Mengontrol pengeluaran dengan uang elektronik

JAKARTA. Membawa segepok uang dalam dompet lambat laun akan menjadi cerita masa lalu. Gaya hidup yang makin modern dan perkembangan teknologi menghadirkan sistem pembayaran yang makin canggih. Salah satu kemudahan tersebut datang dari piranti pembayaran yang disebut electronic money (e-Money) atau dikenal juga dengan nama uang elektronik.

Mengacu pada pengertian yang ditetapkan Bank Indonesia (BI), uang elektronik adalah alat pembayaran yang memenuhi empat unsur. Pertama, diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu oleh pemegang kepada penerbit. Kedua, nilai uang disimpan secara elektronik dalam suatu media, seperti server atau cip.

Ketiga, digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang yang bukan merupakan penerbit uang elektronik tersebut. Terakhir, nilai uang elektronik yang disetor oleh pemegang dan dikelola oleh penerbit, bukan merupakan simpanan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengatur mengenai perbankan.

General Manager Bisnis Kartu BNI Dodit Wiweko Probojakti berpendapat, uang elektronik memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan alat pembayaran berupa kartu yang lain, yakni kartu kredit dan kartu debit, karena lebih mudah didapatkan. “Kalau ingin punya kartu debit harus punya rekening bank bersangkutan dan kalau mau punya kartu kredit maka ada penilaian soal pendapatan, umur dan lain-lain,” bebernya.

Dengan kelebihan yang ada pada uang elektronik, Kepala Bagian Pengembangan Bisnis E-Banking BRI Andini Nauli yakin, masa depan uang elektronik akan cerah. Apalagi, menurut dia, BI semakin intens mendorong penggunaan alat pembayaran ini. Menurut Andini, ini masuk akal karena pengelolaan uang fisik, mulai dari pencetakan, penyimpanan, hingga pendistribusiannya memakan biaya yang mahal.

Tak hanya para bankir, para perencana keuangan independen pun mengamini perihal manfaat uang elektronik tersebut. Perencana keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari menyebut, uang elektronik memiliki kelebihan, yakni praktis dan bisa dimanfaatkan untuk mengatur keuangan alias sebagai alat kontrol.

Perencana keuangan dari Zelts Consulting Dwita Ariani menimpali, dalam perencanaan keuangan keluarga, kebutuhan operasional bisa saja dialokasikan melalui uang elektronik. Ambil contoh, uang elektronik diserahkan kepada sopir untuk biaya operasional bahan bakar minyak (BBM) dan tol, diberikan kepada pembantu rumahtangga untuk berbelanja atau diberikan kepada anak untuk jatah jajan bulanan.

Sejumlah produk

Pada praktiknya, puluhan merek uang elektronik yang diterbitkan memiliki fitur dan kegunaan masing-masng. Berikut ini ulasan beberapa di antaranya.

BRI

Dari sisi kemudahan pengisian, Andini menjamin, Brizzi menjawab permasalahan kesulitan pengisian ulang (top up) yang terkadang dialami uang elektronik bank lain karena tempat top up yang terbatas. Pengisian ulang Brizzi bisa dilakukan di jaringan anjungan tunai mandiri (ATM) berlogo Bersama atau Prima, selain tentu saja di ATM BRI.

Pengisian melalui jalur lintas bank akan dikenai biaya administrasi hingga Rp 5.000. “Jadi tidak harus jadi nasabah BRI untuk mendapatkan Brizzi,” tanda Andini.

BRI mematok saldo minimal dan biaya administrasi untuk penutupan dengan jumlah yang sama, yakni Rp 20.000. Nah ketika ditutup, pemilik Brizzi tetap bisa menyelamatkan duit yang ada di dalamnya.

Sejumlah merchant pun digandeng Brizzi, antara lain stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), travel Cipaganti, pasar modern Yomart, dan restoran Solaria. “Pemberlakuan e-airport dengan Brizzi mulai besok (22/12) di terminal 1C,” ungkap Andini.

BNI

Meski sudah melenggang lebih dari dua tahun, diakui oleh Dodit, perkembangan uang elektronik BNI tidaklah gesit. Per bulan, jumlah transaksi uang elektronik BNI hanya 100.000 kali. Dengan rata-rata transaksi per kartu Rp 45.000, maka dalam sebulan total nilai transaksi uang elektronik BNI adalah Rp 4,5 miliar.

Dodit bilang, sumbangan terbesar masih dari transaksi melaui gerai Alfamart sebagai salah satu merchant yang digandeng. Sementara merchant yang lain seperti kartu untuk kereta api Yogyakarta-Solo, kartu masuk Mekarsari dan Ancol, serta kartu buat menonton konser Java Jazz Festival.

