Beda usia, beda pula jenis tabungannya

JAKARTA. Sebagai pundi penyimpan uang, bank nyaris tak punya pesaing. Bank punya tiga kelompok produk yang bisa jadi pilihan menyimpan duit. Yakni, giro, tabungan, dan deposito.

Ada beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan calon nasabah saat memilih tempat menyimpan uang di bank. Ivy Widjaja, Senior Vice President Head of Customer Proposition HSBC Indonesia, menyarankan, nasabah melakukan financial check up terlebih dulu untuk mengetahui kondisi keuangan masing-masing sebelum memilih produk bank.

Langkah ini penting untuk menelisik sejauh mana kesehatan nasabah. Tujuan check up ini adalah memastikan jumlah pemasukan calon nasabah lebih besar dari pengeluaran.

Berikut ini ada tiga skenario yang dirancang untuk membantu calon nasabah memilih produk perbankan yang sesuai.

Skenario pertama

Di skenario ini, calon nasabah berusia 30 tahun, belum berkeluarga, dan memiliki penghasilan antara Rp 5 juta hingga Rp 10 juta per bulan.

Kepala Divisi Liability Product Bank OCBC NISP, Untung Kurniawan, memprediksi, nasabah seperti ini bisa menghabiskan 40%–50% gaji untuk kebutuhan biaya hidup dan lifestyle. Jadi, duit yang bisa disimpan sekitar 50%–60%. Untung menyarankan nasabah seperti ini membuka tabungan konvensional dan tabungan masa depan atawa lazim disebut tabungan rencana.

Perinciannya, 10%-20% dari penghasilan disimpan di tabungan rencana. Dan, bagian terbesar disimpan dalam tabungan konvensional, yang bisa diambil kapan saja untuk keperluan rutin atau mendadak.

Manfaat dari tabungan rencana, seseorang bisa belajar disiplin menabung secara reguler dalam nilai tertentu. “Tabungan rencana biasanya juga dileng-kapi dengan asuransi yang bisa menjamin nasabah jika terjadi musibah,” ujar dia.

Tabungan rencana pun menawarkan bunga sedikit lebih tinggi dari tabungan biasa. Tapi karena nasabah belum berkeluarga, saran Untung, nasabah memilih tabungan rencana jangka pendek 2 tahun-3 tahun.

Skenario kedua

Calon nasabah dalam skenario ini berusia 40 tahunan, sudah berkeluarga dengan dua anak, dan berpenghasilan Rp 10 juta–Rp 20 juta sebulan.

Risza Bambang, Presiden Direktur Padma Radya Consulting, menyebut, calon nasabah di skenario kedua memiliki pengeluaran rutin bulanan untuk cicilan rumah, dana pendidikan anak, dan dana pensiun. “Di usia yang tidak lagi muda, dana pensiun menjadi kebutuhan,” katanya.

Dana pendidikan anak juga tidak bisa diabaikan calon nasabah. “Dalam menyiapkan dana pendidikan anak, kita perlu menghitung laju inflasi di masa datang,” tambah dia. Risza menyarankan nasabah seperti ini menyediakan dana darurat antara sembilan hingga 12 kali dari pengeluaran rutin per bulan.

Untung menilai, nasabah dalam skenario kedua bakal menghabiskan sekitar 70% penghasilan untuk membayar cicilan rumah, mobil, dan kebutuhan rutin yang lain.
Untung menyarankan, alokasi tabungan pendidikan anak sekitar 20% dari penghasilan.

Setelah kebutuhan hidup, cicilan, dan tabungan pendidikan aman, nasabah bisa menyimpan sekitar 5%–10% penghasilan dalam tabungan pensiun. Keluarga nasabah seperti ini juga harus menyiapkan duit tunai untuk kebutuhan darurat selama 5 hari hingga 7 hari.

Skenario ketiga

Calon nasabah dalam skenario ini memiliki profil: berusia sekitar 50 tahunan, atau menjelang masa pensiun, dan penghasilan Rp 50 juta per bulan.

Menurut Untung, nasabah seperti ini biasanya hanya menyimpan maksimal 20% dari penghasilan di tabungan. Dan, porsi terbesar penghasilan nasabah macam ini seharusnya ditaruh di instrumen investasi.

Alasan Untung, pengeluaran yang menjadi prioritas si nasabah sekadar pengeluaran rutin dan darurat semisal pemeriksaan kesehatan dan pengobatan. “Pemilihan produk investasi disesuaikan dengan karakter nasabah,” kata dia.

Ivy menilai, kebanyakan nasabah lebih cocok dengan produk investasi yang memiliki karakter risiko rendah. Ia memberi contoh, investasi reksadana pasar uang atau obligasi. Hanya nasabah yang agresif dan berani mengambil risiko, serta punya jangka waktu investasi panjang, yang cocok dengan reksadana saham.

Risza menambahkan, nasabah dalam skenario ketiga ini biasanya sudah memiliki gaya hidup atas. Dan, jika si nasabah tidak waspada, kebiasaan itu bisa membahayakan kondisi keuangannya sendiri.

Risza menyarankan, nasabah seperti ini memiliki produk perbankan yang memberikan fasilitas asuransi jiwa. Nilai pertanggungan disesuaikan dengan profil nasabah.

Mulai investasi

Setelah Anda selesai mempertimbangkan keranjang penyimpanan duit yang paling pas, kini ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan.

Misalnya, nasabah perlu mencermati segala ongkos atau uang administrasi yang dipungut oleh bank. Kalau tidak mau menanggung rugi ongkos administrasi, pilih saja bank kecil sebagai tempat menabung.

“Lakukan perbandingan antara ongkos dan manfaat dari beberapa bank untuk melihat bank mana yang paling cocok buat Anda,” jelas Risza.
Ia menyarankan, nasabah memperhatikan faktor keamanan serta kemudahan menarik dana. Menurut Risza, kerap terjadi nasabah memiliki tiga rekening di bank yang berbeda, dengan tujuan berbeda. Satu rekening berfungsi untuk menyimpan dana darurat.

Rekening kedua berfungsi sebagai kasir atau juru bayar atas kebutuhan jangka pendek semisal kebutuhan sehari-hari. Dan, rekening terakhir sengaja mengendon di satu bank karena nasabah memperoleh fasilitas kredit dari bank tersebut.

Sumber