BATIK PEWARNA ALAM: Eksotis dan Ramah Lingkungan

ANGGUN — Salah satu kreasi busana dengan bahan batik pewarna alam produksi Batik Warna Alam Rosso. (JIBI/SOLOPOS/dok)

Kerusakan lingkungan yang kian parah ikut membangkitkan kesadaran untuk membuat produk ramah lingkungan. Salah satunya batik dengan pewarna alam. Warna alam yang lembut pada batik memancarkan pesona eksotis, ramah lingkungan dan memberi kesan ketimuran.

Dengan latar belakang itulah, Surosso menggarap batik warna alam di kawasan Banguntapan, Bantul, Yogyakarta sejak 2005 lalu. Mode cutting asimetris dan desain pecah pola pun dilakukan oleh Suroso alias Rosso dengan Batik Warna Alam Rosso miliknya.

Produsen batik yang menggunakan bahan baku dari kulit kayu, daging kayu dan daun-daunan untuk dasar pewarnaan batiknya ini membuat busana siap pakai dengan teknik jumputan maupun batik cap. Hasilnya warna-warna natural seperti cokelat, kuning, pink pucat, hijau muda, abu-abu dan ungu tampil lebih elegan dengan sentuhan batik cap atau teknik pewarnaan alami.

CERIA — Model yang menggunakan batik pewarna alami dari Batik Mahkota, Laweyan, Solo. (JIBI/SOLOPOS/dok)

“Agar warna tak mudah luntur, kami mengunci warna dengan tawas dan kapur,” kata Suroso, yang juga merancang busana ready to wear. Untuk memberi aksen pada busana batik warna alam, Rosso memberi aksen lurik dari Pedan, Klaten. Dia juga memberikan detail origami, obi, aplikasi payet dan detail bervolume pada lengan maupun krah. Hasil rancangannya pun terlihat diperagakan pada acara Jogja Fashion Tendance dan Jakarta Fashion Week November 2011 lalu. “Untuk memberi nilai lebih pada batik warna alam, dia membuat desain baju dengan cuttingyang unik dan aplikasi yang serasi,” lanjut Rosso.

Hal tersebut juga dilakukan oleh Batik Mahkota Laweyan yang berlokasi di kawasan Kampung Batik Laweyan Solo. Namun gerai ini masih fokus memproduksi kain batik warna alam dan belum bermain di desain bajunya. “Kami menggunakan warna alam dari gambir, kayu tingi, indigo, serbuk tegeran dan kayu secang,” kata Alpha Febella Priyatmono, sang pemilik.

Untuk menampilkan warna yang lebih cerah, sambungnya, dia membuat variasi warna dari bahan alam dan membubuhkan sedikit pewarna kimia pada motif. “Namun ada juga yang murni menggunakan warna alam, seperti batik warna alam dari kayu tingi, gambir dan indigo.” Untuk motif, Batik Mahkota Laweyan mempertahankan motif-motif klasik dan sebagian motif kontemporer.

Diakui Alpha, dia baru satu tahun merintis produksi batik warna alam, namun dia siap memberikan workshop dan wisata batik warna alam di Kampung Batik Laweyan pada tahun ini. “Saat ini sudah ada lima titik di Kampung Batik Laweyan yang mengerjakan batik warna alam, di antaranya Batik Pulau Jawa, Batik Lor Ing Pasar, Batik Catleya, Batik Aryu dan Batik Mahkota,” jelas Alpha yang juga Koordinator Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan itu. JIBI/SOLOPOS/Eri Maryana

Sumber