Jangan Ada yang Miskin Di Atas Gundukan Gunung Emas

Oleh Isdiyanto

Jangan ada yang miskin di atas gundukan gunung emas. Kalimat ini kami cuplik dari percakapan ringan kami bersama salah satu staf ActionCoach di Jakarta beberapa waktu lalu. Percakapan itu bermula ketika kami mendiskusikan tentang geliat kewirausahaan di Indonesia yang semakin tumbuh subur, dan memberikan harapan untuk makmur sebagai bekal bangsa ini untuk sejahtera.

Kini geliat kewirausahaan tidak lagi didominasi suku tertentu, atau sekelompok orang tertentu, jaringan bisnis tertentu, atau keturunan trah tertentu, seperti yang terjadi di tahun 80an. Kewirausahaan telah menjadi gerakan nasional, dan menjadi pilihan yang tepat bagi bangsa ini untuk menuju bangsa yang sejahtera di masa mendatang.

Seperti yang diungkap teman saya tadi, kita masih terlena dengan banyaknya sumberdaya alam yang menjadi kekayaan bangsa kita, tetapi lupa memberdayakannya secara optimal. Sehingga, ibarat hidup, kita masih tergolong bangsa yang miskin, justru rumah kita berdiri di atas gundukan emas. Kita juga, bahkan, sering merasa kelaparan di lumbung padi yang berdiri di hamparan sawah yang luas. Sebuah paradoks yang sangat sulit bisa dimengerti oleh akal sehat.

Setelah diurai,  ternyata kata kuncinya ada di kewirausahaan itu tadi. Semangat kewirausahaan (entrepreneurship spirit) bangsa kita tergolong jauh tertinggal dengan bangsa lain. Lemahnya jiwa kewirausahaan menjadikan bangsa ini tidak berkutik menciptakan nilai tambah dari kekayaan alam yang dimiliki. Alhasil bangsa lain lah yang menikmatinya. Lihat saja fenomenanya ! Lebih banyak mengekspor bahan baku mentah ke negara lain, malas menciptakan inovasi baru dan nilai tambah, serta sebagian besar kehidupan (masyarakatnya) sedang menuju kehidupan yang hedonisme.

Beruntung dalam lima tahun terakhir banyak momentum yang membuat kita sadar bahwa hanya bangsa yang memiliki kewirausahaan tinggi yang akan mampu mengantarkan rakyatnya menuju gerbang kesejahteraan.

Jepang, Korea, China sudah membuktikannya. Negara tetangga terdekat seperti Singapura, juga jadi contoh betapa jiwa kewirausahaan masyarakatnya begitu ditumbuhkan di negeri ini. Karena mereka sadar, tanpa kewirausahaan, sebagai negara, mereka akan mati.

Pertanyaannya, bekal apa yang harus ditumbuhkan agar kita menjadi bangsa yang berkewirausahaan tinggi? Ternyata jawabannya adalah : keberanian kita, bangsa ini, untuk menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang berani dan tidak takut gagal. Takut gagal adalah sifat-sifat bangsa pecundang, dan kesuksesan hanya milik orang-orang yang berani.

Dalam berwirausaha,  pendidikan bukanlah hal yang terpenting, tetapi diukur dari keberaniannya bersikap menghadapi segala risiko, jeli menangkap peluang, serta mampu menciptakan nilai tambah. Karena itu, sangat menggembirakan,  kini banyak berdiri komunitas kewirausahaan, buku-buku, majalah, acara radio, siaran TV, hingga seminar dan workshop yang rutin diselenggarakan yang membahas kewirausahaan.

Sekolah-sekolah, Perguruan tinggi akan ditinggalkan siswa dan mahasiswanya jika mengabaikan kewirausahaan sebagai roh yang harus diajarkan. Birokrasi yang tidak memiliki dan menjalankan prinsip-prinsip kewirausahaan, dianggap sebagai birokrasi yang usang, dan  harus ditinggalkan.

Bangsa ini harus belajar tentang ketekunan, kesabaran,  selalu berfikir optimistis, serta memiliki kemauan yang keras untuk sukses dan maju.

Apa jadinya bangsa ini jika mampu mempercepat menjadi bangsa yang memiliki sikap kewirausahaan yang tinggi? Lima tahun mendatang kita tidak lagi menjadi bangsa miskin, juga tidak ada kelaparan, juga bukan menjadi bangsa congek yang hanya dapat mengekspor TKI.

Anda, bersiaplah menjadi pewirausaha!

Sumber