Sehari di Amanjiwo

Oleh Bambang Isti

AKSES menuju ke tempat (suite) hunian. (Foto CyberNews / Isti)

APA yang dicari seorang wisatawan manca ketika berkunjung di Indonesia? Adalah sesuatu yang tidak pernah ada di negaranya bukan? Amanjiwo, sebuah resor hotel bertaraf dunia memberikan totalitas itu.

Ketika banyak hotel berbintang menyajikan local genius di tengah kota dan bahkan terkesan artifisial, Amanjiwo justru sebaliknya: menyajikannya di pelosok desa, apa adanya.

Berada di lereng pengunungan Menoreh dan dilingkungi gunung seperti Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro dan sebelah selatan Candi Borobudur. Resor persisnya terletak di Desa Majaksingi, Kecamatan Borobudur, Magelang.

Berdiri Mei 1997, selama lebih dari satu dasawarsa, Amanjiwo, yang berati jiwa yang aman dan tentram (peaceful soul) menjadi sebuah resor wisata yang telah memikat perhatian dunia.

Fakta adanya jumlah 3.59 juta wisman mengunjungi Indonesia pada semester pertama 2011 atau naik sebesar 6.42 persen, Amanjiwo diyakini memberikan kontrubusi untuk kenaikan itu. Terlebih setelah Menbudpar Jero Wacik, mencanangkan program desa wisata di seluruh Indonesia, dimana mempotensikan kekuatan turistik di desa-desa.

Desa Majaksingi dengan jalan desa yang berkelok, di kanan kiri rumah-rumah penduduk lengkap dengan jemuran pakaian, kandang-kandang ternak, jemuran tembakau dan sungai-sungai kecil, dibiarkan apa adanya bisa dinikmati tamu Amanjiwo.

Faktor privacy juga yang membuat akses masuk menuju Amanjiwo Resorts menjadi sedikit “menyusahkan” karena tidak ada petunjuk jalan untuk menuju ke lokasi. Inilah yang disebut Mark Swinton General Manager Amanjiwo sebagai “kembali ke rumah” dengan layanan dari keluarga dan teman dekat.

“Justru itu yang dicari oleh tamu-tamu kami, karena itu kami sering diminta mengantar mereka mengunjungi industri-industri rumahan milik penduduk,” kata Winny Aditya Dewi, Personal Assistant to General Manager Amanjiwo.

Bagaimana Amanjiwo bisa memberikan pengalaman baru yang selama ini belum pernah didapat oleh para wisatawan manca, itu adalah misi utamanya. “Kami tidak berharap banyak dengan segala apresiasi dan penghargaan, yang kami inginkan adalah seorang tamu bisa bilang, terimakasih hotel ini telah banyak memberikan saya pengalaman baru dan unik,” timpal Mark Swinton, General Manager Amanjiwo.

Kerahasiaan tamu

Amanjiwo bisa saja tidak tercantum di peta wisata Indonesia, tapi ia malah tercantum di peta wisata dunia. Berkantor pusat di Singapura, Amanresorts Corporate Office gencar berpromosi di negara-negara Asia Pasifik, Eropa, dan Amerika Utara.

Fakta ini dilihat dari tamu penginap yang lebih didominasi wisatasan manca ketimbang domestik. Kabar santer beredar di masyarakat, bahkan bintang film seperti Richard Gere, David Beckham dan keluarganya pernah menginap di Amanjiwo.

Namun pengalaman banyak selebriti dunia di resor itu, tak pernah terus terang diakui. Menjunjung tinggi permintaan sang tamu agar privasinya benar terjamin jika menginap di hotel ini, itu yang membuat manajemen Amanjiwo menjaga untuk merahasiakan siapa saja selebritis dunia yang pernah tinggal di Amanjiwo.

“Kami tidak bisa menjelaskan siapa saja yang pernah menginap di sini, karena itu sudah komitmen kami dengan para tamu,” kata Winny Aditya Dewi.

Winny benar. Kerahasiaan itu amat dijunjung tinggi dan berlaku untuk Aman Resorts baik di Indonesia maupun di Thailand, juga di Amandari (Bali), Amankila (Karangasem, Bali), Amanusa (Nusa Dua), dan Amanwana (Pulau Moyo, NTB). “Karena sebenarnya kami mengutamakan privacy, sehingga promosi pun kami hanya dari mulut ke mulut, tidak terdapat di brosur wisata,” lanjut Winny.

Memiliki banyak resor, menjadikan manajemen Aman punya keleluasaan untuk menjual kekuatan lokal di masing-masing kawasan. Atmosfer lokal itu tidak saja dari karakter pelayanan tapi juga arsitekturnya.

Berbeda dengan yang ada di Bali atau NTB, arsitektur Amanjiwo di Magelang terispirasi oleh Candi Borobudur. Termasuk bagaimana menata kubus-kubus tembok yang seolah hanya direkatkan saja, seperti yang ada di Borobudur.

Dirancang oleh arkitek Edward Tutle, bangunan utama berbentuk mirip stupa utama Borobudur. Sedangkan kamar hunian, bukan berupa room tapi berwujud  cottage sebanyak 35 suite room dengan 2 Dalem Jiwo (kamar utama) yang melingkari bangunan utama (Rotunda Bar) dimana para tamu melakukan check in.

