waris setelah nasabah meninggal,” imbuhnya.

Namun, perencana keuangan dari First Principal Financial Pte Ltd Singapura Fauziah Arsiyanti, menilai proteksi diri sudah cukup dengan asuransi jiwa. Asuransi penyakit kritis bisa ditambahkan jika nasabah memang punya dana lebih.

Dia membagi skala prioritas kebutuhan dalam lima jenjang. Mulai dari dana darurat, asuransi jiwa, asuransi penyakit kritis, reksadana pendidikan dan terakhir dana pensiun.

Perlu diingat, agar tidak menemui klaim yang berbelit, Anda harus jujur dalam mengisi formulir aplikasi polis. Tujuannya agar sejak awal dapat diketahui penyakit dan kondisi apa saja yang bisa diklaim dan mana yang tidak. “Ada nasabah yang nakal menutupi penyakitnya dan berharap nanti bisa di-cover kalau sembuh. Namun yang terjadi klaimnya ditolak sehingga dia justru rugi karena preminya hangus,” pungkas Risza.

Sumber 1 dan Sumber 2