Sejauh ini BNI hanya mengandalkan ATM BNI dan Alfamart sebagai tempat pengisian ulang. Total ATM dan unit BNI sendiri mencapai 6.200.

Operator seluler

Setidaknya ada tiga operator selular yang menyedian uang elektronik, yakni PT Telkom Tbk dan PT Telkomsel, PT Indosat Tbk, serta PT XL Axiata Tbk. Namun pengisian kartu e-money operator selular ini hanya untuk kebutuhan pulsa telepon dan internet.

Beragam fitur ditawarkan para penerbit uang elektronik. Brizzi, misalnya, bisa diisi ulang tanpa mengharuskan si pemilik menjadi nasabah BRI. Pengguna harus bijak memilih kartu e-money agar manfaat penggunaan uang elektronik bisa maksimal.

Namun, di samping kelebihan, electronic money (e-Money) pun tak terlepas dari kekurangan. Oleh karenanya, perlu sikap bijak untuk memanfaatkan alat pembayaran ini. Tujuannya tentu agar pengguna bisa mendapatkan manfaat e-money secara maksimal. Berikut ini tip memanfaatkan e-money yang diungkapkan oleh perencana keuangan independen dari Tatadana Consulting, Tejasari dan Zelts Consulting, Dwita Ariani.

Alokasikan dana mingguan

Tejasari atau yang akrab disapa Teja mengatakan, sebaiknya Anda menyesuaikan dana yang ditempatkan pada e-money dengan alokasi dana mingguan. Waktu mingguan dinilai Teja tepat karena cukup efisien tapi relatif aman. “Kalau dialokasikan bulanan maka kemungkinan terpakai melebihi jatah lebih besar dan risiko kerugian juga besar jika kartu hilang,” bebernya.

Teja memberikan contoh, untuk alokasi biaya bensin. Dengan asumsi biaya bensin sebulan Rp 1 juta, maka tiap minggu pengguna harus melakukan top up (pengisian) uang pada e-money sebesar Rp 250.000. Intinya soal pengisian mingguan ini mengacu pada asumsi total pengeluaran untuk sebuah kebutuhan dalam satu bulan.

Pada praktiknya, jika pengeluaran sudah melebihi perkiraan dari yang dianggarkan padahal jatah top up masih lama, pengguna bisa mengerem pembelanjaan. Dari sini, fungsi e-money sebagai alat kontrol pengeluaran dan alat pembayaran bisa berjalan secara berbarengan.

Pilih sesuai kebutuhan

Dwita mengatakan, tujuan awal penggunaan e-money memang mengejar kepraktisan. Namun sebaiknya pengguna memilih kartu e-money yang memang sesuai dengan kebutuhan, mengingat ada banyak kartu e-money yang beredar di pasaran dan menawarkan fasilitas pembayaran yang kadang tak sama. Dengan kata lain, belum ada kartu e-money yang bisa memenuhi semua kebutuhan.

Nah, jika tak bisa mendekap semua fungsi yang ditawarkan beragam kartu ?e-money tersebut, maka perlu ada prioritas. Misalnya saja, bagi seseorang yang kerap melakukan perjalanan rutin melewati jalan tol, Dwita menyarankan agar orang tersebut memilih e-money yang menawarkan fungsi ini.

Teja sependapat. Menurut dia, semisal seseorang memiliki lebih dari satu bank dan masing-masing bank memiliki e-money, dia tidak menyarankan orang tersebut memanfaatkan seluruh e-money dari setiap bank tempat dia menyimpan dana.

Perhatikan penyimpanan

Sesuai dengan namanya, yakni uang elektronik, maka demikianlah fungsi e-money. Berbeda dengan kartu kredit atau debet, e-money tak memerlukan konfirmasi data atau personal identification number (PIN) ketika akan digunakan sebagai alat pembayaran. Bahkan, kartu bisa dipindahtangankan dan bisa dipakai siapa pun selama saldo masih mencukupi.

Di sisi lain, sifat e-money yang terlampau praktis itu membahayakan. Kalau e-money sampai hilang, bukan tak mungkin saldo di dalamnya ludes. Pada kenyataannya, e-money dengan nilai top up maksimal Rp 1 juta tak masuk inventori bank, sebagai salah satu lembaga yang mengeluarkan produk ini. Artinya, pencuri atau pengguna nakal kartu e-money juga tak bisa dilacak. Oleh karenanya, Dwita dan Teja menyarankan agar pengguna selalu hati-hati menyimpan kartu e-money.

Sumber 1 dan Sumber 2