Akses menuju ke masing-masing suite pun, memalui tangga, mengingatkan kita pada saat menaiki puncak Candi Borobudur.

Pengalaman Baru Berspirit Jawa

SALAH satu sudut Dalem Jiwo.

DUA anak gadis berkain dan berbaju kebaya terlihat asyik bermain dakon, sebuah permainan anak khas Jawa Tengah. Mereka terkesiap begitu melihat sepasang tamu wisman masuk koridor yang menghubungkan ruang utama Amanjiwo. Kedua gadis itu lantas berdiri berjajar dan memberi salam.

Di sudut yang lain, dua lelaki tengah bermain gender, sebuah alat musik karawitan Jawa yang ber-tone rendah. Gender itu terus dimainkan lambat dan perlahan, kadang hilang tersapu embusan angin yang bebas menerobos pilar-pilar berbahan batualam.

Dakon dan gender, adalah spirit Jawa yang mengawali perjalanan para tamu Amanjiwo berlabuh pada sebuah pengalaman baru. Totalitas mengangkat nuansa Jawa secara apa adanya ini akan dialami pengunjung begitu tiba.

Sebelumnya para tamu dijamu ginger beer, welcome drink khas Amanjiwo yang menyentak tenggorokan, namun hangat. Seolah ini adalah bentuk kehangatan pemilik rumah menyambut tamu dengan tegur dan sapa. Lantas Mark Swinton, General Manager Manjiwo, sang pemilik rumah itu, menyambut mereka dengan keramahan.

Sebagaimana resort hunian lain, Amanjiwo juga siap dengan fasilitas yang akan memanjakan para tamu. Fasilitas itu berupa butik, bar, galeri seni, arena gim, spa, kolam renang, lapangan tenis, perpustakaan, dan kamar yang berkonsep cottage sebanyak 36 suites lengkap dengan swimming pool dan Dalem Jiwo Suite yang membingkai bangunan utama Amanjiwo.

Untaian tempat hunian yang didesain menyerupai stupa-stupa itu misalnya Garden Suite dengan harga US$ 750, Borobudur Suite (US$ 850), Garden Pool Suite (US$ 950), Borobudur Pool Suite (US$ 1.050) dan Dalem Jiwo Suite (US$ 2.700). Tempat-tempat ini tentu memiliki fasilitas dan spesifikasi yang berbeda-beda.

Kenapa mahal? “Karena kami memberikan layanan yang bersifat personalize kepada setiap tamu, baik yang sekadar singgah atau pun yang menetap. Untuk tiap kamar tinggal, disiapkan lima orang staf untuk mengelolanya dari jumlah total 146 staf yang ada,” kata Mark Swinton, General Manager Amanjiwo.

Hamparan ladang

Setiap kamar nyaris terbuka tanpa tutup, karena dibiarkan banyak jendela untuk memberi kesempatan mata memandang hamparan ladang, pegunungan, Candi Borobudur dan Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro dan Sumbing.

Sebelum sampai di kamar, saat berada di Rotunda yang ada di bangunan utama pun, tamu bisa langsung menikmati panorama Candi Borobudur dari di kejauhan. Setelah sebelumnya mata menyapu lukisan adegan dari epik Hindu yakni Mahabarata di tembok.

Mark Swinton menjelaskan, jika mampir di butiknya, semua produk yang dijual di Amanjiwo merupakan produk-produk lokal, seperti batik, wayang, yang banyak berasal dari Yogyakarta.

Jika Candi Borobudur menjadi inspirasi, rupanya totalitas itulah yang ada di Amanjiwo.

Maka seperti hanya Borobudur, “Bahan-bahan yang dipakai sebagai material pembangun resor juga lebih banyak berasal dari alam, contoh batu alam untuk semua space lokasi resor dan juga atap ilalang,” lanjut Mark Swinton.

Semua produk yang dijual di Amajiwo merupakan produk-produk lokal, seperti batik, wayang, dll yang banyak berasal dari Yogyakarta.

Akses menuju ke suites pun harus melalui lorong bertangga yang mengingatkan orang saat berkunjung ke Candi Borobudur. Lorong ini bisa langsung menuju ke hamparan lahan pertanian (Rice Field) milik Amanjiwo. Produk pertaniannya dibudidayakan oleh penduduk sekitar, berupa tanaman tembakau, terung, kacang-kacangan, kedelai, dan ubi.

Lahan pertanian di sini digarap oleh penduduk setempat dari Desa Majaksingi, Pakem dan Tuk Songo, sehingga penduduk setempat merasa memiliki Amanjiwo.

Soal masyarakat sekitar ini pun Mark Swinton mejelaskan, “Ladang pertanian yang menyatu dengan lingkungan resor, membuat kami dekat dengan masyarakat sekitar. Kami bisa memberi kesempatan penduduk sekitar untuk ikut merawat ladang pertanian yang ada di sekitar lokasi Amanjiwo,”

Sumber 1 dan Sumber 2